Belajar Menulis

Sumber: Dokumen Pribadi
Design by Canva

💭💭💭
Berpikir sangat keras
Hari keempat sharing by post. Bismillahirrohmaanirrohiim....

Malam ini sepertinya aku harus random text again. Bukan tanpa sebab. Kali ini lebih karena aku kehilangan moment  menulisku. Biasanya, aku akan meluangkan waktu barang 15 menit untuk menulis, di pagi hari. Ide-ide sering berkeliaran di waktu yang tak diduga bahkan tak memungkinkan menangkapnya. Nah, hari ini aku melupakan itu. Aku memilih untuk mengisi teko, dan tepat 15 menit aku melahap satu bab untuk sarapanku. Emmm, rasanya memang sangat lapar saat belum membaca apapun di pagi hari.

Ok, karena kehilangan momentum, aku memutuskan untuk belanja ide dulu sebelum akhirnya menuangkan isi teko di mari. Jadi, malam ini aku mau sharing tentang belajar menulis.
Do you know why? Or What?
Kenapa harus belajar menulis?
Kenapa enggak yang lain?
Misalnya?

😊
Enggak ada alasan khusus kenapa aku memilih untuk berbagi tentang ini. Tapi perlu kalian tahu, dua kata ini membuatku tergelitik dan akhirnya harus berbagi dengan cara seperti ini. Hahahha songong yak....

BELAJAR MENULIS
Menulis di sini bukan yang sekedar bisa membentuk sebuah huruf dengan menggunakan pena atau mungkin jari jemari kita. Lho kok bisa? Ya bisa, kan nulisnya di tanah. 😋
Jadi, menulis yang seperti apa?
Seperti yang sekarang kulakukan, ini adalah proses belajar menulis. Maka, aku sedang berbicara tentang menulis dalam arti melahirkan pikiran atau perasaan (seperti mengarang, membuat surat) dengan tulisan. Itu adalah definisi menulis menurut KBBI pada poin dua.

Nah, jadi bukan hanya sekedar membentuk sebuah huruf saja yang dikatakan menulis. Bahkan belajar menulis akhirnya bisa disebut dalam beberapa tingkatan. Di antaranya yaitu belajar membuat huruf, kemudian belajar melahirkan pikiran atau perasaan. Bahkan melahirkan perasaan dan pikiran itu ada ilmunya.

Apa menariknya ya? Dan aku mulai terbang ....

Malam ini memang benar-benar istimewa. Salah satu rumah onlineku ternyata sedang heboh di dapur onlinenya. Salah satunya adalah membahas tentang kegemaranku di dunia literasi. Aku tentu saja tidak sendirian. Ada beberapa anggota yang juga suka menulis sebenarnya, tapi entah terkendala apa sehingga merasa perlu kerja keras untuk berporses.

Aku sendiri merasa newbie di dunia tulis menulis. Jadi, rasanya aneh jika namaku masuk list calon narasumber untuk berbagi. Rasanya kurang fix aja kalau bicara di depan para expert. Seniorku menulis di rumah itu juga banyak lho, kenapa harus aku yang di-list. Begitu gumamku.

Nah, tapi kemudian, di rumah onlineku yang baru, justru sedang mengadakan bedah karya pertama. Di situ aku merasa minder sebenarnya. Siapalah awak ini? Pakai mau ikut kasih krisan. Bisikan meremehkan itu mendahului logika. Padahal aku terusik untuk mengetik sesuatu untuk melahirkan apa yang sedang kupikirkan. Kendati bebas dari sisi mana aku boleh memberi kritik. Aku lebih cenderung memilih krisan dalam penulisan. Seperti halnya pekerjaan yang kulakukan selama beberapa bulan ini.

Aku memang terobsesi dengan detail. Hal kecil pun kadang nampak untuk bisa segera direvisi. Jadi, sesuatu yang terkadang luput, justru tercoret olehku. Salah satu yang nampaknya sepele dalam dunia tulis adalah penggunaan kata depan dan kata imbuhan "di-". Entah mengapa, kebanyakan orang melakukan kesalahan di titik ini. Pengetahuan ini sejujurnya bukan karena siapa yang ahli dari siapa. Akan tetapi, siapa yang lebih dulu mempelajari tentang ini.

Jadi, belajar menulis seperti ini sesungguhnya bukan perkara siapa yang berbakat. Tapi bagaimana kita melatih diri. Misalnya jangan bosan berteman Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI dalam proses menulis. Supaya kita tahu mana kata yang baku atau pun tidak. Kemudian ada lagi kitabnya penulis namanya Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia, yang lebih dikenal dengan nama PUEBI. Kedua sejoli ini yang akan setia mendampingi kalian untuk berproses dengan tulisan yang semakin bagus.

Anggap mereka itu pendamping setia secara teknis. Lalu, apalagi yang harus dilakukan terutama seorang aku untuk bisa menghasilkan tulisan yang masyaallah. Tentu saja mengisi teko dengan sebanyak ilmu yang telah Allah sebar di permukaan bumi ini. Kata para ahli di bidang literasi, apa yang kamu tuang ke dalam teko, maka itu juga yang akan keluar saat kamu tuang isi teko itu ke dalam cangkir-cangkir kecil. Jadi, kamu lah yang menentukan akan menjadi seperti apa dirimu.

Sekalipun tulisanmu itu secara konten bagus, tapi jika disajikan asal, tentu saja akan memengaruhi kenikmatan dalam membaca. Oleh karen itu, bukan hanya belajar menulis secara konten saja akan tetapi juga secara teknis perlu diperhatikan.

Tips dariku untuk bisa segera lancar PUEBI,
P . E . K . A
Yes, kita harus peka terhadap sekecil kesalahan itu. Selain itu biasakan pada hal-hal yang sederhana. Misalnya saja dalam mengetik pesan singkat, atau sedang berbincang dalam sudut sosial media. Karena sebetulnya belajar menulis ya menulis itu sendiri. Maka, mari kita bersama-sama berlatih sampai terbiasa untuk berbagi hal manfaat lainnya.

Ok, see you soon
Assalamu'alaikum wa rohmatulloh wa barokaatuh

Kediri, 12919

Related Posts

There is no other posts in this category.

20 komentar

  1. Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatu.

    Nice bahasannya Kak. Kalau aku nulis ya nulis aja toh nanti kalau salah ada yang ngasih tahu, padahal sebagai seorang penulis jangan seperti itu ya.

    Bisa peka terhadap dua sejoli, dan bisa peka terhadap fenomena yang kita lihat. Kombinasi yang bagus supaya bisa menghasilkan tulisan yang bagus..

    Begini bukan sih?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sedap, mantap sekali kak... Benar sekali. Peka terhadap lingkungan akan memperkaya kita pada ide. Selain belanja ide dari buku-buku yang kita baca setiap hari.

      KBBI dan PUEBI itu penyokong, supaya kita ga serampangan dalam menulis. Yups, meskipun enggak harus sudah sempurna baru boleh dibagikan. Sebab tak ada yang sempurna di dunia ini, bukan?

      Jadi, sekali lagi kak Ibrahim benar. Belajar memperbaiki tulisan secara teknis sambil terus menuangkan ide-ide.

      Karena kita tidak pernah tahu, bagian mana yang kurang dan perlu diperbaiki sebelum ada hasil yang bisa kita koreksi.

      Betul tidak?

      Hapus
  2. Wah saya kebalikan dari mbak yang hobi nulis di pagi hari. Kalo saya sukanya malam dan ide-ide lagi tumpah ruah di malam hari. Hahah berasa ngejar deadline jadinya. Semangat terus menulis mbak...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi.... Iya Mbak. Gpp, teman sy juga ada tuh pejuang DL. Hehe....

      Terus semangat juga untuk Mbak Hana...

      Hapus
  3. Harus PEKA. Noted. Terima kasih sudah berbagi. 🙏😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. 😀
      Duduudu....
      Makasih kakak senior udah mampir.

      Sama-sama Kak

      Hapus
  4. Menulis dari hati...untuk disampaikan ke banyak hati

    BalasHapus
  5. Tulisannya luar biasa, ini yang saya harapkan.

    Tapi di tulisan mbak ini ada satu hurup yang ketinggalan kayanya. Oleh karena itu di tulis Oleh karen itu.

    Tips supaya tidak typo kira-kira bagaimana mbak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. 😁
      Wahhhh terimakasih Pak sudah bantu koreksi. Ngetiknya sambil ngantuk setengah merem.

      Dicek lagi sebelum send Pak. Jadi, sebelum share harusnya ada QC, atau proofread. Sehingga minim typo.

      Hapus
  6. Random text nya aja flowing sampe panjang. haha
    Mantap :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. 😆
      Kalau udah keluar satu kata bingung mau mengakhiri. Semoga tetap ada yang bisa diambil manfaatnya ya kak. Terimakasih sudah mampir.

      Hapus
  7. Kalau biasanya pas saat-saat terakhir, baru melakukan self-editing

    BalasHapus
  8. Alhamdulillah ilmu baru lagi, arus peka dan berteman dengan KBBI. Intinya selalu belajar sih ya kak?

    BalasHapus
  9. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  10. "Karena menulis adalah menulis itu sendiri.", Suka kalimat ini. Semangat terus Kaak, terima kasih atas tulisannya 💞

    BalasHapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung, dan berkenan membaca artikel ini hingga selesai. Silakan berjejak untuk menjalin silaturahmi di dunia maya.

Salam,
-arhana-

Subscribe Our Newsletter