Follow Me @arhana.handiana

@arhana.handiana

Selasa, 17 September 2019

Menulis Itu

Menulis itu seni, seni menyampaikan ide, suara hati pun pikiran dalam bentuk tulisan. Apakah akan terbaca atau tidak, tidak jadi soal. Dan menulis itu adalah salah satu alat, untuk melahirkan apa-apa yang tak dapat kita sampaikan secara lisan.

Kalau menurut KBBI, menulis adalah 1) v membuat huruf (angka dan sebagainya) dengan pena (pensil, kapur dan sebagainya); 2) v melahirkan pikiran atau perasaan (seperti mengarang, membuat surat) dengan tulisan; 3) v menggambar, melukis; 4) membatik (kain).

Kalau menurut kalian, menulis itu apa?

Ada banyak cara pun media yang dapat kita gunakan untuk menulis sebagai seni ataupun alat. Salah satunya adalah blog. Akan tetapi, apakah kita sudah paham bagaimana etika berbahasa saat kita mulai menyampaikan opini? Tidakkah akan menjadi tabu, jika yang kita sampaikan nyatanya lebih tepat jika disimpan sendiri?

Meskipun demikian, ada banyak kasus yang dapat kita jadikan rujukan. Di mana catatan harian atau yang biasa kita sebut diary justru menjadi manfaat bagi orang lain. Ya, tentu saja bahasanya perlu dikemas ulang, diedit, diperbarui, dan layak untuk dijadikan bahan bacaan secara umum. Itulah mengapa, tulisan yang sudah kamu bagikan akan menjadi milik pembaca.

Terlepas dari etika. Kembali lagi pada media. Aku sendiri pernah mencoba berbagai media. Selain blog, aku pernah menggunakan Tumblr, kemudian ada Facebook, lalu ada path, line juga termasuk, dan yang sampai saat ini masih bertahan, instagram. Dari kesemua media sosial yang pernah kujelajahi, kenapa kemudian aku memilih instagram untuk tetap aktif berbagi?

Instagram lebih smooth bagi penulis pemula sepertiku. Kadang aliran pengembangan ide tak semulus semestinya. Aku butuh media yang lebih simple tapi cukup. Sedangkan blog, sempat menjadi primadona yang kemudian kubekukan. Karena di sini, aku butuh aliran yang cukup deras. Jumlah karakter yang kubutuhkan jauh lebih banyak, dari pada instagram.

Lain halnya dengan Tumblr. Media yang ini sebenarnya lebih friendly. Tampilannya yang seperti blog memberikan langkah nyaman tersendiri. Akan tetapi, karena sempat terjadi block, akhirnya mau tidak mau aku pun beralih.

Nah, kalau kamu suka pakai media apa untuk berbagi?
Satu pertanyaan yang melesak tak sabar untuk ingin segera menemukan jawabannya. Mengapa memilih menulis? Dan kenapa harus dibagikan? Apakah kemudian, semua hal yang dibagikan itu akan menuai manfaat? Bagaimana jika sebaliknya?

Pergolakan batin atau pun perang dingin semacam itu, seringkali menghantui langkah untuk melekaskan kita berbagi kisah. Kita tidak pernah tahu, titik mana yang ternyata bermanfaat bagi orang lain. Kita tidak pernah tahu, sampai kita telah membagikannya. Sebab, kacamata kita itu tidaklah mesti sama. Ada frame of experience (FOE) dan frame of reference (FOR) yang memengaruhi, sehingga tercipta perbedaan respon pada stimulus yang sama.

Iya, jadi kenapa aku memilih menulis?
Karena menulis menjembatani suara dan pikiranku untuk disampaikan kepada orang lain. Menulis juga membantuku mengurai berbagai ragam percakapan yang melintasi sinaps. Kadang, aku sungguh belepotan saat berbicara. Tapi dengan menulis, aku terbantu menata ulang apa yang harus aku sampaikan.

Kalian tentu tahu bukan, ketika seseorang hendak melakukan wawancara atau pidato. Mereka ada yang membawa kertas berisi poin-poin. Nah, itu salah satu manfaat dari menulis juga. Dia mengingatkan kita akan apa yang harus disampaikan. Agar wawancara atau pidato yang disampaikan tidak melebar jauh dari tujuan.

Sedangkan aku, meskipun kadang apa yang tertulis tak seluas yang dipikirkan. Setidaknya tulisanku membantu untuk menemukan alur dan arah kemana naskah ini akan menuju. Semakin banyak hal yang dapat kita tuang dalam tulisan, semakin banyak pula yang dapat kita sampaikan. Meskipun tetap saja, masing-masing memiliki batas toleransi terhadap suasana lingkungan.

Kemudian, kenapa perlu dibagikan?
Sebegitu banyak manfaat dari menulis. Akan tetapi, jangan sampai kita ceroboh menyampaikan isi hati dalam bentuk tulisan. Apalagi sesuatu yang hendak kita bagi. Lantas, apakah tidak boleh menulis isi hati. Tentu saja boleh. Tapi, perhatikan lagi media apa yang akan kamu gunakan untuknya.

Sekarang kenapa harus dibagikan? Tulisanmu itu tidak akan jadi apa-apa manakala hanya disimpan rapi begitu saja. Bisa dibayangkan, jika temuan ahli disembunyikan. Tentu saja teknologi tidak akan secanggih sekarang ini. Begitu juga tulisanmu. Kamu tidak akan pernah tahu, seberapa besar manfaat yang bisa diperoleh jika tidak pernah membagikannya.

Secuil kisahmu mungkin tak ada artinya bagimu. Tapi orang lain mungkin saja lebih jeli untuk menangkap hikmah. Seberkas ingatanmu mungkin saja lenyap dimakan usia. Tapi tulisanmu dapat membantu untuk menjaganya. Maka statement menciptakan sejarah dengan tulisan itu tidaklah salah. Kalau gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama. Dan namamu akan abadi bersama tulisan-tulisan peninggalanmu.

Wallahu a'lam bishshowab

Kediri, 17919

2 komentar:

  1. Kalau menurutku, menulis itu adalah senjata ampuh untuk menyampaikan perasaan yang hendak lumpuh hehhehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masyaallah... Amazing!

      Nambah perbendaharaan kalimat sy ini Mbak.

      Terimakasih sudah berkunjung.

      Hapus