Follow Me @arhana.handiana

@arhana.handiana

Selasa, 24 September 2019

Dokter juga Manusia

"Duh rasanya ko ga enak ya?" Tiba-tiba di tengah percakapan kami, dokter mengatakan yang dirasakannya. "Gini ini mereka tidak tahu penderitaanku, yang mereka tahu, mereka minta tolong diperiksa. Mana ada yang berpikir apa yang kuraskan?" Lanjutnya lebih bergumam pada diri sendiri.

Aku terdiam sejenak. Seolah kehilangan kekuatan untuk menjawab argumennya. Atau aku memang sedang tak bersemangat untuk berceloteh. Tapi, bukan aku saja sepertinya yang merasakan ini. Beliau pun sedang tidak pada mood yang baik. Ya, seperti yang kukatakan tadi, tidak bersemangat. Kurang ada selera untuk bercanda. Biasanya tidak seperti itu.

Malam itu, pemeriksaan berjalan cukup cepat dan ringkas. Kalau biasanya aku bisa sejam di dalam. Sampai-sampai pasien yang antre setelahku ngedumel enggak jelas. Tapi tidak untuk kemarin. Rasanya kami hanya sedikit saja bercanda. Mungkin juga karena kondisiku yang sedang drop, jadi tidak ada selera humor yang biasanya pecah.

"Dok, memang tidak apa-apa kalau yang lain nunggunya lama?" Tanyaku suatu ketika. Karena aku pikir dokter ini lain dengan yang pernah kutemui sebelumnya.
"Saya ini memeriksa sesuai dengan kebutuhan pasien. Kalau pasiennya butuh waktu satu jam, ya saya tidak bisa memaksa harus keluar sebelum itu. Kalau yang lain mau antre, ya silakan menunggu, kalau tidak ya sudah. Saya di sini tidak untuk mencari berapa banyak pasien. Tapi kepuasan mereka. Untuk apa kalau periksanya enggak tuntas?"

Wow... Semakin aku merasa tidak perlu lagi mencari. Cukup sudah. Insyaallah berjodoh di sini. Dan alhamdulilah aku sudah menjadi member beliau sejak tahun 2015. Dan menurutku ini doker yang tidak hanya menyentuh ranah fisik saja. Meskipun tidak secara keseluruhan juga menangani sisi psikis, tapi cukup piawai memainkan perannya. Aku lupa apa istilahnya.

Empat tahun menjadi pasiennya, bukan tidak mungkin kami memahami satu sama lain. Meskipun tetap dalam batasan-batasan tertentu. Karena kami bertemu juga hanya jika aku ingin check up. Nah, justru dari obrolan-obrolan ringan itu, aku seperti mendapat teman baru. Meski mungkin usia kami sebenarnya terpaut agak jauh. Tepatnya berapa, aku sendiri tidak tahu. Dan merasa tidak perlu tahu sejauh itu. Selama kami baik-baik saja, insyaallah everything it's gonna be okay. Artinya enggak ada yang perlu dikhawatirkan.

Percakapan-percakapan yang tanpa sengaja terbangun ini, justru memberiku banyak warna. Menemukan beragam insight. Bahkan diskusi kami seringkali membuahkan banyak ide di kepalaku. Membocorkan keran-keran yang tak sengaja kututup. Dan menderaskan hal-hal yang sedang mengalir di sisi lain pikiranku. Ruangan 3*3 menjadi saksi, di mana aku bisa tertawa lepas dan bicara layaknya teman bermain. Aku tak mengalami cemas sama sekali di sini. Pemeriksaan pun berjalan normal dan semua berakhir dengan puas. Karena aku justru pulang dengan membawa segudang informasi baru.

Empat tahun yang sangat berarti. Mengubah pola pikirku terhadap kesehatan. Dulu, aku tipikal shopping doctor. Aku termasuk orang yang tidak mudah percaya. Satu diagnosa membawa kepada diagnosa yang lain. Berganti-ganti dokter bahkan spesialis. Lucunya di usia muda pun aku sudah mencicipi obat jantung dosis rendah.

Dokter Cha mengantarkan keyakinan lamaku untuk kembali didekap. Apa yang sudah kuketahui lebih dulu, dikuatkan dengan diagnosanya. Sehingga aku lebih mudah menerima. Juga lebih yakin untuk pulih. Tentu saja, semua itu karena izin Allah. Langkah kakiku dan semua yang beliau ucapkan semua atas kehendak Allah.

Selain pengobatan untukku sendiri. Seperti yang kukatakan tadi, kami sering diskusi, apapun. Seringnya tentangku memang. Karena selain pemeriksaan fisik, ada sesi semacam konsultasi. Ya seperti yang diceritakan di awal. Tapi, akhirnya di situlah aku paham. Dokter itu juga manusia lho. Punya perasaan, punya sisi lemah juga, kadang sakit juga.

Sedangkan kita tanpa sadar mengatakan bahwa dokter kok bisa sakit, atau dokter kok bla bla bla. Hai PeKat, aku mau ingatkan kalian. Dokter itu juga manusia yang dibekali fitur kelebihan sama Allah. Tapi bukan berarti dokter adalah makhluk tanpa kelemahan. Bukan juga dokter enggak boleh urus dirinya atau pun keluarganya. Bahkan mungkin kalian tidak pernah tahu, untuk menolong kalian, dia lupakan rasa sakit yang sedang dialaminya.

"Bagaimana enggak tetap masuk, segini banyaknya." Ucapnya sambil menepuk tumpukan RM sederhana dari pasien yang sudah mengantre.

Itulah mengapa, simpati itu perlu dalam dunia sosial. Kalau bisa sampai tingkat empati. Biar kamu enggak mudah ngeluh. Enggak mudah menyerah. Karena kota enggak pernah tahu, bagian mana dalam diri kita yang justru Allah terima sebagai amal ibadah. Siapa kira jika bersabar dalam antrean tanpa memaki justru bernilai ibadah.

Wallahu a'lam bishshowab

Kediri, 24919

Tidak ada komentar:

Posting Komentar