Follow Me @arhana.handiana

@arhana.handiana

Jumat, 27 September 2019

ODOP for Today

Assalamu'alaikum...
Sahabat PeKat apa kabar? Alhamdulillah, semoga kebaikan dan kebahagiaan senantiasa menyertai sahabat semua. Allahu yubarik fiik, aamiin...

Sudah dua hari stag, rasanya seperti ada yang salah dan kurang. Meski tidak tahu pasti apa dan kenapa, ada baiknya kita abaikan dulu saat ini. Karena mendadak ada ide meluncur patas untuk segera Arhana sampaikan ke sahabat semua.

Setelah berlayar dari satu komunitas ke komunitas lain, akhirnya aku terdampar juga di pantai ODOP. Maka, nikmat Allah mana lagi yang hendak kamu dustakan? Semua ini tentu tak lepas dari skenario indah dari Allah, betul tidak?

Mungkin sebagian dari kalian bertanya, apa sih ODOP? Yang aku lebih memilih tidak menjelaskan lebih jauh tentangnya di ruang ODOP milikku. Nah, malam ini tiba-tiba aku sudah tidak sabar ingin membagikan pengalaman selama tiga pekan berdiam di satu ruang rindu, eh bukan. Ruangan ODOP ya sahabat.

Mulai dari Sini

Aku kenal ODOP awalnya dari sahabatku. Entah dia alumni ODOP batch berapa. Aku tidak tahu. Tapi kami akhirnya bisa saling support dalam dunia literasi secara langsung saat mengikuti event Ramadan Writting Challenge (RWC) yang diselenggarakan oleh ODOP. Bisa dikatakan RWC adalah pintu gerbangku untuk masuk lebih dalam ke dunia ODOP. Sekali lagi, ini adalah skenario Allah. Yang sudah mengenalkanku secara perlahan.

Tadinya aku sebatas tahu, ODOP, One Day One Post. Sudah segitu saja. Kemudian mulai mengikuti feed yang dibagikan di platform media sosialnya, instagram. Dan pelayaranku pun dimulai. Bertanya ini itu kepada sahabatku tadi tentang ODOP. Meski sebenarnya aku belum juga bisa fokus pada informasi-informasi yang kugali. Tapi itu menjadi sebuah kumpulan cerita yang hari ini akhirnya bisa kurangkai. Sebagai penggalan sejarahku di dunia literasi.

Tentang Ramadan Writing Challenge (RWC)

Ini adalah tantangan menulis setiap hari selama 30 hari. Peserta yang telah terdaftar di program ini dimasukkan ke WhatsApp Group utama dan grup kecil. Aku dulu masuk grup apa ya? Lupa. Sebentar tengok dulu ke salah satu post-nya ya. Barangkali ada. Tapi sayangnya tidak ketemu, dan aku masih ingat belum keluar dari grupnya. Aku dulu masuk grup Aisyah. Hai, squad RWC dari grup Aisyah ... Apa kabar?

Di sana kami didampingi oleh banyak PJ dari ODOP. Eum, ada apa saja ya dulu di grup? Yang paling aku ingat adalah setoran dan laporan. Terus kami (baca: para peserta) ini akan saling ramai di masing-masing post yang kami kunjungi. Saling menyambangi tulisan teman membuat kami semakin kaya. Yes, kalian benar. Kita akan semakin kaya diksi, juga kaya informasi, yang insyaallah teman-teman akan bertanggung jawab dengan tulisan mereka.

Untuk laporan, kami disediakan formulir on-line base on google form. Diantara poin yang harus kami isi adalah nama lengkap (berupa daftar gulir), nama grup, nomer whatsapp, tema yang disetorkan. Sebenarnya di sini akan ketahuan, siapa yang rapelan atau tepat waktu. Cuma menurutku kekurangan dari cara ini adalah di kontrolnya. Peserta enggak bisa ikut memantau, apakah sudah laporan atau belum. Ya minimal untuk cross-check miliknya sendiri. Gara-gara ini aku sempat bersitegang sama PJ. Karena beberapa peserta mengeluhkan laporannya, sudah masuk atau belum, sudah lengkap atau belum. Termasuk aku sih. Hehehehe ....

Tapi kemudian berbagai usulan tidak diaminkan sebab mungkin itu sudah menjadi kesepakatan panitia. Jadi, semacam apa ya? Latihan kita tuh double gitu ya. Enggak cuma yang nulis, share, terus laporan. Tapi juga bagaimana mengelola emosi, latihan problem solving, dan bisa jadi juga itu untuk latihan konsentrasi. 😄 Terlalu tinggi ya analoginya. Ya tidak apa-apa, namanya juga usaha untuk husnuzan. Tapi, siapa tahu juga jadi bahan evaluasi panitianya. Hehehehe ....

Sudah yuk, balik topik ....
Peak-nya, kami menunggu informasi pendaftaran ODOP untuk batch #7. Dan alhamdulillah, rezeki ini datang di waktu yang tepat. Memang kan? Semua itu akan menghampiri kita di saat yang tepat menurut Allah. Makanya, kita tuh mestinya minta sama Allah, semoga apa yang kita ingini itu juga sesuatu yang Allah ridai untuk kita, gitu.

Pendaftaran ODOP

Ada yang masih ingat proses pendaftaran kemarin seperti apa? Aku sedikit lupa.

Oiya, kita bikin dulu tulisan tentang menulis adalah duniaku kemudian dibagikan ke instagram sebagai feed. Kita harus menyertakan hastag tertentu juga menandai akun komunitas ODOP dalam postingan. Soal hastag dan menandai mungkin tidak jadi soal berarti ya. Tapi, bagaimana dengan tulisan yang harus dibagikan itu. Eum, daftar hampir mendekati deadline bukan lah pilihan terbaik. Tapi, mau bagaimana lagi. Sempat terpikir untuk menyerah, mungkin belum rezeki belajar di sana. Tapi ternyata takdir berkata lain. Aku pun membuat tulisan itu dalam sekali duduk dan membagikannya seketika.

Setelah terkirim, bahkan aku lupa kapan harus menyimak pengumuman. Setelah itu ngapain? Sama sekali tidak ada bayangan di kepalaku. Karena memang saat itu aku sedang mempersiapkan laporan akhir bulan. Maka, lupakan semua hal di luar tugas publik ini.

Lolos Seleksi Awal

Ketika pengumuman rekap nama yang sudah berhasil mendaftar, aku pikir sudah pengumuman final. Ternyata masih harus menunggu beberapa hari lagi. Baiklah, aku akan menunggu. Pasti.

Tapi sahabat, ternyata setalah itu aku benar-benar tidak ingat akan menengok lagi, apakah sudah pengumuman atau belum. Sampai kemudian salah satu panitia yang sekarang merupakan salah satu PJ di kelompokku, menghubungi melalui pesan chat pribadi. Semacam surat formal gitu.

Isi pesan itu adalah ucapan selamat atas keberhasilanku lolos di seleksi awal pendaftaran ODOP. Kemudian aku dipersilakan masuk ke grup utama melalui pranala yang sudah dibagikan, terlampir dalam pemberitahuan tersebut.

Saat itu yang terlintas di benakku bukan yang bahagia aku sudah lolos gitu, enggak. Aku malah bertanya sendiri, hah? Serius ini, masih seleksi awal. Ada seleksi lanjutan dong berarti. Akan seperti apa seleksinya?

Oiya, dalam edaran itu juga dicantumkan bahwa selama dua bulan ke depan, aku akan mengikuti sebuah perjalanan. Semacam karantina. Di dalamnya akan ada program belajar dan tantangan. Kalau aku bisa melewati tantangan di setiap pekannya, maka aku akan lolos pada pekan berikutnya dan seterusnya. Eh, tapi ini aku tahu setelah masuk grup utama sih sahabat. Jadi, sebelumnya juga enggak tahu, bakal seperti apa kita di dalam sana. Tapi, so far yakin aja kalau aku bakal melewati ini dengan berhasil.

Yo pasti enggak mulus begitu sih ya. Seperti dua hari ini aja contohnya. Aku sudah seperti yang mau nyerah aja. Ide menulis kabur entah ke mana. Kalau pun ada, aku enggak nemu feel-nya. Jadi semisal nulis pun rasanya hambar. Kaya kalau masak enggak dikasih garam. Bayangin aja sendiri rasanya gimana. Asli enggak enak seperti itu. Kenapa? Karena kita punya kebutuhan yang harus disalurkan dengan tuntas. Kalau enggak, dia bakal jadi semacam ancaman dalam diri sendiri. Ya, bisa saja wujudnya semacam enggak mood lah, enggak fresh, berasa kaya ada yang kurang aja. Jadi, makanya itu, paksa, paksa dan paksa. Nulis tuh juga harus dipaksa.

Setelah Tiga Pekan

Tak terasa purnama hampir saja kembali menyapa. Tiga pekan berlalu menghasilkan beragam coretan dariku. Entah apa saja isinya. Semoga saja sesedikitnya ada manfaat yang bisa diambil oleh sahabat PeKat.

Setelah berhasil melewati dua tantangan, akankah aku menyerah di sini? Saat aku harus menggenapkan tantangan ketiga, untuk dapat lolos ke pekan berikutnya? Oh, tidak! Meski rasanya seperti mengecap trauma. Aku cenderung meresponnya secara berlebihan, seperti ada getaran tak biasa di dada sebelah kiri. Iramanya tak tentu seperti habis lari sprint. Padahal aku sendiri sudah lama tak melakukan itu. Tiba-tiba saja telapak tanganku berkeringat, seolah aku sedang merasa gugup menghadapi tes interview, padahal wawancara saja belum pernah kulakukan.

Ya, tantangan pekan ketiga itu membuat resensi atau review. Aku pikir, kita harus bikin resensi. Tak ada lagi di kamusku akan membuat review  kali ini. Ternyata ada pandangan yang kurang detail kali ini. Baiklah, aku harus mengakui bahwa diriku lelah. Hehehe ....

Sehemat penjelasan PJ malam ini. Beda resensi dan review secara lebih mudah. Bahwa review lebih ke pengalaman kita saat membaca sebuah buku. Oh, berarti seperti yang kubuat selama ini. Pikirku mengamini.

Dan mari kita kemas, kecemasanku menjadi sebuah cerita dalam review buku yang kupilih nanti. Aku sepertinya sudah mulai menemukan, akan membuat review  apa. See you on my coffee room. Kamu akan menemukan beragam cemilan dan minuman sebagai pelengkapnya. Mungkin bukan snack seperti yang biasa kalian timbang di toko kue. Tapi ia lebih mirip lapis-lapis kebahagiaan. Temukan bahagiamu di setiap bait dan barisnya ....

Ruang Virtual Bernama Sapporo

Sejak kehadiran kami di kota ini. Aku merasa ada yang lain. Tapi entah apa. Aku belum bisa menemukannya secara penuh. Tapi aku percaya, teka-teki tidak selamanya akan menjadi semisterius di awalnya. Jawaban perlahan akan terungkap. Seiring keseriusan dan ketelitianmu dalam menyelesaikan setiap persoalan.

Awalnya aku terkesima dengan nama ruang virtual ini. Kenapa dinamai Sapporo dan disertai emoji berkaca-kaca. Ketika aku bertanya, hampir semua PJ sepakat melimpahkan jawaban kepada seorang PJ. Entah dari mana datangnya, tetiba dia memberiku satu kata pada pesan di saluran pribadi. Dan jawabanku pun mengalir begitu saja.
Hujan?
Gerimis yang tak pernah usai
Meski basahnya telah bergantu kering di antara kaki langit
Sebelum pembagian kelompok ini, aku masih sangat berharap bisa satu kelompok lagi dengan teman-teman dari grup Aisyah. Dan sempat khawatir aku sulit beradaptasi dengan anggota baru. Tapi ternyata, atmosfer di Sapporo lebih dominan dari rasa takutku. Sehingga aku justru merasa lebih fleksibel di sini. Dan merasa menemukan keluarga baru, bernama Sapporo.

Sejak awal menginjakkan kaki di sana. Aku sudah lebih dulu ingin bertanya ini dan itu. Dan ternyata, semua itu bersambut dengan keramahan semua PJ. Mereka mungkin saja sepakat menjadikan Sapporo ruang yang lebih nyaman untuk kita. Diskusi dari segala macam jenis bahasan, sampai candaan yang kadang tak tahu malu membuatku geli seketika. Tak jarang aku tertawa menyaksikan kekonyolan teman-teman segrup ini. Ya, seperti harapan semua PJ. Semoga kami lolos sampai akhir. Menjadi bagian keluarga besar ODOP.

The Last But Not Least

ODOP bukan hanya sekedar membuat blog kemudian membagi tulisan lantas berulang.

ODOP juga bukan hanya sekedar membentuk seseorang menjadi blogger minded.

ODOP juga bukan sekedar membuat seseorang pandai membagikan hal yang bermanfaat.

Lebih dari semua itu.

ODOP juga mengajarkan kita untuk saling membantu, mendukung, dan memberi semangat. Berbagi ilmu juga membangun karakter.

ODOP memberimu banyak ruang untuk bisa berkreasi. Menyesuaikan bahasa kreatifmu. Karena mungkin masing-masing dari kita memiliki hal yang berbeda. Seperti halnya bahasa cinta.

Meskipun ODOP bukan satu-satunya. Tapi memiliki teman yang seasa dan sevisi akan membuatmu lebih nyaman bergerak. Lebih kokoh dalam menegakkan istiqomah. Karena satu sama lain tahu bagaimana merasakan. Jadi saling menopang dan memberi dukungan adalah bekal untuk bisa berdiri sama tinggi. Maka, kearifan pada diri masing-masing supaya tetap dan terus bertumbuh sesuai fitrah dan kemampuan yang sudah Allah install.

Selamat berkarya dan berjuang teman-teman ODOP #7

Sampai jumpa di coffe break berikutnya.

Kediri, 27092017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar