Menulis

 REKONSTRUKSI YANG TERLUPAKAN
Beberapa pekan terakhir ini aku lebih cenderung pada cara berpikir analitis. Dimana aku mencari keterkaitan antara tema satu dengan yang lainnya. Karena secara sekilas semua ini tidak ada hubungannya. Dan bahkan, menurut si empunya project pun, semua keyword yang dihadirkan tidak memiliki keterkaitan istimewa satu sama lain. Mereka hadir, murni hanya untuk satu tujuan, meramaikan kembali medsos yang mungkin sudah berlaba ini.

Well, tapi bagi kami para peserta challenge-nya mengapresiasi lebih. Sebab kami merasakan manfaat yang tentu saja tidak hanya sekedar meramaikan feed instagram. Melainkan ada habit yang sedang dibangun. Juga ada keahlian yang sedang diasah.

Lalu, kenapa kemudian memunculkan satu tema seperti tema ketiga belas ini? Alasannya ternyata hampir sama dengan yang kugumamkan. Jarang ada yang mengangkat temanya. Padahal, sosoknya adalah pelengkap pembangun peradaban. Tanpanya, pembangunan akan menghadapi persoalan rumit. Sebab ia adalah publik figur pertama bagi anggota peradabannya. Terutama anak-anak.
---**---
Masih tentang menulis. Sesuatu yang tak pernah usang untuk menghadirkan ide-ide berbagi. Selalu ada saja yang kupikirkan ketika berhadapan dengan kata menulis.

Banyak hal yang terjadi antara aku dengan menulis. Sehingga sedikit stimulus sudah bisa melahirkan respon yang beraneka ragam. Salah satunya adalah hari ini.

Lagi-lagi aku mengingat sesuatu untuk bisa kubagikan. Akan tetapi aku kehilangan memori utama untuk memulai sebuah percakapan. Mungkin, dari cuplikan sederhana di atas, aku akan memulai.
___**___

Ramadan tahun ini bukan hanya sangat sibuk, tapi aku justru menambah kesibukan itu dengan aktivitas lain. Kegiatan yang menurutku akan semakin melengkapi kesibukanku. Karena aku memang perlu aktivasi sistem saraf untuk kembali produktif. Oleh karena itu, aku memilih untuk mengikuti beberapa challenge sekaligus. Meski dalam hal ketuntasan, awalnya aku ragu bisa menyelesaikan.

Event kali ini aku lolos di dua challenge. Artinya selama kurun waktu yang mereka (baca: penyelenggara) tentukan, aku akan membuat sebuah tulisan sesuai dengan tema yang sudah ditentukan.

Pada mulanya aku berpikir, jika hanya ada satu challenge, itu berarti aku hanya akan menghasilkan satu tulisan sehari. Tapi jika lebih maka tulisanku pun akan lebih banyak. Kali ini aku tidak bicara soal kualitas. Tapi lebih pada apa yang akan terjadi saat kita menulis.

Well, akhirnya dua challenge membawaku pada pemaksaan sekaligus pembiasaan. Meski pada awalnya salah satu challenge yang kuikuti itu hasil dari "keisengan" pemilik ide. Namun kemudian justru berbuah sesuatu yang manis dan luar biasa. Memang masa challenge hanya berkisar 15 hari. Tapi itu sudah menjadi moment yang luar biasa bagi kami (baca: peserta).

Entah apa yang menjadi motivasi teman-teman. Bahkan tanpa kritik dan saran, mereka saling menyemangati untuk terus berkarya setiap hari. Tidak ada alasan hari itu abstain, kecuali memang ada uzur. Jadi, peserta ini yang inisiatif saling berkunjung, komentar, dan ngobrol hangat. Penyelenggara tidak ada sama sekali aturan ketat yang menjerat. Semuanya mengalir begitu saja.

Tapi, apakah kalian tahu? Sesuatu yang sederhana itu membekas dalam. Enggan untuk diakhiri, bahkan menginginkan follow up yang tak kalah menariknya. Akan tetapi, karena memang ini event individu, kami tetap menghormati keputusan bahwa masa challenge memang sudah berakhir.
___**___
Kata Arhana,
Menulis itu memang butuh dibiasakan. Dan apa kalian tahu? Ketika kita berjalan beriringan dengan mereka yang memiliki minat sama, jauh lebih menyenangkan dan semangat. Daripada kita menjalani project sendirian. Pada akhirnya burung berbulu sama akan berkumpul dengan kelompoknya. Tak peduli jauh atau dekat, jika memiliki visi yang sama tentu akan semakin erat.

Jadi, challenge menulis bareng itu sebenarnya diperlukan. Meskipun inti dari dunia tulis adalah pembiasaan.
___**___
Siang itu, selepas menghadiri workshop kepenulisan, aku bertemu dengan salah satu dosen penguji waktu sidang proposal. Bukan hanya itu, Beliau juga termasuk dosen pembimbing pendamping saat pengerjaan tugas akhir. Meskipun intensitas bertemu dan ngobrol kami pada saat itu sangat terbatas. Entah karena apa, tapi yang kuingat karena memang saat itu aku hanya menjadi mahasiswi kupu-kupu (kuliah-pulang).

Jarang dan bahkan tidak pernah terpikir olehku, bisa berlama-lama ngobrol dengan Beliau. Tapi, dari sekian banyak kalimat yang kami tuturkan, ada satu kalimat yang paling mengena untukku.
Pelatihan Menulis itu, ya Menulis itu Sendiri.
Dalam keterpanaan aku memahami kalimat itu, Beliau kembali berkisah tentang perjalanannya dalam mengasah skill menulis. Di sini aku semakin yakin, bahwa menulis bukan perkara bakat. Tapi kemauan dan kesungguhan. Sebab soft skill itu akan mengikuti siapa saja yang tekun dan ulet dalam berusaha.

Pulang dari istana sederhana nan menyejukkan itu, aku berasa ditampar berulang kali. Sudah berapa banyak pelatihan yang kuhadiri? Sudah berapa banyak aku menghabiskan tabungan untuk mencapai harapan, menjadi penulis. Tapi sampai detik ini, belum ada satu pun karyaku yang bisa dinikmati. Lalu, apa yang selama ini kulakukan?

Sepanjang jalan aku bergumam dan berbantahan sendiri. Sampai tak sadar, aku keliru memilih jalan. Sehingga memerlukan banyak waktu untuk sampai di rumah kos temanku.

Ketahuilah, pertemuan itu tidak hanya sekedar bincang soal menulis. Dan bukan sekedar apa yang sedang kita perbincangkan pada saat itu. Tapi, esensi dari sebuah makna ucapanlah yang membuatku termangu sekian lama.

Aku ingat-ingat lagi, betapa aku sudah sampai di titik ini. Dan menulis masih menjadi sesuatu yang sangat berharga untuk sekedar diperbincangkan. Karena bagiku menulis itu seperti the apple on my eyes. Dia luar biasa. Menulis pun menjadi subjek terakhirku saat mengerjakan tugas akhir.
___**___

Ya, setiap orang memiliki fitur berbeda. Dan kesemuanya itu sudah Allah install pada diri kita masing-masing. Bagaimana kemudian kita bisa mensyukuri nikmat itu, adalah PR bagi masing-masing dari kita.

Perbedaan inilah yang kemudian membuat usaha yang dilakukan setiap orang tidak sama. Seperti halnya tadi. Aku butuh banyak pelatihan dan belajar teknis untuk menghasilkan karya. Akan tetapi, jangan jadikan alasan kebutuhan itu untuk menunda aksi. Jadi, tidaklah salah selama apa yang kita lakukan tetap dalam koridor aturan Allah.

Kemudian, menulis itu bukan perkara biasa. Jika penelitian barat menemukan bahwa menulis adalah salah satu sarana merekonstruksi pikiran. Maka, menulis itu juga salah satu hal yang Allah perintahkan. Dalam ayat 3 - 4 surah Al-'Alaq, Allah berfirman, yang artinya
Bacalah, dan Tuhanmu Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantara kalam. 
Ayat inilah yang kemudian semakin membakar semangat untuk berbagi melalui pena. Meski masih tertatih, karena memang belajar berjalan pun awalnya juga dari "tatih" dulu. Jadi, proses itu memang harus dilakukan.

Namun, kita pun tak boleh lupa. Bahwa jika ada kebenaran yang tertutur dari kita, sesungguhnya itu hadir dari Allah. Sedangkan kesilapan yang muncul dalam setiap ucap, tulis maupun sikap itu datangnya dari kita sendiri. Semoga Allah meridloi, setiap tarikan nafas dan jejak pena kita yang diniatkan berbagi karena Allah ta'ala.

Wallahu a'lam bishshowab
___**___

Next, akan lebih banyak lagi bicara soal rekonstruksi dari hasil goresan pena. Semoga Allah mudahkan.

Sampai jumpa di dapur KataArhana

Assalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barokaatuh

Kediri, 13919

Related Posts

There is no other posts in this category.

6 komentar

  1. Aku suka nulis tapi belum punya buku karyaku sendiri :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. It's ok Kakak.

      Kita bisa berproses sama-sama yak... ^_^

      Hapus
  2. "Pelatihan Menulis itu, ya Menulis itu Sendiri".
    "Sebab soft skill itu akan mengikuti siapa saja yang tekun dan ulet dalam berusaha"

    dan penuturan kakak soal menulis memberikan udara segar bagiku.

    "Bacalah, dan Tuhanmu Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantara kalam. "

    seakan memberikan tamparan : "Wooooy menulis itu berasal dari mbaca, kalau pengen pinter nulis ya, harus pinter baca"

    hoalaaaah, sepertinya karena aku masih sulit membaca (suka ngantuk dan bosenan) makanya tulisan-tulisanku masih sebatas kuantitas, bukan kualitas.

    jujur membaca tulisan Kakak saja suka pengen langsung di scroll ke intinya, untungnya tidak, jadi aku bisa banyak belajar dari tulisan kakak.


    terimakasih ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama kak Ibrahim. Segala kebaikan itu datangnya dari Allah...

      So, let's read and learn together... Karena kita sama-sama sedang belajar ko...

      Hapus
  3. Menulis merupakan alat perjuangan untuk mengemukakan ide. Meskipun tidak mudah, meskipun harus tertatih, toh yang mau belajar jalan juga harus diawali dengan "Ratih" hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wowowowoow....
      Ada kakak Pramuka....
      Yups... Menulis adalah sarana.
      Terimakasih sudah mampir

      Hapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung, dan berkenan membaca artikel ini hingga selesai. Silakan berjejak untuk menjalin silaturahmi di dunia maya.

Salam,
-arhana-

Subscribe Our Newsletter