Follow Me @arhana.handiana

@arhana.handiana

Senin, 30 September 2019

Ide: Kehadirannya Tanpa Aba-aba

September 30, 2019 20 Comments
Bismillahirrohmaanirrohiim

Hai, Arhana hadir lagi bersama kisahnya. Kali ini ia akan berbagi tentang ide yang datangnya bisa sewaktu-waktu. Enggak perlu woro-woro dia langsung menyapa. Dan ia juga tak butuh sambutan, hanya saja seringkali butuh perhatian lebih.

Kata Arhana,
Hari ini sulit sekali mau mencurahkan isi hati untuk membagikan sesuatu kepada Sahabat PeKat. Entah karena apa, tapi ia merasa berat untuk sekedar memulai cuitan. Meskipun kadang apa yang ia katakan itu mengalir begitu saja. Ya, itulah Arhana, manusia biasa yang lengkap dengan kelebihan dan kekurangannya. Memang sudah pengaturannya seperti itu. 😊 Jadi, kalian para sahabat kalau mau usul tema, boleh banget lho. Bisa post di kolom komentar, atau kirim ke email juga bisa. Tinggal kalian klik saja link email yang tertera di bagian kontak halaman ini. Mau kirim direct message ke instagram juga bisa. 😍 Sok pilih saja mana yang paling mudah.
***

Balik lagi soal ide, bersama Arhana.

Iya, jadi kadang aku tuh mikir dulu kalu mau nulis. Bukan mikir kata-katanya bagaimana, tapi lebih tepat pada apa yang ingin kusampaikan. Karena seringkali aku menyampaikan sesuatu secara random. Kalau kita ngobrol nih ya, mulai dari A sampai Z bisa saja terbahas. Tapi kalau nulis begini, kan tidak mungkin akan seperti ketika ngobrol. Akan tetapi, meskipun terbatas pada satu inti saja, tetap bisa kita buat mengalir seperti air di sungai. Iya, kan?

Nah, sepengalamanku, ide itu nyasar aja ke kepala tanpa pernah memberi aba-aba. Misalnya saja membaca. Ada banyak hal yang bisa kita sampaikan tentang membaca. Mulai dari membaca buku sampai membaca lingkungan dan realitas. Semua itu sangat luas. Kita bisa saja memecahnya menjadi detail-detail terkecil sesuai dengan peminatan misalnya, atau disiplin ilmu yang kita pernah pelajari. Jadi, apapun yang terlintas di benak kalian, tulis saja dulu. Buat ia menjadi daftar panjang. Siapa tahu suatu hari nanti akan terkembang layar dan ide sederhana kalian bisa membawa penulisnya singgah ke negara lain.

Oleh sebab ide itu tidak datang didahului pemberitahuan, maka kita perlu kecakapan untuk mengetahui tanda-tanda kehadirannya. Kalau di Aroma Karsa, Dee Lestari mengatakan bahwa kamu bukan orang sakit menuju sembuh. Kamu cuma perlu berhenti berpikir kamu diserang.

Sama halnya dengan kita para penulis pemula yang kadang merasa diserang banyak ide atau malah diserang sepi yang tak berkesudahan. Jadi, berhenti merasa atau berpikir demikian. Yang perlu kita lakukan adalah tangkap mereka. Caranya? Ya tulis. Seperti yang tadi sudah kukatakan, buat daftarnya, seperti catatanku berikut ini misal.

Daftar Ide
Sumber: Dokumen Pribadi
Kita seringkali merasa enggak keburu untuk menangkap sebanyak aliran rasa yang terjadi antara hati dan pikiran. Sehingga (bagi pemula), semua ini terasa sangat sulit. Tapi seiring dengan seringnya kita berlatih membekukan mereka, maka daya ikat dan tangkap kita pun akan meningkat.

Percaya atau tidak, memang itu yang disampaikan oleh para senior. Sekali lagi, kita bisa menuliskannya pada buku kecil yang bisa kita bawa kemana-mana, atau menggunakan media online di gawai. Ini akan memudahkan kita untuk memanggil kembali (recall) apa yang sudah diolah oleh otak.

Awalnya memang aku sendiri tidak bisa begitu saja menuang kembali apa yang telah mengalir di sepanjang jalan saat berkendara. Dan bahkan apapun yang tadinya mengalir dengan indah menjadi gagap saat aku menghadapi papan ketik. Kondisi seperti ini kalau tidak pernah diantisipasi, mungkin akan melahirkan berbagai ragam kecamuk bahkan frustasi sekaligus. Tapi yakinlah, menulis itu pekerjaan otak yang butuh latihan, bukan semata-mata karena ada bakat banyak cakap.

Eum, enggak usah lah jauh-jauh membayangkannya ya. Tulisan ini saja misalnya, dia lahir dari hasil obrolanku dengan anggota Sapporo. Katanya, "Lagi gundah gulana pun nemu ide untuk nulis." Justru ketika dalam kondisi seperti itu, bertebaran beragam ide untuk dialirkan. Hanya saja rancang bangun yang belum tuntas di kepala justru lebih cepat hilang bahkan sebelum aku sempat menuliskannya. Kemudian, terbersit sebuah kalimat di kepalaku tentang kelahiran ide itu sendiri. Maka aku menuliskannya, ide itu mudah ditemukan kendatipun ia datang tanpa memberi peringatan.
***

Aku harap kalian enggak tambah pusing dengan kisahku hari ini. Jika ada secuil yang dapat kubagikan dan bermanfaat, semua itu semata karena Allah yang mengizinkan dan memudahkan. Semoga kita semua juga dikuatkan dalam pencapaian istiqomah untuk berbagi kebaikan lewat pena.

Oke, sekian dulu Sahabat PeKat, sampai jumpa esok di tempat yang sama.

Assalamu'alaikum ....

Kediri, 30092019

Minggu, 29 September 2019

Tentang Membaca

September 29, 2019 2 Comments
Sumber: Dokumen Pribadi

Bukan hanya berjalan, bahkan membaca pun butuh move. Ketika merasa salah bacaan, belum tentu sepenuhnya salah. Bisa jadi karena tak tepat memilih tempat atau moment untuk menghabiskan bacaan. Kelihatannya simple. Bahkan mungkin dianggap basi atau tak penting. Tapi ternyata, ada harta karun di dalamnya. Siapa sangka? Jadi, jangan berhenti. Teruslah melangkah bersama keyakinan hati yang semakin jelas. Dan, selamat membaca. 🌷

Membaca itu seni. Dia tidak akan bermakna jika hanya sekedar. Tapi akan terasa jika tepat sasaran.

Sudah mulai malam, tulisan ini menjadi pengantar sebelum menyudahi malam dengan memejamkan mata. Jadi, aku hanya ingin sedikit berbagi rasa ketika kita membaca tapi merasa salah bacaan. Bahkan membaca butuh menciptakan moment. Dan bukan hanya itu, ia juga perlu move.

Kalau tahu ternyata buku ini menarik, seru dan gemesin mestinya sudah selesai lama untuk dibaca. Tapi, ternyata aku salah memilih tempat untuk memulai. Alih-alih menemaniku membunuh bosan karena menunggu terlalu lama di sepanjang antrian poli dan apotek, buku ini justru membawaku pada "mimpi" yang tak seharusnya hadir. Hehehe ... kalian benar, aku tertidur di sepanjang antrian itu. Huh, rasanya ....

Jadi, sebenarnya buku ini hasil rekomendasi dari Pak Isa. Ya bukan ke aku sih, tapi ke semua pelanggann ya. Jenis bacaan yang bisa dijadikan referensi saat kamu ingin belajar detail, deskripsi dan plot twist. Aku selalu saja tertarik pada bagian rekomendasi seperti ini. Setidaknya enggak bakal nyasar kalau mau cari alamat. Alih-alih akan belajar, aku justru bingung dengan apa yang kubaca saat itu. Awalnya aku berpikir, kok begini. Dan harus berulang-ulang pada halaman yang sama, bahkan kalimat yang sama. Ah, ini sih bisa jadi juga karena kualitas bacaku yang enggak oke ya.

Nah, itu kenapa aku bilang baca juga perlu move. Karena kamu enggak akan memahami bacaan itu kalau tetap maksa hanya berkutat pada kalimat, paragraf dan halaman itu-itu saja. Namanya juga membaca untuk refreshing ya, usahakan jangan terlalu tegang. Jadi, lanjut aja dulu sampai selesai. Kalau sudah selesai, baru simpulkan, bacaan itu tadi gimana, maksud cerita itu seperti apa, terus ternyata kamu bisa belajar apa saja dari buku itu.

Aku sih memang belum paham ya tentang plot twist. Jadi, waktu baca buku ini sebenarnya juga sudah hilang semua deskripsi rekomendasi yang dikatakan Pak Isa. Aku justru fokus sama ceritanya. Seolah sedang bicara dengan si tokoh utama. Dan, dapat feel-nya emang pas sudah di tengah bab. Dan aku mulai tertarik dengan apa yang dipaparkan di sana.

Well, di setiap bacaan tentu ada pesan yang ingin penulis sampaikan. Di luar konten dan alur cerita itu sendiri. Aku sendiri selalu amze ketika menemukan beberapa informasi yang menurutku itu baru. Apalagi kalau penulisnya menyampaikan nilai-nilai filosofis dari sesuatu. Nah, di buku ini mungkin enggak dinyana kalau di sana ada info tentang olahraga lari. Yang bikin aku tertarik di sini, cara Edith menyampaikan tentang filosofi lari.

Banyak sekali makna lari. Bisa jadi konotatif atau denotatif.

Kalau penasaran, kalian bisa baca sendiri bukunya ya. Yang jelas, buku ini rekomended. Enggak kaleng-kaleng kata teman-temanku.

Oke, sampai di sini dulu ceritaku tentang buku. Jangan lupa, lanjutkan bacaanmu yang terkesan membosankan itu, supaya kamu enggak setengah-setengah menilai. Lakukan dengan totalitas, supaya kamu juga terlatih untuk lebih peka terhadap realitas.

Happy reading, writing and editing. Be happy to be yourself. See you soon

Assalamu'alaikum ....

Kedir, 290919

Memulai Itu Mudah

September 29, 2019 0 Comments
Assalamu'alaikum Sahabat PeKat ....
Apa kabar malam ini? Semoga senantiasa sehat dan bahagia ya ....
Sahabat PeKat,
Malam ini adalah malam terakhir pekan ketiga aku ngodop. Semoga masih bisa melanjutkan langkah ke pekan keempat esok hari. Karena kita tidak pernah tahu, batas kita sampai mana. Bukan hanya soal apakah malam ini tereliminasi atau tidak, tapi tentang rezeki usia. Sudahkah bersyukur hari ini? Karena masih Allah beri kesempatan untuk bernapas dan melakukan segudang aktivitas di akhir pekan.

Ya, meskipun ini hari Ahad, yang bermaksud satu atau awal. Tapi tetap saja ini masuk weekend. Dan aku tidak tahu apa alasannya. Kalau kalian tahu, cobalah berbagi dengan kami di kolom komentar ya. Kalau aku sih pernah gitu mikir-mikir. Ahad itu asalnya dari wahid yang berarti satu, kemudian isnaini (Senin) dua, tsalatsatun (Selasa) tiga, dst. Hoo, iya benar. Itu seperti lagu berhitung dengan bahasa Arab.

Sahabat PeKat tahu tidak ....
Bahwa ketika kita hendak memulai suatu pekerjaan, apakah itu menulis, membaca, pun aktivitas lain yang memerlukan komitmen untuk konsisten, seringkali terasa sangat mudah. Akan tetapi, terasa sangat menantang ketika kita telah niat untuk bisa konsisten menjalaninya. Em, ada yang protes? Kenapa menulis mulu sih. Hehe .... Ya, karena aku lagi suka menulis dan membaca. Analogikan dengan kegiatan lain juga boleh lho.

Ya, beberapa di antara kita mungkin ada yang sudah sangat mahir dalam hal memppertahankan keajegan ini. Tapi sebagian lainnya merasa sangat berat, atau mungkin lebih tepatnya belum terbiasa. Nah, sebenarnya apa sih yang membuat kita bisa bertahan untuk terus melakukan kegiatan-kegiatan tersebut? Diulang-ulang sampai akhirnya menjadi sebuah kebutuhan, yang kalau enggak dikerjakan rasanya seperti ada yang kurang. Coba, ada yang tahu tidak?

Well, kalau menurutku semua itu didasari oleh alasan kuat mengapa kamu melakukan itu. Yes, this is strong why. Ketika kita telah menumakan alasan terkuat, maka tidak ada alasan lain untuk meniadakan aktivitas itu dari daftar rutinitas kita. Jadi, kira-kira sekarang kalian yang merasa malas, padahal kalau diingat semua itu pilihan kalian sendiri. Di awal rasanya sangat bersemangat tapi kemudian di tengah-tengahnya merasa jengah dan bahkan mundur teratur. Coba perhatikan, apakah kalian benar-benar telah menemukan strong why? Sehingga kalian merasa pantas untuk tetap bertahan atau disebut sesuatu.

Ya, pelabelann bisa jadi sebuah harapan dan doa. Seperti halnya aku yang dengan lantang menyebut diriku penulis, editor, crafter dan banyak label lain yang menurutku itu adalah duniaku. Tapi nyatanya, aku menggebu di awal. Lantas, apakah label itu masih pantas untuk disematkan di antara namaku yang bisa menjelaskan siapa diriku?

Mungkin aku terlalu tinggi menilai diri sendiri. Tapi nyatanya, pelabelan itu yang kemudian bisa mengingatkan diri kita kembali. Misalnya saja, seorang penulis itu tiada hari absen dari tulisan. Nah, ketika kemudian sehari saja kita absen, mestinya malu dong. Dan ini adalah motivasi dasar supaya kita tetap mau bergerak untuk mencapai sebuah tujuan. Bagaimana bisa menjadi penulis profesional, kalau nulisnya saja masih gagap dan sepatah-patah?

Kalau itu motivasi dasar, tentu ada motivasi lain yang lebih pekat. Dialah inti dari apa yang telah kita jadikan alasan. Dan sebaik-baik alasan itu, supaya kita dapat bermanfaat bagi orang lain. Oleh karenanya, lakukan sesuatu sekecil apapun untuk menjadikan diri kita ini bermanfaat. Karena kita tidak pernah tahu, laku kecil mana yang diterima Allah sebagai amal ibadah. Semoga kesederhanaan langkah dan secuil kisah kita diridai Allah subhanahu wata'ala. Aamiin

Jadi, seberat apapun kita mempertahankan keajegan diri, ingatlah kembali niat awal kita untuk memulai sebuah langkah. Untuk apa kita saat ini berdiri di sini. Jika kita menyerah sekarang, akan kah yang kita tuju tercapai? Semoga Allah memudahkan langkah dan niat baik kita semua. Dan keinginan kita beriring dengan apa yang Allah kehendaki untuk kita. Aamiin

Wallahu a'lam bishshowab
___**___

Ya, ini malam terakhir pekan ketiga, dan aku masih tidak mengerti kenapa ditinggalkan peka di saat-saat seperti ini. Semoga peka segera pulang, sehingga kita bisa berbagi kisah lagi. Sampai jumpa esok hari di ruang makan Sahabat PeKat...

Assalamu'alaikum ....

Kediri, 29092019

Jumat, 27 September 2019

Aroma Karsa: Teman Diskusi

September 27, 2019 2 Comments
Bismillahirrohmaanirrohiim ....

Ini adalah mimpi. Menulis tentang buku ini adalah sebuah realita yang sedang berusaha kubangun. Tapi tidak sendiri. Belum pernah dalam satu dekade aku menemukan seseorang yang dengan getol berbicara tentang sebuah buku denganku. Bukan, bukan hanya dia. Tapi kami selalu menikmati setiap diskusi kecil yang memercik menjadi sebuah api unggun besar.

Termasuk Aroma Karsa karya Dee Lestari. Fotonya belum ada, insyaallah nanti diperbarui dengan menyertakan foto buku. Kurang fix rasanya kalau enggak pakai dokumen pribadi. Kebetulan belum punya, karena kemarin bukunya keburu harus dipindahtangankan.
Sumber: Dokumen Pribadi
Photography by Munifa Ch


Sekarang ini, membaca buku menjadi sesuatu yang luar biasa. Bukan sih, sebenarnya dari dulu aku sudah excited dengan buku bacaan. Tapi akhir-akhir ini porsinya jadi lebih karena aku menemukan teman diskusi untuk satu hobi ini. Membaca. Meski pun usia kamu terpaut banyak, tapi kami memiliki satu kesamaan. Membaca.

Kalau bukan karena dia, mungkin aku tidak akan membaca Aroma Karsa dalam waktu dekat. Dan yang lebih membuatku tak habis pikir, aku membacanya selama tiga hari waktu normal. Bisa dibayangkan lah, kecepatan macam apa dengan tebal buku enam ratus sekian halaman. Aku ingat, hari pertama membaca sampai 24 bab. Hari berikutnya kurang lebih juga 20an bab. Kemudian hari terakhir tentu saja sampai habis.

Tak pernah membayangkan akan mendapat sensasi yang demikian menggigit ketika membaca buku. Dee Lestari berhasil membawaku ke dunia yang dideskripsikan dalam bab-bab pertengahan. Tokoh-tokoh yang karakternya membuatku bergidik ngeri sekaligus tertarik. Dan perjalan yang membuatku terus berpikir.

Hal yang membuatku aneh adalah bahasanya ringan tapi tak henti membuatku berpikir untuk menganalisa. Aku mencerna setiap halaman dengan caraku sendiri. Teka-teki yang coba kupecahkan. Kemudian istilah-istilah yang tidak familiar di telingaku tapi familiar di beberapa pelajaran yang mungkin dulu pernah kubaca saat SMA.

Apa yang tertulis di setiap halamannya bagiku adalah teka-teki. Terlalu horor kalau aku menyebutnya misteri, karena aku sendiri tidak menyukai bacaan berjenis ini.

Bukan hanya teka-tekinya yang mengendap murni di benakku. Tapi, ada hal lain yang membuatku sempat ber-oh ria, atau berteriak aha! ketika aku menemukan sesuatu. Tentu saja semua itu berkaitan dengan bidang studiku saat mengenyam pendidikan di gedung hijau. Ya, ia bernama trauma atau juga phobia. Hal-hal yang menyebabkan Suma dan Jati kemudian tumbuh menjadi pribadi berbeda. Meskipun mereka berdua memiliki indera penciuman yang sama sensitifnya.

Aku jadi membayangkan anak kembar di besarkan di dua tempat berbeda. Atau hal lain yang serupa. Semua itu memunculkan imajinasi-imajinasi lain dan liar dari diriku sendiri. Akan tetapi, semua pertanyaanku tentang itu tak terjawab sampai bab terakhir. Karena mungkin memang bukan itu kan tujuan dari Aroma Karsa.

Ah, aku jadi semakin tertarik hanya dengan judulnya saja. Tapi, aku mendapat efek magis setelah membaca novel ini. Perasaan takut, tertekan, dan cemas sekaligus. Bahkan berkeringat dingin di waktu yang sama. Aku pikir, ini cerita betulan atau bagaimana. Hehehe .... Ya, bisa jadi kau bilang aku berlebihan. It's okay.

Tiga hari, rasanya tidak cukup mengenyahkan segala argumen di benakku. Mengapa Suma begitu dan Jati seperti itu? Segala bentuk opini aku utarakan kepada temanku yang sekarang giliran membaca. Aku memang sengaja memintanya untuk menuntaskan teka-teki yang sebenarnya kubangun sendiri. Jika saja logikaku belum sepenuhnya menyerap informasi yang semestinya, mungkin dia bisa membantu melengkapi.

Jadi, membaca pun kamu harus memiliki teman. Setidaknya, jika ia tidak memberikan solusi, tapi kamu tidak sendirian menikmati manfaat membaca. So, temukan teman diskusimu dari sekarang.

Oiya, Suma dan Jati adalah salah satu tokoh dalam Aroma Karsa.

Aroma itu bau-bauan, sedangkan karsa adalah kehendak. Jadi aroma karsa adalah ....
Yang sudah baca, boleh lho buka diskusi dengan sahabat PeKat di kolom komentar.

Ok, see you on the next coffee break

Assalamu'alaikum warohmatulloh wabarokaatuh

Note: I'm always intersted with Psychology




Kediri, 27092017

ODOP for Today

September 27, 2019 0 Comments
Assalamu'alaikum...
Sahabat PeKat apa kabar? Alhamdulillah, semoga kebaikan dan kebahagiaan senantiasa menyertai sahabat semua. Allahu yubarik fiik, aamiin...

Sudah dua hari stag, rasanya seperti ada yang salah dan kurang. Meski tidak tahu pasti apa dan kenapa, ada baiknya kita abaikan dulu saat ini. Karena mendadak ada ide meluncur patas untuk segera Arhana sampaikan ke sahabat semua.

Setelah berlayar dari satu komunitas ke komunitas lain, akhirnya aku terdampar juga di pantai ODOP. Maka, nikmat Allah mana lagi yang hendak kamu dustakan? Semua ini tentu tak lepas dari skenario indah dari Allah, betul tidak?

Mungkin sebagian dari kalian bertanya, apa sih ODOP? Yang aku lebih memilih tidak menjelaskan lebih jauh tentangnya di ruang ODOP milikku. Nah, malam ini tiba-tiba aku sudah tidak sabar ingin membagikan pengalaman selama tiga pekan berdiam di satu ruang rindu, eh bukan. Ruangan ODOP ya sahabat.

Mulai dari Sini

Aku kenal ODOP awalnya dari sahabatku. Entah dia alumni ODOP batch berapa. Aku tidak tahu. Tapi kami akhirnya bisa saling support dalam dunia literasi secara langsung saat mengikuti event Ramadan Writting Challenge (RWC) yang diselenggarakan oleh ODOP. Bisa dikatakan RWC adalah pintu gerbangku untuk masuk lebih dalam ke dunia ODOP. Sekali lagi, ini adalah skenario Allah. Yang sudah mengenalkanku secara perlahan.

Tadinya aku sebatas tahu, ODOP, One Day One Post. Sudah segitu saja. Kemudian mulai mengikuti feed yang dibagikan di platform media sosialnya, instagram. Dan pelayaranku pun dimulai. Bertanya ini itu kepada sahabatku tadi tentang ODOP. Meski sebenarnya aku belum juga bisa fokus pada informasi-informasi yang kugali. Tapi itu menjadi sebuah kumpulan cerita yang hari ini akhirnya bisa kurangkai. Sebagai penggalan sejarahku di dunia literasi.

Tentang Ramadan Writing Challenge (RWC)

Ini adalah tantangan menulis setiap hari selama 30 hari. Peserta yang telah terdaftar di program ini dimasukkan ke WhatsApp Group utama dan grup kecil. Aku dulu masuk grup apa ya? Lupa. Sebentar tengok dulu ke salah satu post-nya ya. Barangkali ada. Tapi sayangnya tidak ketemu, dan aku masih ingat belum keluar dari grupnya. Aku dulu masuk grup Aisyah. Hai, squad RWC dari grup Aisyah ... Apa kabar?

Di sana kami didampingi oleh banyak PJ dari ODOP. Eum, ada apa saja ya dulu di grup? Yang paling aku ingat adalah setoran dan laporan. Terus kami (baca: para peserta) ini akan saling ramai di masing-masing post yang kami kunjungi. Saling menyambangi tulisan teman membuat kami semakin kaya. Yes, kalian benar. Kita akan semakin kaya diksi, juga kaya informasi, yang insyaallah teman-teman akan bertanggung jawab dengan tulisan mereka.

Untuk laporan, kami disediakan formulir on-line base on google form. Diantara poin yang harus kami isi adalah nama lengkap (berupa daftar gulir), nama grup, nomer whatsapp, tema yang disetorkan. Sebenarnya di sini akan ketahuan, siapa yang rapelan atau tepat waktu. Cuma menurutku kekurangan dari cara ini adalah di kontrolnya. Peserta enggak bisa ikut memantau, apakah sudah laporan atau belum. Ya minimal untuk cross-check miliknya sendiri. Gara-gara ini aku sempat bersitegang sama PJ. Karena beberapa peserta mengeluhkan laporannya, sudah masuk atau belum, sudah lengkap atau belum. Termasuk aku sih. Hehehehe ....

Tapi kemudian berbagai usulan tidak diaminkan sebab mungkin itu sudah menjadi kesepakatan panitia. Jadi, semacam apa ya? Latihan kita tuh double gitu ya. Enggak cuma yang nulis, share, terus laporan. Tapi juga bagaimana mengelola emosi, latihan problem solving, dan bisa jadi juga itu untuk latihan konsentrasi. 😄 Terlalu tinggi ya analoginya. Ya tidak apa-apa, namanya juga usaha untuk husnuzan. Tapi, siapa tahu juga jadi bahan evaluasi panitianya. Hehehehe ....

Sudah yuk, balik topik ....
Peak-nya, kami menunggu informasi pendaftaran ODOP untuk batch #7. Dan alhamdulillah, rezeki ini datang di waktu yang tepat. Memang kan? Semua itu akan menghampiri kita di saat yang tepat menurut Allah. Makanya, kita tuh mestinya minta sama Allah, semoga apa yang kita ingini itu juga sesuatu yang Allah ridai untuk kita, gitu.

Pendaftaran ODOP

Ada yang masih ingat proses pendaftaran kemarin seperti apa? Aku sedikit lupa.

Oiya, kita bikin dulu tulisan tentang menulis adalah duniaku kemudian dibagikan ke instagram sebagai feed. Kita harus menyertakan hastag tertentu juga menandai akun komunitas ODOP dalam postingan. Soal hastag dan menandai mungkin tidak jadi soal berarti ya. Tapi, bagaimana dengan tulisan yang harus dibagikan itu. Eum, daftar hampir mendekati deadline bukan lah pilihan terbaik. Tapi, mau bagaimana lagi. Sempat terpikir untuk menyerah, mungkin belum rezeki belajar di sana. Tapi ternyata takdir berkata lain. Aku pun membuat tulisan itu dalam sekali duduk dan membagikannya seketika.

Setelah terkirim, bahkan aku lupa kapan harus menyimak pengumuman. Setelah itu ngapain? Sama sekali tidak ada bayangan di kepalaku. Karena memang saat itu aku sedang mempersiapkan laporan akhir bulan. Maka, lupakan semua hal di luar tugas publik ini.

Lolos Seleksi Awal

Ketika pengumuman rekap nama yang sudah berhasil mendaftar, aku pikir sudah pengumuman final. Ternyata masih harus menunggu beberapa hari lagi. Baiklah, aku akan menunggu. Pasti.

Tapi sahabat, ternyata setalah itu aku benar-benar tidak ingat akan menengok lagi, apakah sudah pengumuman atau belum. Sampai kemudian salah satu panitia yang sekarang merupakan salah satu PJ di kelompokku, menghubungi melalui pesan chat pribadi. Semacam surat formal gitu.

Isi pesan itu adalah ucapan selamat atas keberhasilanku lolos di seleksi awal pendaftaran ODOP. Kemudian aku dipersilakan masuk ke grup utama melalui pranala yang sudah dibagikan, terlampir dalam pemberitahuan tersebut.

Saat itu yang terlintas di benakku bukan yang bahagia aku sudah lolos gitu, enggak. Aku malah bertanya sendiri, hah? Serius ini, masih seleksi awal. Ada seleksi lanjutan dong berarti. Akan seperti apa seleksinya?

Oiya, dalam edaran itu juga dicantumkan bahwa selama dua bulan ke depan, aku akan mengikuti sebuah perjalanan. Semacam karantina. Di dalamnya akan ada program belajar dan tantangan. Kalau aku bisa melewati tantangan di setiap pekannya, maka aku akan lolos pada pekan berikutnya dan seterusnya. Eh, tapi ini aku tahu setelah masuk grup utama sih sahabat. Jadi, sebelumnya juga enggak tahu, bakal seperti apa kita di dalam sana. Tapi, so far yakin aja kalau aku bakal melewati ini dengan berhasil.

Yo pasti enggak mulus begitu sih ya. Seperti dua hari ini aja contohnya. Aku sudah seperti yang mau nyerah aja. Ide menulis kabur entah ke mana. Kalau pun ada, aku enggak nemu feel-nya. Jadi semisal nulis pun rasanya hambar. Kaya kalau masak enggak dikasih garam. Bayangin aja sendiri rasanya gimana. Asli enggak enak seperti itu. Kenapa? Karena kita punya kebutuhan yang harus disalurkan dengan tuntas. Kalau enggak, dia bakal jadi semacam ancaman dalam diri sendiri. Ya, bisa saja wujudnya semacam enggak mood lah, enggak fresh, berasa kaya ada yang kurang aja. Jadi, makanya itu, paksa, paksa dan paksa. Nulis tuh juga harus dipaksa.

Setelah Tiga Pekan

Tak terasa purnama hampir saja kembali menyapa. Tiga pekan berlalu menghasilkan beragam coretan dariku. Entah apa saja isinya. Semoga saja sesedikitnya ada manfaat yang bisa diambil oleh sahabat PeKat.

Setelah berhasil melewati dua tantangan, akankah aku menyerah di sini? Saat aku harus menggenapkan tantangan ketiga, untuk dapat lolos ke pekan berikutnya? Oh, tidak! Meski rasanya seperti mengecap trauma. Aku cenderung meresponnya secara berlebihan, seperti ada getaran tak biasa di dada sebelah kiri. Iramanya tak tentu seperti habis lari sprint. Padahal aku sendiri sudah lama tak melakukan itu. Tiba-tiba saja telapak tanganku berkeringat, seolah aku sedang merasa gugup menghadapi tes interview, padahal wawancara saja belum pernah kulakukan.

Ya, tantangan pekan ketiga itu membuat resensi atau review. Aku pikir, kita harus bikin resensi. Tak ada lagi di kamusku akan membuat review  kali ini. Ternyata ada pandangan yang kurang detail kali ini. Baiklah, aku harus mengakui bahwa diriku lelah. Hehehe ....

Sehemat penjelasan PJ malam ini. Beda resensi dan review secara lebih mudah. Bahwa review lebih ke pengalaman kita saat membaca sebuah buku. Oh, berarti seperti yang kubuat selama ini. Pikirku mengamini.

Dan mari kita kemas, kecemasanku menjadi sebuah cerita dalam review buku yang kupilih nanti. Aku sepertinya sudah mulai menemukan, akan membuat review  apa. See you on my coffee room. Kamu akan menemukan beragam cemilan dan minuman sebagai pelengkapnya. Mungkin bukan snack seperti yang biasa kalian timbang di toko kue. Tapi ia lebih mirip lapis-lapis kebahagiaan. Temukan bahagiamu di setiap bait dan barisnya ....

Ruang Virtual Bernama Sapporo

Sejak kehadiran kami di kota ini. Aku merasa ada yang lain. Tapi entah apa. Aku belum bisa menemukannya secara penuh. Tapi aku percaya, teka-teki tidak selamanya akan menjadi semisterius di awalnya. Jawaban perlahan akan terungkap. Seiring keseriusan dan ketelitianmu dalam menyelesaikan setiap persoalan.

Awalnya aku terkesima dengan nama ruang virtual ini. Kenapa dinamai Sapporo dan disertai emoji berkaca-kaca. Ketika aku bertanya, hampir semua PJ sepakat melimpahkan jawaban kepada seorang PJ. Entah dari mana datangnya, tetiba dia memberiku satu kata pada pesan di saluran pribadi. Dan jawabanku pun mengalir begitu saja.
Hujan?
Gerimis yang tak pernah usai
Meski basahnya telah bergantu kering di antara kaki langit
Sebelum pembagian kelompok ini, aku masih sangat berharap bisa satu kelompok lagi dengan teman-teman dari grup Aisyah. Dan sempat khawatir aku sulit beradaptasi dengan anggota baru. Tapi ternyata, atmosfer di Sapporo lebih dominan dari rasa takutku. Sehingga aku justru merasa lebih fleksibel di sini. Dan merasa menemukan keluarga baru, bernama Sapporo.

Sejak awal menginjakkan kaki di sana. Aku sudah lebih dulu ingin bertanya ini dan itu. Dan ternyata, semua itu bersambut dengan keramahan semua PJ. Mereka mungkin saja sepakat menjadikan Sapporo ruang yang lebih nyaman untuk kita. Diskusi dari segala macam jenis bahasan, sampai candaan yang kadang tak tahu malu membuatku geli seketika. Tak jarang aku tertawa menyaksikan kekonyolan teman-teman segrup ini. Ya, seperti harapan semua PJ. Semoga kami lolos sampai akhir. Menjadi bagian keluarga besar ODOP.

The Last But Not Least

ODOP bukan hanya sekedar membuat blog kemudian membagi tulisan lantas berulang.

ODOP juga bukan hanya sekedar membentuk seseorang menjadi blogger minded.

ODOP juga bukan sekedar membuat seseorang pandai membagikan hal yang bermanfaat.

Lebih dari semua itu.

ODOP juga mengajarkan kita untuk saling membantu, mendukung, dan memberi semangat. Berbagi ilmu juga membangun karakter.

ODOP memberimu banyak ruang untuk bisa berkreasi. Menyesuaikan bahasa kreatifmu. Karena mungkin masing-masing dari kita memiliki hal yang berbeda. Seperti halnya bahasa cinta.

Meskipun ODOP bukan satu-satunya. Tapi memiliki teman yang seasa dan sevisi akan membuatmu lebih nyaman bergerak. Lebih kokoh dalam menegakkan istiqomah. Karena satu sama lain tahu bagaimana merasakan. Jadi saling menopang dan memberi dukungan adalah bekal untuk bisa berdiri sama tinggi. Maka, kearifan pada diri masing-masing supaya tetap dan terus bertumbuh sesuai fitrah dan kemampuan yang sudah Allah install.

Selamat berkarya dan berjuang teman-teman ODOP #7

Sampai jumpa di coffe break berikutnya.

Kediri, 27092017

Rabu, 25 September 2019

Membersamaimu

September 25, 2019 14 Comments
Ada hal yang ingin kusampaikan
Ini tentangmu

Hari ini, adalah hari pertamamu di tahun kedua
Susah senang telah kita lewati bersama
Selama setahun ini
Bukan aku tak pernah mengeluh
Hanya aku yang terlalu lelah untuk beradu
Kadang kita hanya sepenggal kisah
Tapi kamu, tetap menjadi prioritasku

Ada alasan tertentu
Mengapa aku belum memutuskan untuk seleh
Mengapa aku masih mempertahankan mereka
Untukmu
Ya, aku ingin meninggalkan jejak
Sedalam yang kau mampu mengingatnya
Sejauh kamu mampu menggenggamnya
Kalau bisa selamanya
Meski kelak metamorfosis itu akan memperbaikinya
Sebab tak ada keabadian
Yang kau punya hanyalah pembaruan

Satu tahun bukanlah waktu yang singkat
Tapi teramat cepat untuk dilalui begitu saja
Sudah banyak peluh dan mungkin air mata
Rasanya memutuskan untuk menyudahi
adalah pilihan paling membahagiakan
Tapi, nyatanya kami ingat
Ada beban umat di depan sana
Jika kami memaksa diri untuk usai hari ini

Satu tahun bukanlah tanpa apa-apa
Meski gerak kami tak dapat dinikmati secara kasat mata
Tapi kami percaya
Kamu mampu memahaminya
Melebihi kami yang cita-citanya belum tuntas terejawantahkan

Kami menggenggam misi
Supaya kamu menjadi lebih baik kelak
Bukan karena aura atau pun kharisma
Tapi lebih kepada sistem yang ada
Semoga Allah perindah langkah kami
Untuk membersamaimu setahun lagi
Jika Allah izinkan,
Secepatnya kami akan mengakhiri
Bukan menyerah tanpa tahu diri
Kami ingin memenangkan misi
Dengan high ending energy

Bismillahirrohmaanirrohiim
Mari kita mulai dari sini
Berbenah dan memperbaiki
Segala sistem yang terotomatisasi
Supaya misi dan cita-cita kami tercapai
Dan kelak,
Engkau berjaya di seluruh negeri
Di darat, laut pun udara
Meski kecil langkah kami
Jejaknya terasa sampai ujung nagari

Barokallahu fii umrik
Ibu Profesional Kediri Raya

Sumber: Dokumen Pribadi
Desain: Canva

Kediri, 25 September 2019

Selasa, 24 September 2019

Dokter juga Manusia

September 24, 2019 0 Comments
"Duh rasanya ko ga enak ya?" Tiba-tiba di tengah percakapan kami, dokter mengatakan yang dirasakannya. "Gini ini mereka tidak tahu penderitaanku, yang mereka tahu, mereka minta tolong diperiksa. Mana ada yang berpikir apa yang kuraskan?" Lanjutnya lebih bergumam pada diri sendiri.

Aku terdiam sejenak. Seolah kehilangan kekuatan untuk menjawab argumennya. Atau aku memang sedang tak bersemangat untuk berceloteh. Tapi, bukan aku saja sepertinya yang merasakan ini. Beliau pun sedang tidak pada mood yang baik. Ya, seperti yang kukatakan tadi, tidak bersemangat. Kurang ada selera untuk bercanda. Biasanya tidak seperti itu.

Malam itu, pemeriksaan berjalan cukup cepat dan ringkas. Kalau biasanya aku bisa sejam di dalam. Sampai-sampai pasien yang antre setelahku ngedumel enggak jelas. Tapi tidak untuk kemarin. Rasanya kami hanya sedikit saja bercanda. Mungkin juga karena kondisiku yang sedang drop, jadi tidak ada selera humor yang biasanya pecah.

"Dok, memang tidak apa-apa kalau yang lain nunggunya lama?" Tanyaku suatu ketika. Karena aku pikir dokter ini lain dengan yang pernah kutemui sebelumnya.
"Saya ini memeriksa sesuai dengan kebutuhan pasien. Kalau pasiennya butuh waktu satu jam, ya saya tidak bisa memaksa harus keluar sebelum itu. Kalau yang lain mau antre, ya silakan menunggu, kalau tidak ya sudah. Saya di sini tidak untuk mencari berapa banyak pasien. Tapi kepuasan mereka. Untuk apa kalau periksanya enggak tuntas?"

Wow... Semakin aku merasa tidak perlu lagi mencari. Cukup sudah. Insyaallah berjodoh di sini. Dan alhamdulilah aku sudah menjadi member beliau sejak tahun 2015. Dan menurutku ini doker yang tidak hanya menyentuh ranah fisik saja. Meskipun tidak secara keseluruhan juga menangani sisi psikis, tapi cukup piawai memainkan perannya. Aku lupa apa istilahnya.

Empat tahun menjadi pasiennya, bukan tidak mungkin kami memahami satu sama lain. Meskipun tetap dalam batasan-batasan tertentu. Karena kami bertemu juga hanya jika aku ingin check up. Nah, justru dari obrolan-obrolan ringan itu, aku seperti mendapat teman baru. Meski mungkin usia kami sebenarnya terpaut agak jauh. Tepatnya berapa, aku sendiri tidak tahu. Dan merasa tidak perlu tahu sejauh itu. Selama kami baik-baik saja, insyaallah everything it's gonna be okay. Artinya enggak ada yang perlu dikhawatirkan.

Percakapan-percakapan yang tanpa sengaja terbangun ini, justru memberiku banyak warna. Menemukan beragam insight. Bahkan diskusi kami seringkali membuahkan banyak ide di kepalaku. Membocorkan keran-keran yang tak sengaja kututup. Dan menderaskan hal-hal yang sedang mengalir di sisi lain pikiranku. Ruangan 3*3 menjadi saksi, di mana aku bisa tertawa lepas dan bicara layaknya teman bermain. Aku tak mengalami cemas sama sekali di sini. Pemeriksaan pun berjalan normal dan semua berakhir dengan puas. Karena aku justru pulang dengan membawa segudang informasi baru.

Empat tahun yang sangat berarti. Mengubah pola pikirku terhadap kesehatan. Dulu, aku tipikal shopping doctor. Aku termasuk orang yang tidak mudah percaya. Satu diagnosa membawa kepada diagnosa yang lain. Berganti-ganti dokter bahkan spesialis. Lucunya di usia muda pun aku sudah mencicipi obat jantung dosis rendah.

Dokter Cha mengantarkan keyakinan lamaku untuk kembali didekap. Apa yang sudah kuketahui lebih dulu, dikuatkan dengan diagnosanya. Sehingga aku lebih mudah menerima. Juga lebih yakin untuk pulih. Tentu saja, semua itu karena izin Allah. Langkah kakiku dan semua yang beliau ucapkan semua atas kehendak Allah.

Selain pengobatan untukku sendiri. Seperti yang kukatakan tadi, kami sering diskusi, apapun. Seringnya tentangku memang. Karena selain pemeriksaan fisik, ada sesi semacam konsultasi. Ya seperti yang diceritakan di awal. Tapi, akhirnya di situlah aku paham. Dokter itu juga manusia lho. Punya perasaan, punya sisi lemah juga, kadang sakit juga.

Sedangkan kita tanpa sadar mengatakan bahwa dokter kok bisa sakit, atau dokter kok bla bla bla. Hai PeKat, aku mau ingatkan kalian. Dokter itu juga manusia yang dibekali fitur kelebihan sama Allah. Tapi bukan berarti dokter adalah makhluk tanpa kelemahan. Bukan juga dokter enggak boleh urus dirinya atau pun keluarganya. Bahkan mungkin kalian tidak pernah tahu, untuk menolong kalian, dia lupakan rasa sakit yang sedang dialaminya.

"Bagaimana enggak tetap masuk, segini banyaknya." Ucapnya sambil menepuk tumpukan RM sederhana dari pasien yang sudah mengantre.

Itulah mengapa, simpati itu perlu dalam dunia sosial. Kalau bisa sampai tingkat empati. Biar kamu enggak mudah ngeluh. Enggak mudah menyerah. Karena kota enggak pernah tahu, bagian mana dalam diri kita yang justru Allah terima sebagai amal ibadah. Siapa kira jika bersabar dalam antrean tanpa memaki justru bernilai ibadah.

Wallahu a'lam bishshowab

Kediri, 24919

Senin, 23 September 2019

Terapi Menulis Ekspresif (TME)

September 23, 2019 5 Comments
Bismillahirrahmanirrahim
Hari ini aku mau berkisah tentang TME.
___**___
Tujuh tahun yang lalu
Menulis menjadi sesuatu yang istimewa untukku. Sampai-sampai mahasiswi tingkat akhir ini memutuskan untuk mengabadikannya dalam riset tugas akhir. Meskipun istimewa, bukan berarti semua berjalan tanpa halangan. Termasuk berganti-ganti tema penelitian.

Jika kalian memilih riset dengan metode eksperimen, mestinya bisa membayangkan apa yang seharusnya kulakukan. Tapi, tidak berhenti di situ. Penelitian terdahulu dari tema yang kuambil telah terbukti berpengaruh. Dan pertanyaan dosbimku saat itu adalah mau apa.
Kalau sudah terbukti berpengaruh antar variabel yang kamu teliti, lantas kamu mau apa? Penelitianmu mau dibawa kemana? Apa kontribusi yang bisa kamu berikan?
 Sejenak aku terdiam dan hanya tersenyum kikuk. Apa yang harus kulakukan setelah ini? Apa yang bisa kuperbaiki? Berkecamuk segala pikiran dan pertanyaan untuk menemukan jalan keluar.

Setelah bimbingan hari itu, aku lama tak kembali. Banyak merenung dan berkontemplasi dalam kebimbangan. Tanpa tahu harus bertanya kepada siapa lagi untuk berdiskusi. Satu metode Beliau selipkan pada pertemuan singkat itu. Mixed methode.

Yaa Allah, apalagi ini? Aku setengah mati menghindari metode kualitatif. Lantas sekarang diminta menggunakan mixed methode. Sekali lagi, aku berpikir. Apa yang bisa kulakukan?

Tak banyak yang bisa menjadi opsi. Aku pun memutuskan untuk pelan-pelan mencari referensi. Alhamdulillah salah satu teman yang juga bimbingan bersamaku. Menggunakan metode tersebut. Bahkan aku sampai membeli buku yang membahas khusus tentang mixed methode. Untuk memilih metode mana yang paling tepat dalam risetku dan sebagai referensi tentunya.

Well, akhirnya metode yang kupilih disetujui dosbim. Karena mixed methode, mau tak mau aku tetap harus menggunakan metode kualitatif. Hah, harus siap apapun yang harus kukerjakan nanti. Batinku mengukuhkan. Interview-nya toh sama responden. Pikirku lagi.

Ya, aku menghindari metode itu karena tidak suka jika harus melakukan serangkaian proses wawancara dan segala interpretasinya. Saat itu aku sama sekali tidak menyadari kelebihan apa yang Allah install untukku. Karena sudah menyerahkan hati dan mengukuhkan diri, aku pun berangkat dengan proposal yang sudah kususun sebelumnya.
***
Mencari responden tidak semudah mencari makan. Hahaha kenapa makanan? Ya, asal kalian tahu saja. Di sekitar kampus menjamur berbagai macam warung makan. Mulai dari makanan ringan sampai yang paling berat.

Sasaran pertamaku sebetulnya di sebuah rumah sakit swasta di bawah PTPN X. Tapi kemudian, karena sebulan tidak menghasilkan apapun. Aku memutuskan untuk oper tempat. Tidak ada pilihan lagi, waktu tak mungkin berdiam diri hanya untuk menungguku, bukan? Aku memilih klinik kampus. Dan ternyata, rezeki dari Allah itu hadir. Bahkan tak terbayangkan. Kendalanya hanya satu, jumlah respondenku tidak mememnuhi syarat eksperimen. Yaitu minimal sepuluh orang.

Setelah diskusi lagi dengan dosbim, jawaban yang kudengar kali ini lebih menentramkan. Hahaha, bukan berarti sebelum-sebelumnya bikin galau. Sungguh itu benar 😆 . Tapi justru itu aku semakin banyak belajar. Dapat banyak bonus lah intinya. Termasuk yang sampai saat ini kutekuni, dunia editor.

Dosbim menyatakan tidak masalah dengan responden yang ada. Dan memintaku untuk lekas melangkah ke tahap berikutnya. Bisa dibayangkan dong, setelah menanti sekian purnama, akhirnya aku bisa melanjutkan. Bahkan tinggal beberapa langkah lagi, aku sudah bisa mengantongi tiket yudisium.
***
Sebulan yang lalu
Aku mau ngucapin terimakasih k mbk handa yg udh ngajarin Aku terapi nenulis 💖
Jujur aku shock. I do nothing to her.  Bagiku, itu bukan karena aku. Aku tidak merasa mengajari siapapun. Apalagi dengan kualifikasiku saat itu. Mahasiswi semester akhir yang sedang berjuang menuntaskan misi. Lantas, bagian mana yang bisa disebut aku ngajarin?

Setelah sebulan yang lalu kita berbincang santai. Kemarin aku melihat berita membahagiakan itu hadir. Insyaallah dia mau menggenapkan separuh agamanya. Diam-diam aku menggenggam namanya dalam doa. Hanya dia satu-satunya respondenku yang masih menjalin komunikasi. Meskipun tidak instens. Hanya sesekali waktu kita bertegur sapa.

Lagi-lagi aku memberi jejak pada kabar berita yang sengaja ia titipkan di medsos. Satu-satunya media yang masih menghubungkan kami, selain doa yang diam-diam menyisip di hati kami. Dia pun merespon komentarku. Tapi sekali lagi, dia membuatku terpaku. Lebih ke penasaran. Apa yang sebenarnya dia lakukan setelah pertemuan-pertemuan kami, setelah jejak langkah terakhir kami di gedung hijau. Seingatku, dia hadir saat wisuda. Dan setelah itu, kami hanya bisa say hello yang sering terabaikan.

Thankyou mb therapist ku ❤️
She said that. Well, kali ini di ruang umum, sahabat. Sekali lagi aku berkaca, what I did? I did nothing. Ya, aku tidak melakukan apapun untuknya. Justru aku yang harusnya berterimakasih. Karena dia mengerjakan apa yang kuminta dengan sepenuh hati. Jika tidak, mungkin hari ini aku tidak akan pernah tahu kabarnya yang semembahagiakan ini. Meski demikian, bukan berarti yang lain tidak mengerjakannya. Karena memang prosentase keberpengaruhan itu berbeda-beda tiap responden. Ada yang malah enggak berpengaruh sama sekali.
***
Jadi, apa yang kukerjakan pada saat itu sahabat PeKat?

Aku mencari lebih jauh tentang manfaat terapi menulis ekspresif bagi penderita psikosimatis. Dan tiga tahun ke belakang, aku menyadari. Bahwa faktor terbesar adanya pengaruh atau tidak adalah kemauan. Kemauan untuk menyadari kondisi diri. Kemauan untuk terbuka dan menerima dengan hati situasi yang sedang dihadapi. Dan kemauan untuk memperbaiki kondisi diri yang abnormal.

Kalian tentu paham, tidak semua orang mampu melakukan itu. Banyak di antara kita lebih memilih untuk mengelak dan menghindar. Parahnya mereka ini tidak menyadari.

Seperti halnya menulis. Aku akan menyampaikan apa yang paling dekat denganku. Apa yang paling aku pahami. Dan tentu saja sesuatu yang paling kukuasai. Lantas apa hubungannya dengan riset yang kulakukan?

Adalah sesuatu yang tidak masuk akal jika kemudian memilih diri sendiri sebagai responden. Kenapa? Karena riset memerlukan banyak pendukung, dan dia juga bakal menemui banyak bias. Jika kita tidak hati-hati dan teliti.

Benar. Berangkat dari kondisiku sendiri, aku memilih tema ini. Dan meski berbeda dari yang kuharapkan, jelas ya? Karena memang responden minim. Akhirnya tugas akhirku berdamai dengan metode kualitatif. Judulnya pun berubah menjadi studi kasus. Tentu saja, tidak dapat digeneralisasi.
***
Segala rangkaian treatment yang kuberikan, murni keinginan subyek. Aku hanya memandu, apa yang perlu dan tidak perlu mereka lakukan. Selain itu, aku memang membuka diri untuk menjadi teman bicara selagi mereka butuhkan. Sebab, bukan tanpa efek. Justru terapi ini butuh pendampingan sebenarnya. Karena kalau ternyata yang ditulis adalah hal tersensitif, subyek akan mengalami beberapa keluhan sebagaimana psikosimatis yang ia alami.

Dan aku bersyukur, sekalipun subyekku yang satu ini mengungkapkan hal paling sensitif. Dia komitmen untuk menyelesaikannya. Bukan hanya itu, entah karena disembunyikan dariku atau memang demikian, keluhannya tak membutuhkan penanganan khusus dari medis.

Kalian tentu paham, tujuh tahun yang lalu. Terapi itu mulai dikerjakan. Oleh dirinya sendiri. Dan sekarang dia merasakan efek positif dari keputusannya. Allahu Akbar. Alhamdulillah. Segala puji hanya untuk Allah. Semua itu karena Allah yang menggerakkan hati kami. No others.
***
Itulah kenapa, langkah kecil kita sebagai bentuk kepedulian, sekali pun bagi kita hanya sepele. Ternyata begitu berharga bagi orang lain. So, berhenti memperhitungkan. Berhenti menimbang. Jika ada niat baik di hati, lakukan segera. Karena belum tentu kesempatan akan menghampiri kita lagi.

Kata gurunda dalam salah satu post
Sumber: Story IG Bu Septi Peni Wulandani

Ya, kita tidak perlu mengejar bagaimana caranya membahagiakan orang lain. Dan kita justru harus yakin bahwa apa yang kita kerjakan akan membuat kita bahagia. Perihal orang lain turut bahagia dengan apa yang kita kerjakan, itu namanya bonus.

Sama halnya ketika sahabat PeKat ingin membantu orang lain. Just do it! Dan perhatikan apa yang memang orang lain butuhkan. Jangan sampai, niat baik kita justru jadi petaka bagi orang lain. Eum, pernah nonton video singkat? Di mana ada orang sedang olah raga, kemudian ia bertumpu tangan ke mobil merahnya. Tapi, naasnya, orang lain melihat itu sebagai upaya mendorong sebuah mobil. Sehingga mobilnya jatuh ke jurang.

That's it, kalian tentu jauh lebih paham dariku.
___**___

Apapun itu yang kamu lakukan, niatkan lillah. Semoga Allah membalas kebaikanmu dengan kebaikan yang jauh lebih baik.

See you on the next letter.
Semoga yang sederhana ini mengandung hikmah yang bisa diambil.

Assalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barokaatuh


Kediri, 23919

Minggu, 22 September 2019

Learning by Walking

September 22, 2019 22 Comments
Bacanya, belajar sambil jalan-jalan.

Sahabat PeKat pasti sering mendengar, ketika sedang tidak fokus pada pekerjaan atau merasa sangat bosan, kemudian ada yang bilang kurang piknik, butuh piknik, dan hal lainnya yang berbau piknik. That's why hari ini aku mau membahasnya.

Ternyata ada benarnya lho. Karena ternyata ketika di jalan kita bisa belajar banyak hal tentang hidup, lingkungan, sosial, dan alam. Everything that you see. But of course, ada harga yang harus dibayar untuk bisa mendapatkan semua fasilitas tersebut. Oh tidak! Harga tidak mesti berhubungan dengan uang ya sahabat. Kamu bisa memaknainya dengan apa yang bisa kamu tukar. Seperti halnya barter.

Jadi, kamu bisa membayarnya dengan apa untuk bisa belajar sambil jalan-jalan itu. Kepekaan. Coba kamu ingat-ingat lagi, pernahkah ketika jalan-jalan kamu melihat realitas sosial, kemudian berpikir tentang kenapa itu terjadi? Satu pertanyaan saja, aku yakin mampu membawamu pada sebuah perenungan hingga kamu mendapat pelajaran-pelajaran baru hari itu.

Well, semua itu cuma bisa diraih jika kamu sudah mengaktifkan fitur peka di hati dan seluruh inderamu. Sebab mereka yang akan pertama kali merekam, hingga kemudian diolah oleh akal dan hati. Maka, piknik seperti inilah yang mestinya kita butuhkan.

Piknik atau jalan-jalan pun bukan hanya sekedar melangkahkan kaki keluar rumah. Tapi sambil sesekali menengok kehidupan sosial di sekitar kita. Dengan begitu, sisi kemanusiaan kita akan kembali full energy. Meski mungkin apa yang kita lakukan di luar sana sangat sederhana. Sesederhana kamu melangkah untuk berjalan. Tapi, tidak kah kamu sadar bahwa banyak sekali nikmat yang kamu terima ketika sedang bersenandung dengan alam.

Hehijauan yang sedang kamu nikmati adalah anugerah Allah. Udara segar yang tanpa kau sadari juga anugerah dari Allah. Semua itu rezeki yang tiada pernah sanggup kita menghitungnya. Tidak. Oleh karena itu belajar tak kenal waktu, media, juga usia. Apapun yang kita lakukan niatkan karena Allah dan ikhlaskan diri menerima hal baru, untuk kemudian dapat raih hikmahnya.

 Wallahu a'lam bishshowab

Semoga yang singkat ini dapat diambil manfaatnya.

Kediri, 22919

Sabtu, 21 September 2019

Kisah Inspiratif

September 21, 2019 4 Comments
Hai Sahabat Pekat?
Siapa yang mengira ini adalah sebuah kisah? Bukan ya ....
Hari ini aku mau berbagi tentang penulisan. Lagi-lagi tentang menulis. Seperti halnya cinta, ia tak akan pernah habis diperbincangkan. Setiap masa memiliki kisahnya sendiri-sendiri. Begitu juga menulis, menurutku. Menulis memiliki cakupan yang sangat luas. Mulai dari teori tentang teknik menulisnya sampai beragam jenis tulisan itu sendiri.

Nah, kali ini aku mau sharing  tentang Kisah Inspiratif. Sebenarnya ini adalah catatan perjalanan, selama aku menangani naskah dengan genre ini. Jadi, mari kita menjelajah bersama dan kalau ada yang kurang tepat dengan tulisan ini, Sahabat PeKat boleh lho memberikan saran dan tambahan di kolom komentar. Ok? Kita belajar bersama yuk...
___**___

Bismillahirrohmaanirrohiim
Menulislah dengan hati, maka akan sampai ke hati.
Sejatinya menulis adalah aktivitas berpikir. Meskipun secara kasat mata ia hanya tampak seperti hanya bermain-main saja dengan pena atau papan ketik. Meskipun ia merupakan perpaduan dari olah pikir dan keterampilan menulis atau mengetik, tetap saja perlu melibatkan hati untuk menuangkan ide-ide ke dalam media tulis. Dan apapun yang kita sampaikan tulus dari hati, insyaallah akan sampai juga kepada hati pembaca.

Sahabat Pekat tentu sudah mahir dalam hal membaca. Buku dengan jenis apapun atau dari jenis yang menjadi peminatan sahabat. Sekalipun temanya merupakan yang kita minati, tetapi tidak semua mampu menyentuh dinding di satu ruang hati. Betul tidak? Nah, hal-hal demikian ini memang menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi para penulis. Bukan hanya pembaca, aku yakin, penulis yang tidak menyertakan hatinya dalam proses menulis, akhirnya juga merasa hampa dengan tulisannya sendiri. Jadi, menulis yang melibatkan hati memang akan terasa full meaning dari pada yang hanya sekedar menulis.

Tuliskan hal-hal yang dekat denganmu.
Sahabat PeKat tentu tidak asing dengan tips ini ya? Di mana-mana aku pikir tips ini selalu turut serta saat ada kajian menulis atau kelas-kelas pelatihan tentang menulis. Karena memang menuliskan hal yang paling dekat dengan kita justru memberikan warna tersendiri bagi tulisan. Lain cerita jika kita harus membicarakan sesuatu yang tidak dikenal sama sekali.

Maka, menuliskan hal yang paling dekat adalah amunisi untuk meruntuhkan writer block. Sekali lagi, itu adalah salah satu cara saja. Selain itu tips ini juga berguna bagi pemula yang memang seringkali merasa bimbang akan menulis apa. Oleh karena itu, di tulisan sebelumnya aku menyebutkan, bahwa menulis itu butuh peka. Karena peka akan membantu kita untuk mengangkat sesuatu yang sederhana menjadi spesial, jika diungkap dari berbagai macam sudut pandang.

MENULIS KISAH INSPIRATIF
Kisah inspiratif sebenarnya adalah salah satu jenis tulisan dengan genre faksi. Yaitu fakta yang dikhususkan layaknya karya fiksi. Jadi, naskah dengan genre ini bersumber dari data dan fakta, bukan imaji dari penulisnya.

Untuk jenis ini, ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan. Meskipun bukan imajinasi seorang penulis tetap saja ada sentuhan fiksi di dalamnya. Sehingga naskah faksi terlihat menarik bagi para pembacanya.

Selain itu, kisah inspiratif harus ditulis menggunakan POV orang pertama. Siapa itu? Penulis. Jadi sekali pun kisah orang lain yang kita angkat, tetap saja sebagai penulis kitalah yang memiliki peran utama dalam penceritaan. Sampaikan apa yang membuatmu mengangkat kisahnya. Apa yang dapat pembaca ambil pelajaran darinya?

Jadi, POV 1 di sini yang dimaksud bukanlah sudut pandang orang pertama sebagai tokoh saja. Sahabat PeKat bisa mengangkat kisah orang lain juga, lho.

Nah, kalau buat sahabat Pekat, bagaimana? Apakah kalian punya pandangan tersendiri untuk ketentuan penulisan kisah inspiratif? Silakan dibagi di kolom komentar ya...
___**___

Kediri, 21919

Jumat, 20 September 2019

Keseimbangan Itu Penting

September 20, 2019 0 Comments
Me Time
Sejak pertama kali mengenalnya, aku sudah meletakkannya di sisi hati paling dalam. Menempatkan ia pada salah satu ruang tersembunyi. Memerhatikannya penuh. Meski kadang ketika lelah dan lengah, ia tetap luput dari pengawasan.

Sampai aku menemukan satu statement. Bahwa me time adalah salah satu bagian dari hidup bagus terutama untuk Ibu.

Untuk dapat mencapai posisi hidup bagus itu, salah satunya adalah menjaga "kewarasan". Meskipun bukan satu-satunya jalan, tapi bisa jadi me time adalah istilah populer yang umum untuk menyebutkan satu aktivitas. Tentu saja bukan kegiatan biasa. Karena ketika melakukannya, seperti sedang me-recharge gawai. Yup, batreinya perlahan terisi. Maka, ketika kita melakukan me time, energi kita pun terisi kembali.

Dan setelah melakukannya ada satu rasa istimewa bernama semangat. Karena kesimbangan itu perlu. Maka me time tidak boleh dikesampingkan. Ini menurut saya. Sedangkan untuk aktivitasnya, tentu saja masing-masing kita berbeda. Kalau pun sama, bisa jadi akan malah berbuah saling dukung satu sama lain. Dan me time bukan hanya sekedar membuang waktu. Tapi memanfaatkannya untuk berkontemplasi setelah penat melanda dan kembali full energy.
Jadi, inilah me time ala aku: membaca, menulis, craft, rajut, doodle dll. Tapi rasanya akan lebih berbinar setelahnya jika aku sudah memakan satu buku dan menulis pada hari itu.

Penggalan itu merupakan bagian dari diskusi menarik di ruang virtual Ibu Profesional Kediri Raya. Jadi, setiap hari kami akan disuguhi menu diskusi oleh BuManolCantik, Manager Online, untuk kita habiskan dalam satu hari itu.

Dan dua hari yang lalu sub menu dari menu utamanya parenting adalah me time. Bahwa ibu perlu meluangkan waktunya untuk me-refresh diri. Supaya tetap fix saat membersamai keluarganya.
___**___

Hari ini aku sedang tertarik mengangkat topik ini. Setelah bingung mencari bahan yang "cocok" untuk bisa kubagikan.

Dewasa ini me time ramai diperbincangkan. Terutama di kalangan ibu-ibu. Entah karena aku yang terlalu fokus pada komunitas perempuan. Sehingga tidak pernah mendengar atau membaca artikel serupa yang dikaitkan dengan kaum adam. Atau memang hanya kaum hawa yang memiliki perhatian khusus pada tema ini.

Terlepas dari itu. Ibu memang memiliki peran kompleks yang harus dipahami dan diperhatikan oleh seluruh anggota keluarga. Nah, karena peran yang kompleks inilah, ibu perlu satu waktu untuk berkontemplasi dengan dirinya sendiri. Menyusun kembali panel-panel yang perlu diperbaiki, atau bahkan mungkin meniadakan hal yang tak diperlukan.

Tersebab keseimbangan yang terjaga sangat diperlukan untuk menghadapi kenyataan. Maka, bolehlah seorang ibu nengambil jeda dari sejuta aktivitasnya untuk mengembalikan energi. Waktu inilah yang kemudian sering kita sebut dengan me time.

Ibu itu merupakan kunci. Sebab kebahagiaannya adalah kebahagiaan seluruh anggota keluarga. Kepedihan dan kemarahannya adalah petaka bagi seisi rumahnya. Maka, menciptakan dan menjaga hidup bagus itu dengan membantu ibu untuk menciptakan mood yang bagus juga. Salah satu caranya yaitu membuat ibu merasa bebas menyalurkan energi negatifnya pada tempat yang sesuai. Atau beri waktu sendiri untuk ibu melakukan apapun yang beliau inginkan.

Jadi, ketika seseorang mampu melewati masa kritis berupa kepenatan dan rasa lelah bahkan stres, maka hidup bagus bukan lagi sebuah mimpi. Oleh karena itu, siapapun kita perhatikan baik-baik. Bahwa menjaga keseimbangan itu penting.

Happy learning more
- manusia pembelajar tidak akan pernah menyerah pada langkah pertama -

Kediri, 20919

Kamis, 19 September 2019

Free Writing (FW)

September 19, 2019 13 Comments
Akhir-akhir ini aku menulis secara acak apa yang ingin kubagikan kepada pembaca. Di teks sebelumnya aku menyebut tulisanku itu random text (RT). Selain kontennya acak, pikiranku juga mengambil secara acak apa yang akan dituangkannya. Nah, kali ini aku tertarik untuk membicarakan tentang free writing.

Sederhananya, FW itu ya semacam RT versiku. Menulis apapun yang ada dalam pikiran tanpa beban. Tanpa berpikir tentang apapun yang berkenaan dengan tata aturan menulis. Jadi, bebas. Ini adalah salah satu cara untuk melepaskan diri dari kesemrawutan pikiran kita sendiri. Dan tentu saja supaya kita bisa menulis dengan bahagia. Sekali pun kalian yang belum menyukai aktivitas ini. Menurut Pak Haidar Bagir di pengantarnya untuk buku karya Pak Hernowo menyebutkan bahwa tulisan dan konsep Pak Hernowo ini membawa mereka yang tidak suka menulis menjadi menyukainya.

Dewasa ini tentu saja banyak ditemukan referensi yang berkait dengan manfaat menulis. Salah satunya yaitu membuat penulis bahagia. Maka, tentu saja ada tata aturan sendiri supaya menulis itu bisa mengantarkan pelakunya menjadi bahagia. Kira-kira apa menurutmu?

Yup, mengutip pengantarnya Pak Haidar Bagir dari Goldberg, bahwa suga menulis itu ada ketika seseorang berhasil mengalirkan pikirannya sendiri secara bebas. Nah, bayangkan jika ini dilakukan oleh para penulis pemula. Apa yang akan terjadi ya? Mungkin tidak ada yang namanya takut menulis, alasan bahwa ia tak bisa menulis, karyanya jelek, tidak percaya diri, dan lain-lain yang lebih buruk lagi  mungkin. Karena dengan begini justru akan membangun karakter baru dalam diri kita masing-masing.

Jadi, selain blog walking (BW) kita juga bisa mengatasi writer block dengan melakukan free writing (FW) terlebih dahulu.

Kemarin aku sempat ulas bahwa semakin kita fokus pada apa yang ingin kita tulis. Maka, semakin kita akan tertekan dan stres dalam kondisi tersebut. Oleh karenanya tulis saja apapun yang mengalir dalam pikiranmu, tanpa takut mengganggu atau kurang. Karena tidak ada manusia sempurna, jadi bagaimana kita tahu di mana letak kurangnya jika tak pernah mencoba.

Ok, see you soon.
happy reading and learn more

Assalamu'alaikum
Kediri, 19919

Rabu, 18 September 2019

Tantangan 2

September 18, 2019 0 Comments
Sumber: Dokumen Pribadi
Sewaktu kecil, pernah tidak bergumam atau bahkan teriak dengan keras mau jadi apa? Atau diam-diam kamu mengemasnya dalam doa untuk sebuah keinginan? Membayangkan akan menjadi dokter, polisi, guru, atau bahkan berbagai macam profesi lain yang kamu sendiri belum pernah melihatnya. Dan untuk satu event sederhana tetapi memberi kesan berbeda bagiku adalah bermimpi. Banyak mimpi sewaktu kecil, apakah kemudian kamu pernah berpikir saat ini, mimpi mana yang terwujud?

Pada satu momentum di bulan Ramadan tahun ini, aku terharu menyaksikan anak-anak menyuarakan mimpinya ketika dewasa kelak. Salah satu hal yang membuatku hampir berlinang air mata adalah ketika ada yang menyebut dirinya ingin menjadi psikolog. Spontan rasanya tubuh ini ingin meloncat. Buatku itu spesial. Aku sendiri baru terpikir dan menginginkannya ketika sudah menginjak kampus. Ah, bisa jadi dia tahu dari kakak kelas, atau mungkin kakak pengasuh di PA, pikiranku mengemas keterkejutan. Meski aku tidak yakin, tapi dewasa ini informasi semakin mudah diakses. Bukan tidak mungkin, seusia dia tidak tahu apa atau siapa itu psikolog.

Ramadan tahun ini, komunitasku kolaborasi dengan komunitas tetangga mengadakan buka bersama dengan anak-anak panti asuhan. Acara itu dikemas sesederhana mungkin tapi berkesan. Nah, sebelum masuk acara inti, temanku yang bertugas sebagai pemandu game, meminta sebuah perkenalan dari kami. Nama, dan pekerjaan atau cita-cita profesi harus kami sampaikan kepada audiens. Satu per satu secara bergiliran menyampaikan perkenalannya, termasuk aku.

Tibalah saatnya giliranku. Kusebutkan dua kata sebagai nama lengkap, kemudian penggilanku, dan terakhir adalah profesiku. Berat rasanya mengucapkan sebagai apa aku ingin dikenal orang. Namun, dengan tegas dan lantang aku menyebut diriku sebagai teman belajar. Bahkan saat itu tak terpikir aku akan menyebut diriku sebagai penulis atau mungkin guru sekalipun. Tapi, teman belajar memberiku ruh baru, sebagai kata ganti dari guru. Sebab, bagiku guru masih terlalu jauh untuk bisa berdampingan denganku. Terasa asing dan seperti bukan diriku.

Sebagai teman belajar, aku merasa lebih leluasa. Sebab teman belajar tidak melulu harus memberi arahan atau menyampaikan sesuatu sebagai bahan ajar. Justru aku lebih menikmati peranku untuk bisa belajar bersama dengan siapapun rekanku. Karena bagiku, semua guru dan semua murid. Termasuk malam ini. Aku akan belajar banyak hal bersama dan dari kalian.
__**__

Sudah saatnya berkontemplasi ...

Malam ini aku ingin kamu dan kalian tahu. Menulis bukan hanya sekedar imajinasi saat aku menginginkan profesi apa yang kelak kugeluti. Tetapi, menulis merupakan salah satu sarana bagiku untuk menemukan jalan berbagi dan menyampaikan ide. Menulis juga saranaku untuk menjaga diri agar tetap waras. Selebihnya, menulis adalah ketetapan yang harus kulakukan disamping membaca. Jadi, menulis sudah seperti rangkaian amunisi dan aspirin untukku.

Lalu, jika ditanya mau fokus pada jenis tulisan apa. Aku akan lebih bisa mengatakan bahwa saat ini aku tertarik dengan genre faksi. yaitu sebuah genre gabungan antara fiksi dan non-fiksi. Non-fiksi rasa fiksi. Kalau ditanya lebih spesifik lagi, aku sedang cenderung ke kisah-kisah inspiratif. Meskipun demikian aku tidak membatasi diri pada satu jenis saja. Sebab, mulanya aku terlahir dari bidang yang di dalamnya telah bersemayam jiwa-jiwa sastra.

Sajak yang terasa sangat familiar untukku terus mengalir hingga aku beranjak dewasa. Sampai pada satu titik, aku merasa tak pernah menuliskan apapun. Bahkan bersajak saja rasanya terlalu ringkih. Aku berhenti. Dan mungkin saja berubah haluan. Meskipun sebenarnya aku tidak pernah benar-benar pergi untuk berpaling.

Bertahun-tahun mengenal sajak hanya dari ayunan penaku sendiri. Aku terlalu naif untuk bisa menerima apapun dari luar. Meskipun sudah tenggelam dalam dunia pena sejak sekolah dasar. Aku tetap belum menyadari kebahagiaanku saat bisa membaca beragam jenis bacaan. Baru paham ketika aku mampu membaca sebuah novel dalam waktu singkat saat SMA. Dan kecintaanku pada dunia baca tulis semakin mengembara. Namun demikian, aku juga tidak unggul pada mata pelajaran Bahasa.

Ditilik dari bacaanku, mungkin aku cenderung ke fiksi. Tapi aku juga tidak menolak bacaan non-fiksi. Akan tetapi jika berbicara tentang selera untuk menulis, aku lebih berenergi pada faksi. Seperti tulisan-tulisanku di beberapa buku berikut:

Dari Nihil Menjadi Berhasil | Antologi pertama
Sumber: Dokumen Pribadi

Dilatasi Hati | Antologi ketiga
Sumber: Dokumen Pribadi

Ayat-Ayat Kehidupan | Antologi keempat
Sumber: Dokumen Pribadi

The Miracle | Antologi kelima
Sumber: Dokumen Pribadi


Menulislah Tentang Apa yang Paling Dekat denganmu

Alasan yang paling kuat mengapa aku cenderung ke faksi dari pada genre lain adalah dekat. Aku merasa lebih mengenal apa yang kusampaikan. Dan aku percaya tentang sesuatu yang disampaikan dari hati akan sampai ke hati (baca: pembaca). Faksi memberiku ruang untuk bercerita sekaligus menyisipkan aroma non-fiksi. Kelemahan dalam menciptakan karakter atau berimajinasi, membuatku urung menuliskan kisah-kisah fiksi. Meskipun aku sangat menikmati hasil karya berjenis ini.

Aku pikir perkenalan kita malam ini cukup dulu. Dan soal aku penulis dengan genre apa, semoga kalian paham dengan pemaparanku yang sedikit agak memusingkan ini. Meskipun demikian, aku tetap berharap ada selarik manfaat yang bisa kalian ambil. Semoga...

Selamat berkarya dan selamat membaca...

Assalamu'alaikum warohmatulloh wabarokaatuh

Kediri, 18919

Selasa, 17 September 2019

Menulis Itu

September 17, 2019 2 Comments
Menulis itu seni, seni menyampaikan ide, suara hati pun pikiran dalam bentuk tulisan. Apakah akan terbaca atau tidak, tidak jadi soal. Dan menulis itu adalah salah satu alat, untuk melahirkan apa-apa yang tak dapat kita sampaikan secara lisan.

Kalau menurut KBBI, menulis adalah 1) v membuat huruf (angka dan sebagainya) dengan pena (pensil, kapur dan sebagainya); 2) v melahirkan pikiran atau perasaan (seperti mengarang, membuat surat) dengan tulisan; 3) v menggambar, melukis; 4) membatik (kain).

Kalau menurut kalian, menulis itu apa?

Ada banyak cara pun media yang dapat kita gunakan untuk menulis sebagai seni ataupun alat. Salah satunya adalah blog. Akan tetapi, apakah kita sudah paham bagaimana etika berbahasa saat kita mulai menyampaikan opini? Tidakkah akan menjadi tabu, jika yang kita sampaikan nyatanya lebih tepat jika disimpan sendiri?

Meskipun demikian, ada banyak kasus yang dapat kita jadikan rujukan. Di mana catatan harian atau yang biasa kita sebut diary justru menjadi manfaat bagi orang lain. Ya, tentu saja bahasanya perlu dikemas ulang, diedit, diperbarui, dan layak untuk dijadikan bahan bacaan secara umum. Itulah mengapa, tulisan yang sudah kamu bagikan akan menjadi milik pembaca.

Terlepas dari etika. Kembali lagi pada media. Aku sendiri pernah mencoba berbagai media. Selain blog, aku pernah menggunakan Tumblr, kemudian ada Facebook, lalu ada path, line juga termasuk, dan yang sampai saat ini masih bertahan, instagram. Dari kesemua media sosial yang pernah kujelajahi, kenapa kemudian aku memilih instagram untuk tetap aktif berbagi?

Instagram lebih smooth bagi penulis pemula sepertiku. Kadang aliran pengembangan ide tak semulus semestinya. Aku butuh media yang lebih simple tapi cukup. Sedangkan blog, sempat menjadi primadona yang kemudian kubekukan. Karena di sini, aku butuh aliran yang cukup deras. Jumlah karakter yang kubutuhkan jauh lebih banyak, dari pada instagram.

Lain halnya dengan Tumblr. Media yang ini sebenarnya lebih friendly. Tampilannya yang seperti blog memberikan langkah nyaman tersendiri. Akan tetapi, karena sempat terjadi block, akhirnya mau tidak mau aku pun beralih.

Nah, kalau kamu suka pakai media apa untuk berbagi?
Satu pertanyaan yang melesak tak sabar untuk ingin segera menemukan jawabannya. Mengapa memilih menulis? Dan kenapa harus dibagikan? Apakah kemudian, semua hal yang dibagikan itu akan menuai manfaat? Bagaimana jika sebaliknya?

Pergolakan batin atau pun perang dingin semacam itu, seringkali menghantui langkah untuk melekaskan kita berbagi kisah. Kita tidak pernah tahu, titik mana yang ternyata bermanfaat bagi orang lain. Kita tidak pernah tahu, sampai kita telah membagikannya. Sebab, kacamata kita itu tidaklah mesti sama. Ada frame of experience (FOE) dan frame of reference (FOR) yang memengaruhi, sehingga tercipta perbedaan respon pada stimulus yang sama.

Iya, jadi kenapa aku memilih menulis?
Karena menulis menjembatani suara dan pikiranku untuk disampaikan kepada orang lain. Menulis juga membantuku mengurai berbagai ragam percakapan yang melintasi sinaps. Kadang, aku sungguh belepotan saat berbicara. Tapi dengan menulis, aku terbantu menata ulang apa yang harus aku sampaikan.

Kalian tentu tahu bukan, ketika seseorang hendak melakukan wawancara atau pidato. Mereka ada yang membawa kertas berisi poin-poin. Nah, itu salah satu manfaat dari menulis juga. Dia mengingatkan kita akan apa yang harus disampaikan. Agar wawancara atau pidato yang disampaikan tidak melebar jauh dari tujuan.

Sedangkan aku, meskipun kadang apa yang tertulis tak seluas yang dipikirkan. Setidaknya tulisanku membantu untuk menemukan alur dan arah kemana naskah ini akan menuju. Semakin banyak hal yang dapat kita tuang dalam tulisan, semakin banyak pula yang dapat kita sampaikan. Meskipun tetap saja, masing-masing memiliki batas toleransi terhadap suasana lingkungan.

Kemudian, kenapa perlu dibagikan?
Sebegitu banyak manfaat dari menulis. Akan tetapi, jangan sampai kita ceroboh menyampaikan isi hati dalam bentuk tulisan. Apalagi sesuatu yang hendak kita bagi. Lantas, apakah tidak boleh menulis isi hati. Tentu saja boleh. Tapi, perhatikan lagi media apa yang akan kamu gunakan untuknya.

Sekarang kenapa harus dibagikan? Tulisanmu itu tidak akan jadi apa-apa manakala hanya disimpan rapi begitu saja. Bisa dibayangkan, jika temuan ahli disembunyikan. Tentu saja teknologi tidak akan secanggih sekarang ini. Begitu juga tulisanmu. Kamu tidak akan pernah tahu, seberapa besar manfaat yang bisa diperoleh jika tidak pernah membagikannya.

Secuil kisahmu mungkin tak ada artinya bagimu. Tapi orang lain mungkin saja lebih jeli untuk menangkap hikmah. Seberkas ingatanmu mungkin saja lenyap dimakan usia. Tapi tulisanmu dapat membantu untuk menjaganya. Maka statement menciptakan sejarah dengan tulisan itu tidaklah salah. Kalau gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama. Dan namamu akan abadi bersama tulisan-tulisan peninggalanmu.

Wallahu a'lam bishshowab

Kediri, 17919

Blog Walking (BW)

September 17, 2019 28 Comments
Design by Canva


Pernah tak melakukan BW? Atau kamu lebih memilih stalking? 🤔😂😂😂 Ups...

Aku perlu katakan bahwa blog walking ternyata menyenangkan. Tidak hanya memantik ide juga dapat menghidupkan diskusi dengan pemilik blog. Apakah itu tentang isi blog atau justru melahirkan pembicaraan lain dari tulisannya. Sebab, obrolan ringan pun tercipta dari topik yang saling terkait, sambung menyambung sampai tak terasa bahwa obrolan itu telah berlangsung selama dua jam lebih.

Ketika kemarin aku melakukan satu hal yang keliru menurutku, dan lupa melakukan satu hal yang penting sebagai toleransinya. Atau kalau kamu keracunan, maka anggap yang kamu lupakan itu penawarnya. Bisa dibayangkan bukan, apa jadinya?

Yes, rasanya mati. Enggak tahu harus menuliskan apa. Aku seperti tidak pernah mengetahui apapun. Itu terjadi ketika aku hanya fokus pada menulis. Dan fokus pada apa yang kutulis. Padahal mestinya tema yang kuangkat bisa dikupas dari sisi mana pun. Tapi aku melupakan beragam teknik penawarnya. Salah satunya adalah blog walking.
___**___

Seperti tulisanku sebelumnya. Menulis itu tak lepas dari aktivitas membaca. Apa kamu berpikir bahwa membaca hanya sekedar memindai buku atau tulisan di blogku seperti ini? Tentu saja tak sepenuhnya benar tapi juga tidak salah. Pernah berpikir bahwa mengamati lingkungan dan menjadikanmu peka juga merupakan proses membaca?

Ya, membaca lingkungan juga salah satu cara kita menggali ide lebih dalam. Memantik sisi yang padam, supaya kembali menyala dan membara. Tapi yang kulakukan justru sebaliknya, fokus hanya pada tulisan. Dan yang terjadi adalah tidak menghasilkan apa-apa, kecuali teks yang ditarik ulur. Ketik hapus ketik hapus.
___**___

Oleh-oleh BW
PROSES KREATIF
Ada salah satu blog yang menyisakan catatan kecil untukku. Sebab adanya istilah proses kreatif, membuatku semakin dalam berpikir tentangnya. Hingga membawaku pada sebuah pengembaraan yang saat ini sedang kalian pindai. Selain itu ada dua kata di dalam tulisan tersebut yang berhasil ter-highlight dalam benakku. Yang kemudian melahirkan tulisan ini sebagai hasil dari kontemplasi tak membosankan.

Dua kata itu adalah dianggap mampu dan melanjutkan.

Aku meninggalkan jejak tentang kesan ini. Dan aku bicara dalam konteks keilmuan yang sejalan dengan konten tulisan. Bisa jadi itu justru menjadi pesan bagi pihak yang bersangkut. Tapi kali ini, aku membawa oleh-oleh berbeda. Aku justru menemukan analogi baru untuk sebuah event.

Seperti halnya saat ini. Ketika aku mengikuti tes masuk ODOP. Salah satu masa pra-nya adalah posting tulisan di blog pribadi selama dua bulan. Ok, kali ini kalian setuju atau tidak itu urusan kalian.

Masing-masing event menulis selalu menggunakan batasan waktu. Membuat tulisan minimal sekian paragraf atau kata dalam waktu 15 hari, satu bulan, dua bulan, dst. Harapannya hanya satu dan semua sama, terbiasa menulis dan membangun habit. Maka di sinilah letak dianggap mampu terjadi. Kenapa? Karena pada masa itu minimal sebuah kebiasaan baru akan terbit pada diri pelaku. Dalam konteks ini, peserta yang turut dianggap sudah mampu atau terbiasa menulis setiap hari. Sehingga ketika event selesai, kebiasaan itu juga tidak ikut sirna. Meski dalam teori lain yang pernah kubaca minimal berlatih secara kontinu selama 90 hari berturut-turut.

Nah, harusnya proses kreatif ini tidak berhenti sampai event berakhir. Akan tetapi, seyogianya peserta dapat melanjutkan apa yang sudah dibiasakan pada event yang diikuti. Nah, inilah kenapa dianggap mampu dan meanjutkan seperti mempunyai korelasi yang tegas tapi tak kasat mata dengan sebuah proses kreatif.
___**___

Jadi, kalau writer block-mu sedang menghampiri. Segera lakukan hal-hal ringan yang membantu menyegarkan ide. Salah satunya blog walking, salah banyaknya ada yang jalan-jalan, nonton film, mendengar musik, atau baca buku. Bergantung pada hal unik dan spesifik yang melekat pada diri kalian masing-masing.

Wallahu a'lam bishshowab

Sampai jumpa lagi di ruang makan. Kita akan ngobrol lebih banyak sambil nyoklat hangat.

Selamat Mengembara dengan tulisanmu sendiri.

Assalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barokaatuh

Kediri, 17919

Rumah Belajar Craft

September 17, 2019 0 Comments
Sesuai dengan judul post hari ini. Rumah belajar craft, kami biasa sebut rumbel craft. Yaitu, salah satu ruang belajar bagi kami para ibu pembelajar di komunitas Ibu Profesional Kediri Raya, selanjutnya kita sebut IP KediRa.

Kalau salah satu, berarti ada berapa banyak rumbel di IP KediRa?
Rumbel IP KediRa ada lima saat ini. Diantaranya ada rumbel menulis, rumbel craft, rumbel boga, rumbel desain grafis atau desgraf, dan rumbel doodle and lettering.

Mengapa dikatakan saat ini?
Iya benar. Karena rumbel ini akan terus berkembang seiring berkembanganya keinginan dan kebutuhan ibu-ibu untuk mempelajari bidang tertentu. Seperti halnya di rumbel craft ini.

Masing-masing rumbel memiliki event dan momentnya. Kami membaginya menjadi dua kegiatan, yaitu online dan offline. Kedua sisi ini sebetulnya saling bersinggungan dan tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Akan tetapi, porsinya akan berbeda pada tiap-tiap rumbel.

Nah, rumbel craft di IP KediRa termasuk salah satu rumbel yang aktif di offline. Dan pada akhir pekan kemarin, baru saja mengadakan pertemuan dengan mengusung tema, aku belajar shibori.

Pada dasarnya, kita akan belajar sesuatu dari dasar. Semacam pengenalan. Jika ada yang berminat mengembangkan, tentu saja teman-teman di ruang ini akan bersedia membantu untuk memfasilitasi. Karena craft itu sendiri ragamnya sangat banyak. Maka, arum (sebutan bagi member rumbel) akan memilih mana yang paling ia minati untuk bisa dikembangkan. Sebab tujuan dari rumbel tidak hanya sekedar mengenal atau belajar, akan tetapi lebih kepada pembekalan. Supaya ke depan, ibu-ibu ini menemukan sesuatu yang membuatnya berbinar-binar sehingga tidak hanya mampu dijadikan sebuah hoby, tetapi juga dapat menghasilkan.

Well, tak dipungkiri bahwa hasil itu tidak hanya berupa materi atau uang. Tapi bisa jadi juga sebuah kebahagiaan. Hal ini sempat diungkapkan oleh beberapa arum. Meskipun sebagai anggota craft, tapi Beliau masih lebih berbinar saat bergelut di dunia boga. Hal ini sah sah saja. Mengingat tadi tujuan dari rumbel itu sendiri. Di sini kami, tidak ada senior ataupun junior. Karena semua guru semua murid. Jadi, bisa saling tukar info dan pengalaman untuk diambil hikmah masing-masing.

Aku Belajar Shibori
Berbeda dengan pertemuan sebelumnya. Kali ini aku tidak mencari tahu lebih jauh tentang apa yang akan aku lakukan nanti. Karena sama seperti biasanya, tujuanku hadir tidak hanya sekedar belajar apa yang akan kita pelajari di lokasi. Akan tetapi, moment membersamainya yang kunikmati.

Jika kelas-kelas sebelumnya aku sudah familiar sebelum eksekusi. Kali ini aku tidak punya gambaran sama sekali. Sampai kemudian tibalah hari yang ditentukan. Hari itu ternyata akan lebih banyak hal yang kulakukan. Mulai dari membuat pola sampai dengan proses pewarnaan. Banyak step yang harus kukerjakan, bahkan ketika bahan sudah kubawa pulang.

Untuk shibori itu apa, kalian busa googling sendiri ya. Kali ini kami menggunakan media kain putih polos selebar 200*115 cm. Sebagai pemula, ini bukan lagi sesuatu yang biasa, tapi amazing. Kenapa? Medianya lebar sangat 😆. Tak sedikit di antara kami terpaksa harus memotong kain menjadi ukuran 100*115 atau 115*115. Hal ini dilakukan supaya lebih cepat pengerjaannya terutama. Heum, karya yang butuh effort luar biasa, hasilnya tentu saja tak terlalu mengecewakan. Mengingat kami yang memang masih dalam tahap pengenalan. Mungkin, next bisa dicoba dengan media ukuran lebih kecil untuk uji motif. Dan yang lebih menggembirakan lagi, kegiatan ini bisa jadi salah satu project bermain bersama ananda.

Mestinya shibori itu dilakukan dengan cara mencelup. Tapi kali ini kami berbeda atau mungkin aku yang kurang banyak menyimak. Jadi teknik pewarnaan kami tidak dicelup. Melainkan, tuang dan remas (untuk meratakan warna pada kain). Nah, kenapa ini bisa jadi project dengan ananda? Karena ada banyak proses belajar di dalamnya. Seperti mengenal warna, melatih motorik, mengenal pola, dan masih banyak lagi yang dapat kita sisipkan dalam kegiatan ini.

Saking menariknya, aku sampai tak terpikir untuk mengakhiri tulisan ini. Semoga sedikit sharing ini tetap bisa diambil manfaatnya. See you next letter.

Kediri, 17919

Senin, 16 September 2019

Membaca Vs Menulis

September 16, 2019 0 Comments
Pernah tidak terpikir hubungan antara membaca dan menulis? Kenapa kemampuan menulis itu dipengaruhi oleh seberapa banyak kita mampu membaca. Atau apa yang kita baca? Bahkan tulisan kita dapat dipengaruhi juga oleh materi apa yang telah kita baca.

Mungkin itu yang disebut dengan apa yang kau tuang sama dengan apa yang kau isi. Jadi, isi teko yang kau tuang sama dengan apa yang pernah kau masukkan. Misalnya saja kopi, maka tidak mungkin teh yang akan keluar di setiap cangkir yang kau tuangi.

Maka, semakin banyak membaca akan semakin memperkaya kita dengan beragam gaya, pengetahuan, juga ide. Seolah tak pernah mati. Akan ada saja hal yang mampu kau sampaikan lewat tulisan. Dan karenanya menulis itu berhubungan erat dengan membaca.

Sebagaimana menulis, membaca juga butuh ruang yang harus diisi oleh orang-orang sesama pecinta buku. Untuk saling support dalam hal keistikamahan membaca, pertama. Kedua, untuk bisa saling diskusi tentang apa yang telah ia baca. Bisa jadi, obrolan ringan kalian itu justru menjadi ajang bedah buku dari semua aspek.

Dan ternyata aku baru menyadari sesuatu. Setelah kita peka terhadap lingkungan (baca: sebagai bekal lancar menulis), kita juga perlu banyak membaca. Jika menggunakan perbandingan maka akan menjadi seperti ini,
Baca, baca, baca, tulis
Intinya banyak membaca, kemudian menuliskannya.

So, jadi seimbang itu baik. Yuk kita bisa jadi saling bantu untuk menjadi kokoh di kedua sisi. Perbanyak materi bacamu, dan kuatkan latihan menulis juga.

See you next moment...
Happy reading and lettering

Kediri, 16919

Sabtu, 14 September 2019

Tantangan 1

September 14, 2019 0 Comments
Ini adalah malam yang mengantarkanku pada pemburuan deadline. Sesungguhnya aku memang "bukan" salah satu dari mereka. Sebut saja Pejuang DL. Akan tetapi malam ini lain. Ada satu hal yang membiusku untuk bertahan tak menghiraukan apapun. Mungkin aku belum pernah mengatakan sebelumnya atau bercerita mungkin, bahwa membaca adalah salah satu hal yang bisa membuatku terdiam lama.

Bacaan yang terlalu lama bertengger manis dengan balutan seragam kebesarannya, apa lagi kalau bukan plastik press, tiga hari lalu berhasil meluluhkan keinginanku untuk mengintipnya. Bukan tanpa alasan. Biasanya aku melakukan ini sebab akan ada orang yang menginginkannya. Tetapi mereka tak segan mencuri start dariku. Kadang lucu juga, aku sendiri tak mempermasalahkan sebenarnya. Hanya saja, keingintahuanku bisa menembus batas "menyoal".

Tak tanggung-tanggung, kali ini aku harus mengunyah 696 halaman dalam waktu kurang lebih 72 jam. Bahkan mungkin kurang. Aku tak ingat, kapan tepatnya memulai pengembaraan itu. Tapi aku harus segera menuntaskannya. Membaca seperti halnya makan. Jika kamu sudah memutuskan untuk mengambil sesuai porsi di piringmu, maka menghabiskan adalah tanggung jawab tak tertulis yang harus kamu pikul. Terlepas dari apapun alasannya. 

Sampai naskah ini kubagikan, bacaan itu sudah habis 5/6 bagiannya. Ya, aku sudah sampai pada halaman 562. Besok pagi buku ini sudah harus kupindahtangankan. Ini bukan soal berapa cepat aku membaca sebab membaca sendiri ada ilmunya. Kalau kalian mau tahu lebih jauh, bisa mengekor informasi dari Kak Adji.
___**___

Terlepas dari kendala yang terjadi hari ini. Oiya, itu bukan kendala hanya pengembaraanku yang memang butuh porsi besar. Bahkan untuk menyelesaikan tantangan pertama ini.

Setelah lima hari menghabiskan stok 20.000 kata dengan cara random text, maka hari ini aku harus menyelesaikan tantangan dengan sedikit ujian. Ada tema yang disandingkan untuk bisa kubagi hari ini atau besok.

Semacam lelucon ketika aku harus merangkai kata dengan gabungan kata kunci. Rasanya memang di sanalah porsi tantanganku yang seharusnya diperbesar atau diperbanyak. karena kadang aku justru macet saat dihadapkan dengan satu kata atau malah beberapa kata sekaligus. Kecuali kata-kata yang memang telah melekat manja dan sesekali romatis di benakku. Karena mereka akan mengeluarkan apapun dengan lebih flowy tanpa perlu aku memaksanya.
___**___

BASAH, PLASTIK, MACET

Terlintas di benakku satu kondisi yang mungkin belum pernah secara nyata kulalui, atau justru sebenarnya kerap menghinggapi rutinitasku. Tapi, ketiga kata itu tak memunculkan argumen terhubung sama sekali, bagi benak yang setiap harinya hanya melewati jalanan lengang dan bebas mengebut sekalipun.

Aku pun berpikir keras akan mengungkapkannya dalam bentuk apa, ketika tak terbentuk korelasi pasti di antara ketiganya. Hanya saja kepalaku menangkap moment tak biasa dua hari lalu. Saat tiba-tiba motor yang kuparkir di halaman kantor ambruk tanpa mengejutkan. Bahkan tidak disadari oleh seseorang yang dekat lokasi. Aku sendiri hanya terpegun dan menganalisa sebabnya.

Setiap sore, halaman itu disiram. Entah apa tujuannya. Kalau untuk membuat tanahnya semakin meliat dan padat, aku pikir tidak dengan cara seperti itu juga. Tapi entahlah, aku tak ingin mengira-ngira lebih jauh lagi. Yang jelas, setiap hari aku hampir tak alpha melihat genangan air di halaman depan kantor. Halaman itu memang sebagian masih berupa tanah. Sekalipun genangan itu akan merembes, tapi dengan intensitas siraman yang begitu konstan, tentu membutuhkan waktu lama untuk benar-benar lenyap. Kuperkirakan sore iitu, tanah yang menopang standar motorku lembek seperti bubur. Sehingga terjadi kemiringan yang tidak seimbang sampai akhirnya ia harus rela terpeleset tanpa bisa teriak.

Dan yang membuatku semakin gusar, alas kaki yang biasa bertengger di depan teras ikut basah. Sekali lagi menjadi korban siraman. Hm, memastikan alas kaki tidak basah sepertinya ayal. Karena mereka tak mungkin memedulikan itu. Selepasnya, aku tak peduli lagi, bisa dicuci, pikirku menenangkan. Selanjutnya, aku bergegas untuk menjejakkan kembali motor malang itu. Sekali lagi aku memastikan tidak ada luka atau pun bagiannya yang basah terkena genangan air. Alih-alih aku mendapati yang kucari, justru kaca spionku yang malah jadi korban. Ah, baiklah, ada yang ceroboh kali ini. Lain kali mesti lebih hati-hati lagi.
__

Ya, ingatan itu menjalar begitu saja. Sampai aku sendiri tak tahu harus membagikan apa yang sungguh-sungguh dapat diambil pesannya. Tapi kata penulis, Masdar Zainal, menulis itu enggak perlu memaksakan untuk menyelipkan hikmah, sebab sesuatu yang dipaksa itu hasilnya enggak akan bagus. Juga tentu saja enggak akan jadi alami. Betul tidak? Kalau enggak percaya, boleh dibuktikan sendiri, semakin kamu fokus pada hikmahnya, semakin kamu memaksakan diri. Jatuhnya akan kaku dan enggak dari hati.
__

Sudah satu setengah jam aku duduk di sini. Sesekali berdiri untuk memastikan apa yang kulihat. Pemandangan ini memang belum pernah kutemui sebelumnya. Kecuali dalam lesatan ingatan dan imajinasi. Di antara kursi yang kutumpangi saat ini ada meja kecil bundar, kupastikan tatakannya terbuat dari kayu dan kakinya besi yang dilapisi cat, entah bagaimana detailnya, aku tak begitu memerhatikan. Satu-satunya fokusku saat ini adalah manik mata yang sedari tadi menatapku intens. Seolah memastikan tak ada yang kurang dari apa yang dilihatnya.

Ah bukan, mungkin saja dia sedang mengatur supaya gemuruh dan badai itu segera tenang. Bahkan sapuan angin yang terlalu kencang, berharap dapat ia kendalikan untuk menjaga suhu tubuh tetap normal. Dan sedari tadi sepertinya gegap gempita kesyukuran itu belum juga larut dalam keheningan. Ia terlihat hendak mengatakn sesuatu, tapi kata-kata kembali tertelan. Seolah suara-suara itu mampu menembus dinding hatiku.

"Aku bersyukur," katanya kemudian. Memecah hening yang sedari tadi bertemankan aroma cokelat yang mengepul berebut tempat di indera penciumanku.

Aku masih tertegun. Merasakan genggamannya yang kadang merenggang, tak jarang menjadi semakin erat.

"Aku bersyukur, kita ada waktu seperti ini. Bisa duduk berdua dengan wanita yang kucintai. Dan aku bahagia." Tutupnya dengan pandangan penuh kepadaku.

Tak ada yang bisa kukatakan. Sementara gerimis syukur semakin menderas dalam hatiku. Tanpa terasa, air mata haru sudah menetes satu satu. Seperti bayangan embun yang menempel di dinding kaca malam ini. Bersama siluet yang terbentuk dari sorot lampu jalanan. Sementara di luar sana, kendaraan masih lalu lalang. Menceritakan kepada kami, betapa aktivitas di jalan itu begitu padat dan penuh sesak. Beruntung tak macet, meskipun tetap saja jalan seperti siput itu sangat melelahkan bagi mereka yang tengah merindu rumah untuk segera istirahat bersama keluarga.

Dan lesatan memori dan bayangan situasi itu tak pernah jenuh menghampiriku. Setiap ada kesempatan ia selalu mampir dan menyisakan butir-butir bening di mataku.
___**___

Kediri, 15919