Follow Me @arhana.handiana

@arhana.handiana

Minggu, 29 September 2019

Memulai Itu Mudah

Assalamu'alaikum Sahabat PeKat ....
Apa kabar malam ini? Semoga senantiasa sehat dan bahagia ya ....
Sahabat PeKat,
Malam ini adalah malam terakhir pekan ketiga aku ngodop. Semoga masih bisa melanjutkan langkah ke pekan keempat esok hari. Karena kita tidak pernah tahu, batas kita sampai mana. Bukan hanya soal apakah malam ini tereliminasi atau tidak, tapi tentang rezeki usia. Sudahkah bersyukur hari ini? Karena masih Allah beri kesempatan untuk bernapas dan melakukan segudang aktivitas di akhir pekan.

Ya, meskipun ini hari Ahad, yang bermaksud satu atau awal. Tapi tetap saja ini masuk weekend. Dan aku tidak tahu apa alasannya. Kalau kalian tahu, cobalah berbagi dengan kami di kolom komentar ya. Kalau aku sih pernah gitu mikir-mikir. Ahad itu asalnya dari wahid yang berarti satu, kemudian isnaini (Senin) dua, tsalatsatun (Selasa) tiga, dst. Hoo, iya benar. Itu seperti lagu berhitung dengan bahasa Arab.

Sahabat PeKat tahu tidak ....
Bahwa ketika kita hendak memulai suatu pekerjaan, apakah itu menulis, membaca, pun aktivitas lain yang memerlukan komitmen untuk konsisten, seringkali terasa sangat mudah. Akan tetapi, terasa sangat menantang ketika kita telah niat untuk bisa konsisten menjalaninya. Em, ada yang protes? Kenapa menulis mulu sih. Hehe .... Ya, karena aku lagi suka menulis dan membaca. Analogikan dengan kegiatan lain juga boleh lho.

Ya, beberapa di antara kita mungkin ada yang sudah sangat mahir dalam hal memppertahankan keajegan ini. Tapi sebagian lainnya merasa sangat berat, atau mungkin lebih tepatnya belum terbiasa. Nah, sebenarnya apa sih yang membuat kita bisa bertahan untuk terus melakukan kegiatan-kegiatan tersebut? Diulang-ulang sampai akhirnya menjadi sebuah kebutuhan, yang kalau enggak dikerjakan rasanya seperti ada yang kurang. Coba, ada yang tahu tidak?

Well, kalau menurutku semua itu didasari oleh alasan kuat mengapa kamu melakukan itu. Yes, this is strong why. Ketika kita telah menumakan alasan terkuat, maka tidak ada alasan lain untuk meniadakan aktivitas itu dari daftar rutinitas kita. Jadi, kira-kira sekarang kalian yang merasa malas, padahal kalau diingat semua itu pilihan kalian sendiri. Di awal rasanya sangat bersemangat tapi kemudian di tengah-tengahnya merasa jengah dan bahkan mundur teratur. Coba perhatikan, apakah kalian benar-benar telah menemukan strong why? Sehingga kalian merasa pantas untuk tetap bertahan atau disebut sesuatu.

Ya, pelabelann bisa jadi sebuah harapan dan doa. Seperti halnya aku yang dengan lantang menyebut diriku penulis, editor, crafter dan banyak label lain yang menurutku itu adalah duniaku. Tapi nyatanya, aku menggebu di awal. Lantas, apakah label itu masih pantas untuk disematkan di antara namaku yang bisa menjelaskan siapa diriku?

Mungkin aku terlalu tinggi menilai diri sendiri. Tapi nyatanya, pelabelan itu yang kemudian bisa mengingatkan diri kita kembali. Misalnya saja, seorang penulis itu tiada hari absen dari tulisan. Nah, ketika kemudian sehari saja kita absen, mestinya malu dong. Dan ini adalah motivasi dasar supaya kita tetap mau bergerak untuk mencapai sebuah tujuan. Bagaimana bisa menjadi penulis profesional, kalau nulisnya saja masih gagap dan sepatah-patah?

Kalau itu motivasi dasar, tentu ada motivasi lain yang lebih pekat. Dialah inti dari apa yang telah kita jadikan alasan. Dan sebaik-baik alasan itu, supaya kita dapat bermanfaat bagi orang lain. Oleh karenanya, lakukan sesuatu sekecil apapun untuk menjadikan diri kita ini bermanfaat. Karena kita tidak pernah tahu, laku kecil mana yang diterima Allah sebagai amal ibadah. Semoga kesederhanaan langkah dan secuil kisah kita diridai Allah subhanahu wata'ala. Aamiin

Jadi, seberat apapun kita mempertahankan keajegan diri, ingatlah kembali niat awal kita untuk memulai sebuah langkah. Untuk apa kita saat ini berdiri di sini. Jika kita menyerah sekarang, akan kah yang kita tuju tercapai? Semoga Allah memudahkan langkah dan niat baik kita semua. Dan keinginan kita beriring dengan apa yang Allah kehendaki untuk kita. Aamiin

Wallahu a'lam bishshowab
___**___

Ya, ini malam terakhir pekan ketiga, dan aku masih tidak mengerti kenapa ditinggalkan peka di saat-saat seperti ini. Semoga peka segera pulang, sehingga kita bisa berbagi kisah lagi. Sampai jumpa esok hari di ruang makan Sahabat PeKat...

Assalamu'alaikum ....

Kediri, 29092019

Tidak ada komentar:

Posting Komentar