Follow Me @arhana.handiana

@arhana.handiana

Jumat, 27 September 2019

Aroma Karsa: Teman Diskusi

Bismillahirrohmaanirrohiim ....

Ini adalah mimpi. Menulis tentang buku ini adalah sebuah realita yang sedang berusaha kubangun. Tapi tidak sendiri. Belum pernah dalam satu dekade aku menemukan seseorang yang dengan getol berbicara tentang sebuah buku denganku. Bukan, bukan hanya dia. Tapi kami selalu menikmati setiap diskusi kecil yang memercik menjadi sebuah api unggun besar.

Termasuk Aroma Karsa karya Dee Lestari. Fotonya belum ada, insyaallah nanti diperbarui dengan menyertakan foto buku. Kurang fix rasanya kalau enggak pakai dokumen pribadi. Kebetulan belum punya, karena kemarin bukunya keburu harus dipindahtangankan.
Sumber: Dokumen Pribadi
Photography by Munifa Ch


Sekarang ini, membaca buku menjadi sesuatu yang luar biasa. Bukan sih, sebenarnya dari dulu aku sudah excited dengan buku bacaan. Tapi akhir-akhir ini porsinya jadi lebih karena aku menemukan teman diskusi untuk satu hobi ini. Membaca. Meski pun usia kamu terpaut banyak, tapi kami memiliki satu kesamaan. Membaca.

Kalau bukan karena dia, mungkin aku tidak akan membaca Aroma Karsa dalam waktu dekat. Dan yang lebih membuatku tak habis pikir, aku membacanya selama tiga hari waktu normal. Bisa dibayangkan lah, kecepatan macam apa dengan tebal buku enam ratus sekian halaman. Aku ingat, hari pertama membaca sampai 24 bab. Hari berikutnya kurang lebih juga 20an bab. Kemudian hari terakhir tentu saja sampai habis.

Tak pernah membayangkan akan mendapat sensasi yang demikian menggigit ketika membaca buku. Dee Lestari berhasil membawaku ke dunia yang dideskripsikan dalam bab-bab pertengahan. Tokoh-tokoh yang karakternya membuatku bergidik ngeri sekaligus tertarik. Dan perjalan yang membuatku terus berpikir.

Hal yang membuatku aneh adalah bahasanya ringan tapi tak henti membuatku berpikir untuk menganalisa. Aku mencerna setiap halaman dengan caraku sendiri. Teka-teki yang coba kupecahkan. Kemudian istilah-istilah yang tidak familiar di telingaku tapi familiar di beberapa pelajaran yang mungkin dulu pernah kubaca saat SMA.

Apa yang tertulis di setiap halamannya bagiku adalah teka-teki. Terlalu horor kalau aku menyebutnya misteri, karena aku sendiri tidak menyukai bacaan berjenis ini.

Bukan hanya teka-tekinya yang mengendap murni di benakku. Tapi, ada hal lain yang membuatku sempat ber-oh ria, atau berteriak aha! ketika aku menemukan sesuatu. Tentu saja semua itu berkaitan dengan bidang studiku saat mengenyam pendidikan di gedung hijau. Ya, ia bernama trauma atau juga phobia. Hal-hal yang menyebabkan Suma dan Jati kemudian tumbuh menjadi pribadi berbeda. Meskipun mereka berdua memiliki indera penciuman yang sama sensitifnya.

Aku jadi membayangkan anak kembar di besarkan di dua tempat berbeda. Atau hal lain yang serupa. Semua itu memunculkan imajinasi-imajinasi lain dan liar dari diriku sendiri. Akan tetapi, semua pertanyaanku tentang itu tak terjawab sampai bab terakhir. Karena mungkin memang bukan itu kan tujuan dari Aroma Karsa.

Ah, aku jadi semakin tertarik hanya dengan judulnya saja. Tapi, aku mendapat efek magis setelah membaca novel ini. Perasaan takut, tertekan, dan cemas sekaligus. Bahkan berkeringat dingin di waktu yang sama. Aku pikir, ini cerita betulan atau bagaimana. Hehehe .... Ya, bisa jadi kau bilang aku berlebihan. It's okay.

Tiga hari, rasanya tidak cukup mengenyahkan segala argumen di benakku. Mengapa Suma begitu dan Jati seperti itu? Segala bentuk opini aku utarakan kepada temanku yang sekarang giliran membaca. Aku memang sengaja memintanya untuk menuntaskan teka-teki yang sebenarnya kubangun sendiri. Jika saja logikaku belum sepenuhnya menyerap informasi yang semestinya, mungkin dia bisa membantu melengkapi.

Jadi, membaca pun kamu harus memiliki teman. Setidaknya, jika ia tidak memberikan solusi, tapi kamu tidak sendirian menikmati manfaat membaca. So, temukan teman diskusimu dari sekarang.

Oiya, Suma dan Jati adalah salah satu tokoh dalam Aroma Karsa.

Aroma itu bau-bauan, sedangkan karsa adalah kehendak. Jadi aroma karsa adalah ....
Yang sudah baca, boleh lho buka diskusi dengan sahabat PeKat di kolom komentar.

Ok, see you on the next coffee break

Assalamu'alaikum warohmatulloh wabarokaatuh

Note: I'm always intersted with Psychology




Kediri, 27092017

2 komentar:

  1. Belum berkesempatan baca bukunya, sedari awal kemunculan novel ini, sudah sangat ingin membacanya, ditambah review ini jadi makin ingin baca tapi belum punya bukunya 😭

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuk Kak Lee baca baca yuk... Di playstore ada kayanya versi ebook

      Hapus