Follow Me @arhana.handiana

@arhana.handiana

Senin, 30 September 2019

Ide: Kehadirannya Tanpa Aba-aba

Bismillahirrohmaanirrohiim

Hai, Arhana hadir lagi bersama kisahnya. Kali ini ia akan berbagi tentang ide yang datangnya bisa sewaktu-waktu. Enggak perlu woro-woro dia langsung menyapa. Dan ia juga tak butuh sambutan, hanya saja seringkali butuh perhatian lebih.

Kata Arhana,
Hari ini sulit sekali mau mencurahkan isi hati untuk membagikan sesuatu kepada Sahabat PeKat. Entah karena apa, tapi ia merasa berat untuk sekedar memulai cuitan. Meskipun kadang apa yang ia katakan itu mengalir begitu saja. Ya, itulah Arhana, manusia biasa yang lengkap dengan kelebihan dan kekurangannya. Memang sudah pengaturannya seperti itu. 😊 Jadi, kalian para sahabat kalau mau usul tema, boleh banget lho. Bisa post di kolom komentar, atau kirim ke email juga bisa. Tinggal kalian klik saja link email yang tertera di bagian kontak halaman ini. Mau kirim direct message ke instagram juga bisa. 😍 Sok pilih saja mana yang paling mudah.
***

Balik lagi soal ide, bersama Arhana.

Iya, jadi kadang aku tuh mikir dulu kalu mau nulis. Bukan mikir kata-katanya bagaimana, tapi lebih tepat pada apa yang ingin kusampaikan. Karena seringkali aku menyampaikan sesuatu secara random. Kalau kita ngobrol nih ya, mulai dari A sampai Z bisa saja terbahas. Tapi kalau nulis begini, kan tidak mungkin akan seperti ketika ngobrol. Akan tetapi, meskipun terbatas pada satu inti saja, tetap bisa kita buat mengalir seperti air di sungai. Iya, kan?

Nah, sepengalamanku, ide itu nyasar aja ke kepala tanpa pernah memberi aba-aba. Misalnya saja membaca. Ada banyak hal yang bisa kita sampaikan tentang membaca. Mulai dari membaca buku sampai membaca lingkungan dan realitas. Semua itu sangat luas. Kita bisa saja memecahnya menjadi detail-detail terkecil sesuai dengan peminatan misalnya, atau disiplin ilmu yang kita pernah pelajari. Jadi, apapun yang terlintas di benak kalian, tulis saja dulu. Buat ia menjadi daftar panjang. Siapa tahu suatu hari nanti akan terkembang layar dan ide sederhana kalian bisa membawa penulisnya singgah ke negara lain.

Oleh sebab ide itu tidak datang didahului pemberitahuan, maka kita perlu kecakapan untuk mengetahui tanda-tanda kehadirannya. Kalau di Aroma Karsa, Dee Lestari mengatakan bahwa kamu bukan orang sakit menuju sembuh. Kamu cuma perlu berhenti berpikir kamu diserang.

Sama halnya dengan kita para penulis pemula yang kadang merasa diserang banyak ide atau malah diserang sepi yang tak berkesudahan. Jadi, berhenti merasa atau berpikir demikian. Yang perlu kita lakukan adalah tangkap mereka. Caranya? Ya tulis. Seperti yang tadi sudah kukatakan, buat daftarnya, seperti catatanku berikut ini misal.

Daftar Ide
Sumber: Dokumen Pribadi
Kita seringkali merasa enggak keburu untuk menangkap sebanyak aliran rasa yang terjadi antara hati dan pikiran. Sehingga (bagi pemula), semua ini terasa sangat sulit. Tapi seiring dengan seringnya kita berlatih membekukan mereka, maka daya ikat dan tangkap kita pun akan meningkat.

Percaya atau tidak, memang itu yang disampaikan oleh para senior. Sekali lagi, kita bisa menuliskannya pada buku kecil yang bisa kita bawa kemana-mana, atau menggunakan media online di gawai. Ini akan memudahkan kita untuk memanggil kembali (recall) apa yang sudah diolah oleh otak.

Awalnya memang aku sendiri tidak bisa begitu saja menuang kembali apa yang telah mengalir di sepanjang jalan saat berkendara. Dan bahkan apapun yang tadinya mengalir dengan indah menjadi gagap saat aku menghadapi papan ketik. Kondisi seperti ini kalau tidak pernah diantisipasi, mungkin akan melahirkan berbagai ragam kecamuk bahkan frustasi sekaligus. Tapi yakinlah, menulis itu pekerjaan otak yang butuh latihan, bukan semata-mata karena ada bakat banyak cakap.

Eum, enggak usah lah jauh-jauh membayangkannya ya. Tulisan ini saja misalnya, dia lahir dari hasil obrolanku dengan anggota Sapporo. Katanya, "Lagi gundah gulana pun nemu ide untuk nulis." Justru ketika dalam kondisi seperti itu, bertebaran beragam ide untuk dialirkan. Hanya saja rancang bangun yang belum tuntas di kepala justru lebih cepat hilang bahkan sebelum aku sempat menuliskannya. Kemudian, terbersit sebuah kalimat di kepalaku tentang kelahiran ide itu sendiri. Maka aku menuliskannya, ide itu mudah ditemukan kendatipun ia datang tanpa memberi peringatan.
***

Aku harap kalian enggak tambah pusing dengan kisahku hari ini. Jika ada secuil yang dapat kubagikan dan bermanfaat, semua itu semata karena Allah yang mengizinkan dan memudahkan. Semoga kita semua juga dikuatkan dalam pencapaian istiqomah untuk berbagi kebaikan lewat pena.

Oke, sekian dulu Sahabat PeKat, sampai jumpa esok di tempat yang sama.

Assalamu'alaikum ....

Kediri, 30092019

20 komentar:

  1. Wah, runtut nulisnya kak. Keren!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih sudah berkenan mampir kak.

      Hapus
  2. suka deh di bagian awal paragrafnya. Hai. Arhana hadir lagi bersama kisahnya. hehe.

    berhubung diminta untuk merequest tema sama Kak Arhana. Kak, sebagai penenun kata, boleh dong angkat tema membuat fiksi untuk anak tapi dengan diksi yang enak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe... Masih mencari formula yang pas dan nyaman.

      Ok, terimakasih requestnya Kak Ibra ... Insyaallah next letter kita bahas itu ya.

      Hapus
    2. Hooo sudah ditulis kak. Semoga ada yang bisa diambil manfaatnya.

      https://kataarhana.blogspot.com/2019/10/request-1-menulis-fiksi-anak.html?m=1

      Hapus
  3. Aku kadang yo kutulis gitu biar gak lupa hihihi. Ternyata kita sama. Tossss

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yeay.... Ada temannya... Terimakasih Kakak

      Hapus
  4. Mantap nih. Di coba ah bikin bank Ide

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wohaaa... Bagus itu idenya Kak... Bank Ide
      Sip sip

      Hapus
  5. Aku juga menulis daftar ideku, sejak awal ODOP sudah ngumpulin ide. Tapi, pada akhirnya yang ditulis di blog adalah ide yang terlintas pada hari tersebut. Wkwk.

    Sahabat PeKat pengen rekues tulisan tentang fabel dong. Bukan penjelasannya, tapi fabel karya Arhana. Heuheu ditunggu yaa...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwkwkkwkw.....kita samaan kak.


      Ohhhh big wow.

      Masyaallah, requestnya. Spesial.

      Insyaallah Kak. Dicatat dulu.
      Terimakasih sudah mampir

      Hapus
  6. Wow..keren
    Keren emang keren
    Semungut kk😍😍😉

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih Mbak Chusnul.... 😊😊

      Hapus
  7. Kakak tulisannya bagus, betul sekali kak,saya juga bikin note di hp, tapi kadang stuck juga buat dikembangkan 😅

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe... Perlu endapan Mbak supaya bisa menyambung kembali.

      Di ODOP nih, sy dibikin demikian. Biasanya juga sekali duduk. Hehe

      Hapus
  8. "lagi gundah gulana pun nemu ide untuk nulis".. kayaknya kenal sama kata-katanya

    Memang bener..karena tulisan juga bisa jadi curhatan
    Tetap semangat..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hoooo itu kan Mbak yang bilang ke aku... Makasih yaaa

      Hapus
  9. "Fokus atau tidak sama sekali" sepertinya menarik, Kaak hihi. Semangat terus nulisnya Kak Arhaaan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yups... Terimakasih Mbak Dee 😘

      Hapus