Follow Me @arhana.handiana

@arhana.handiana

Selasa, 31 Desember 2019

Jangan Menulis!

Desember 31, 2019 0 Comments
Beragam tujuan seseorang memindai bahasa lisan menjadi bahasa tulis. Dan seringkali didapati bahwa ia dilahirkan apa adanya saat akan dibagikan kepada mata pembaca. Meski seringnya aku juga tidak merasa perlu melakukan edit di saat-saat mendesak. Tetapi, menjaga tulisan tetap sesuai dengan tempatnya adalah sebuah keharusan.

Bahasa lisan dengan bahasa tulis tentu memiliki perbedaan karakter. Di mana ketika bahasa lisan itu memiliki nada dan ritme saat diucapkan, maka bahasa tulis memiliki tanda baca. Kedua hal ini rasa-rasanya adalah sebuah keniscayaan. Bahwa mereka tak dapat dengan begitu saja dipindai kemudian dibagikan.

Bukti nyata dari hasil pindai bahasa lisan ke tulis adalah saat sedang mengobrol melalui media. Baik itu aplikasi chatting seperti yang dewasa ini menjamur, atau pun pada aplikasi SMS. Orang bisa menjadi sangat sensitif dan salah paham ketika membaca pesan. Dikarenakan tidak adanya tutur atau nada dan ritme. Jelas saja, mereka memang hanya membaca. Lain daripada itu, meskipun penerima membacanya dengan nyaring, tetap saja akan memunculkan suara yang berbeda.

Sebab, tidak semua tulisan bisa didengar. Kecuali mereka yang memang terbiasa bicara baik melalui media atau secara langsung. Maka chat yang sederhana pun bisa didengar sesuai dengan karakter suara pengirimnya. Sekali pun hal ini termasuk kasuistik, tetap saja memerhatikan kaidah dan meletakkan sesuatu pada tempatnya sudah mesti menjadi sebuah keharusan.

Nah, bagaimana jika kebiasaan itu terbawa ketika sedang menyelesaikan naskah? 

Tentu saja akan menjadi tulisan yang luar biasa. Sebab ia mampu didengar pembacanya. Maka, seseorang mengatakan bahwa penulis yang berhasil adalah ia yang tulisannya dapat didengar. Maka, jangan menulis kalau hanya asal dan tak tahan editing. Sebab, tulisan kita adalah tanggung jawab kita.

Mari menulis, dan mari tingkatkan kualitas tulisan kita. Baik secara isi mau pun kaidah penulisannya. Sekalipun tak jadi sempurna, sebab kesempurnaan hanya milik Allah semata.

Selamat berlibur dan belajar.

Salam dari Monumen SLG
31/12/2019

Gerimis Rindu

Desember 31, 2019 0 Comments



Bagaimana aku bisa melakukan itu?
Rintik hujan hanya bisa membasahi tanah berdebu
Tidak untuk menjadi tinta perajut mimpiku

Rintik gerimis yang diam-diam membasahi hati, kuyup
Membangunkan gigil yang kuredam sedari fajar
Aku meringkuk, sendiri
Sambil mengeja ribuan rindu di kalbu

Bagaimana bisa aku menenun dongeng
Hujan hanya mendinginkan kisahku saja
Menjadi ngilu sebab beku terperam gugu

Dan aku,
Hanya bisa menadah tangan untuk satu rintik yang tertahan
Bukan menggenggamnya
Sampai kuyup tubuhku berjelaga

Jadi, bagaimana aku bisa menulis hujan
Jika di antaranya adalah rindu yang kau eja
Biarkan saja ia menetes
Dan aku, menikmati rinainya

-arhana-
Kdr, 16122019

Kepada Rinai Kemarin

Desember 31, 2019 0 Comments

Catatan ini masih kugenggam
Merapalkannya perlahan dalam dalam
Mungkin derasmu tak kan sempat hanyutkan
Jika aku selesai pada batas penguasaan

Hai Rinai,
Kenapa engkau tak jua kabarkan
Betapa rinduku telah mengoyak basah dan semu dalam dada
Tidakkah kau tau
Ada perempuan hangat yang tengah menungguku
Di sana

Genggaman ini menghangat kemudian melepaskan
Sudah tunai aku merapal kuat hingga ke sukma
Supaya kau tak segan meleburkan angan
Sebab ia telah tersimpan di dalam dada

Rinai yang basah kemarin
Tidakkah engkau tau
Bahwa aku ini sangat merindukannya
Berbekas seluruh hafalan yang telah kurapal sempurna
Semoga angin memyampaikan padanya

Kepada Rinai kemarin sore
Aku menitipkan bait rindu untuk ibuku
Bunda yang setiap saat merinduku jua
Bunda yang tak pernah lelah menyambung doa untukku

Kepada Rinai yang membasahi bumi bundaku
Terimakasih telah menamatkan seluruh episode
Jika kelak kau berkesempatan lagi
Semoga tapakku dan Bunda sudah bertemu
Terimakasih, kepada pemilikmu Yang Agung

-arhana-
Kdr, 18122019

Minggu, 22 Desember 2019

Hujan di Sore Senja

Desember 22, 2019 0 Comments

Tuhan selalu punya cara mengembalikan kenangan
Menjadikan setiap kepingannya adalah rindu yang candu
Bersama rintik kemilau gerimis, warna itu menyapaku, lagi
Dan sebab, Tuhan selalu punya cara

Seperti bingkai hujan yang membuatku betah menelanjangi gundah
Dalam badai pilu, sebab rindu tak ubahnya candu
Aku terpekur memandangi rinai yang belum akan habis merenda
Meski basahnya telah mengepung penampungan sementara


Minggu, 15 Desember 2019

SDM UNGGUL, INDONESIA PRODUKTIF

Desember 15, 2019 0 Comments
Sumber : https://marlupi.gurusiana.id/article/2019/8/sdm-unggul-indonesia-maju-5350191

Dalam rangka menyelesaikan tantangan ODOP dari kelas non-fiksi tentang blog competition, maka pada kesempatan tersebut saya memutuskan untuk mengikuti kompetisi blog yang diadakan oleh Kadin Indonesia. Dari sekian banyak tema kompetisi, justru penawaran dari Kadin mengetuk pintu logika saya. Katakan ini sebuah opini atau pun harapan. Semoga suara saya dapat terangkum dalam kumpulan suara serupa yang turut meramaikan agenda Kadin.
Berbicara tentang SDM Unggul, saya justru berpikir tentang kondisi anak bangsa dewasa ini. Terlebih mereka yang masih berada di lingkup usia sekolah dasar. Maraknya anak-anak yang dengan gamblang menunjukkan ketidaktahuan mereka tentang adab atau tata aturan sopan santun kepada sesama terlebih orang tua, membuat hati kami para guru miris menangis. Akan tetapi dimungkinkan hal ini hanya terjadi di sebagian kecil wilayah saja. Sehingga tidak memengaruhi temuan lain yang dapat menyokong program SDM Unggul yang diharapkan mampu menguasai IPTEK.
Namun, penguasaan terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi akan lebih tepat jika didukung dengan kemampuan lain yang menyertainya. Atau bahkan menjadi satu prasyarat utama sebelum seseorang memahami lebih jauh terkait bidang yang ditekuninya. Hal ini erat kaitannya dengan sebuah paparan pemikiran yang kemudian bermanifestasi terhadap sikap dan perilaku seseorang. Maka, bukan lah harus didahului atau berjalan sendiri-sendiri, akan tetapi kedua kompetensi ini harus berjalan beriringan. Yaitu ilmu pengetahuan, teknologi serta kemampuan menguasai diri atau kehalusan budi pekerti.
Saya pikir, semua sepaham dengan ini. Bahwa memang IPTEK tidak akan bisa berdiri sendiri dan bekerja di luar kendali diri. Hanya saja, apakah kesadaran ini telah muncul di semua kalangan atau mungkin hanya ada pada kalangan tertentu. Oleh karenanya, kerja sama antara tiga pilar itu harus menemui satu titik yang sama. Sehingga satu sama lain tidak saling bertentangan, justru saling menguatkan. Jika, ketiga komponen ini dapat bekerja secara maksimal sesuai dengan tupoksi masing-masing, bukan tidak mungkin SDM Unggul yang berbudi pekerti luhur mampu membawa Indonesia siap menghadapi persaingan di dunia internasional.
Adanya kesadaran bahwa kita tidak akan berhasil dengan hanya bekerja sendiri-sendiri, maka sudah semestinya seluruh aspek dan lapisan masyarakat mendukung program pemerintah dengan cara dan kemampuan yang dimilikinya. Tentu saja semua harus dimulai dari diri sendiri. Sehingga, untuk menciptakan SDM Unggul bukan lagi hanya menjadi tugas dan kewajiban pemerintah, tetapi juga menyasar pada individu itu sendiri. Jika, semua elemen menyadari hal ini, kemudian tanpa paksaan melaksanakan kewajiban sesuai dengan yang semestinya, maka tidak menutup kemungkinan pembangunan Indonesia akan tercapai hingga seluruh pelosok negeri.
Namun demikian, kita tidak bisa meninggalkan begitu saja nilai Bhineka Tunggal Ika. Justru dengan keragaman inilah, Indonesia menjadi kaya. SDM Unggul akan tercipta dari seluruh tingkatan masyarakat. Bukan hanya itu, proses pembentukan SDM Unggul yang dibarengi dengan kesadaran persatuan, akan menjadikan kokoh bangsa itu sendiri dari sisi masyarakatnya. Dan, jika setiap individu menyadari perannya dalam rangka menyongsong Indonesia produktif, maka bukan tidak mungkin justru semua akan turut serta bergotong royong untuk mengawasi pertumbuhan anak didik. Sehingga, kebutuhan akan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak perlu bias dan tercampur dengan komponen yang tidak semestinya.
Jika kondisi tersebut tercapai, maka sekolah tidak hanya akan mencetak generasi yang haus gelar. Tetapi memang memahami bahwa pentingnya mengenyam pendidikan dan belajar bersama seorang guru. Hal ini supaya ilmu yang mereka terima bisa utuh dan paripurna. Sebab anak-anak tidak hanya akan mendapat transfer ilmu, melainkan juga belajar tentang tata krama. Maka, alangkah elok jika SDM Unggul ini mampu mengharumkan nama bangsa sekaligus bersaing secara sehat di dunia insternasional.

Isyarat, Bahasaku Akankah Kau Pahami

Desember 15, 2019 0 Comments
Ketika itu aku masih baru lulus dari gedung hijau. Langkahku berikutnya membawa diri ini ke sebuah tempat asing. Di mana aku harus berbaur dengan teman-teman sejawat, memang sebagian juga masih teman semasa belajar, dan sebagian yang lain betul-betul baru. Hari itu, aku tidak langsung melaksanakan apa yang menjadi tugasku sesungguhnya. Istirahat dan briefing, dua hal ini dilaksanakan secara bergantian.

Briefing, bagiku lebih ke orientasi dari pada penguatan. Sebab, memang aku juga belum pernah mempelajari hal ini dengan sangat detail. Ah, memang belum pernah ya. Akan tetapi, sedikit demi sedikit informasi mulai memenuhi ruang imaji. Aku membayangkan akan menangani klien seperti apa. Meski saat itu posisiku masih sebagai co. terapis, tapi harus paham situasi seperti apa yang akan kuhadapi.

Anak-anak istimewa ini berada di rumah masing-masing. Tinggal bersama keluarga mereka. Kami, hanya lah orang asing yang insyaallah, atas panggilan hati, memenuhi tugas untuk membantu para orang tua memberikan pendidikan yang layak bagi anak-anak mereka. Tujuan utamanya adalah memberikan keterampilan latih diri, supaya kelak mereka mampu menghadapi dunia dengan dirinya sendiri.

Hal pertama yang terlintas adalah kemandirian. Terbiasa ke toilet sendiri, memakai baju sendiri, makan sendiri. Ya, melakukan semua hal yang memang semestinya dilakukan oleh diri mereka sendiri. Semua rangkaian latih ini dikemas dalam wadah yang kami nama terapi. Meski pelaksanaannya, kami bahkan nampak seperti sedang belajar di bangku kanak-kanak, atau bahkan bermain. Tapi, memang di dalam keseluruhan aktivitas tersebut mengandung beragam nilai. Di mana kesemuanya itu jika dilihat secara menyeluruh, akan membentuk sebuah karakter pribadi yang mandiri dan terlatih.

Selama sesi belajar ini, aku seringkali terlihat tak bergairah. Banyak hal yang harus kupelajari, salah satunya adalah justru mengalahkan diri sendiri. Aku sama sekali tidak menyukai dunia bertemu dengan orang lain. Sekali pun aku terlihat baik-baik saja, tetapi ada sesuatu yang sangat besar di benakku. Tentu saja itu sangat mengganggu, bahkan ketika aku harus berlatih menjadi terapis.

Ada kalanya, aku tidak menggunakan bahasa sebagaimana mestinya berbicara dengan orang lain. Jika memang diperlukan, aku harus melakukan gerakan yang akan lebih mudah dipahami anak-anak. Atau pun menyederhanakan bahasa. Biasanya ini dilakukan ketika dalam kondisi tertentu saja. Pengalaman semacam ini sangat melekat dalam benakku. Bahkan bisa dikatakan bahwa ini adalah pengalaman pertamaku berhadapan dengan dunia.

Sebelumnya, aku hanyalah sesosok yang angin-anginan. Maka menjadi terapis tidak pernah masuk dalam list cita-citaku. Hanya saja, ternyata jalan itu tetap harus kulewati untuk sampai pada pencapaian yang saat ini aku rasakan hasilnya. So, jangan menyerah dan menganggap remeh, apa yang saat ini kamu dapatkan, meski sebetulnya semua itu tidak pernah ada dalam daftar keinginanmu.

Terimakasih sudah menyimak, mari kita renungkan kembali, pencapaian apa yang sudah membuat kita bersyukur hingga detik ini.

Kdr, 15/12/2019

New Learn Area

Desember 15, 2019 0 Comments
Dear Sahabat PeKat ...
Apa yang kalian pikirkan pertama kali saat membaca judul artikel ini? Area belajar baru, seperti itu kah? Atau ada yang lain? Mari clear and clarify bersama ya ... Intinya, malam ini aku mau mendongeng. Tentang apa pun yang baru-baru ini kudapat. Semoga dengan cara seperti ini, kita bisa sama-sama belajar ya. Entah pelajaran apa yang bisa kalian dapat dan hikmah apa yang juga kupelajari. Maka, mari kita simak dongengku berikut ...

Dua malam lalu aku mendengar dongeng serupa dari teman pengurus organisasi. Eum, dari yang Beliau sampaikan itu, aku menangkap bahwa zona nyaman itu tidak selamanya hadir dari situasi dan kondisi atau tempat yang memang sudah kita sukai. Tetapi, bisa juga kita ciptakan dari momentum yang bahkan tidak kita sukai. Jadi, ada semacam penyesuaian, dari tidak suka menjadi suka. Bisa juga ini disebut dengan proses adaptasi.

Menurut KBBI, adaptasi adalah penyesuaian terhadap lingkungan, pekerjaan, dan pelajaran. Sedangkan beradaptasi adalah menyesuaikan diri. Maka, ketika individu berada di lokasi baru, hal pertama yang dia lakukan tentu menyesuaikan diri. Supaya apa yang kelak ia berikan sebagai bentuk kontribusi atau pun dedikasi, bisa sejalan dengan lingkungannya. Atau jika diperlukan adanya perubahan, maka ia akan lebih mudah menentukan intervensi atau langkah perubahan apa yang seharusnya.

Nah, kemudian bagaimana dengan New Learn Area itu? Hal apa yang bisa seseorang lakukan dalam rangka beradaptasi dengan lingkungan baru?

Menurutku, mereka bisa mempelajari kultur daripada lingkungan. Kebiasaan apa yang melekat pada lingkungan itu, sampai pada karakter masing-masing individu dalam sebuah wilayah. Hanya saja, lingkup terkecil untuk kita bisa masuk ke dalam sebuah lingkungan tentu saja berusaha melebur ke dalamnya. Sekalipun perbedaan menjadi sebuah momok tersendiri ketika masa adaptasi. Tapi, dengan memahami situasi tersebut, seseorang akan lebih mudah menentukan sikap apa yang semestinya ia tunjukkan, tanpa merubah dirinya sendiri.

Nah, tahun 2019 ini ada salah satu area yang bukan aku banget. Tapi, harus tetap kudiami dan jalani tentu saja. Karena sampur itu sudah dijatuhkan padaku, maka nyaman atau tidak, aku tetap harus berusaha membuatnya nyaman. Iya, new learn area itu bernama leader komunitas. Yang namanya komunitas, tahun 2017 aku baru mengenal satu saja. Sebenarnya sejak SMP aku sudah mengenal organisasi, tapi untuk komunitas dan terlibat aktif di dalamnya, adalah hal baru. Dan, benar sekali. Selama proses adaptasi di lingkungan yang bukan termasuk zona nyaman kita, tentu butuh yang namanya support system. Maka, support system itu harus dicari dan ditemukan. Sebab, ini adalah kunci pendukung utama. Tanpa support system  yang ok, bisa jadi proses adaptasi hanya tinggal kenangan.

Support system itu bisa diperoleh dari mana? Tentu saja bisa dari lingkungan terdekat kita. Apakah itu keluarga, teman satu tim, atau seseorang yang biasa berbagi dengan kita, mungkin sahabat atau teman diskusi. Dengan adanya support system tersebut, aku akhirnya dapat melewati masa kritis selama mengemban amanah komunitas.

Sepenggal dongeng ini, semoga dapat diambil manfaatnya.

Kediri, 15/12/2019

Resolusi Menulis Arhana

Desember 15, 2019 0 Comments
Alhamdulillah, tidak terasa kita sudah di penghujung 2019. Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, akan ada evaluasi tahunan. Yang kadang ini aku lakukan saat menjelang memasuki tahun kehidupan. Setiap detik dan menit yang kita lewati, sejatinya adalah masa pengurangan kontrak kita di dunia. Maka, ketika waktu yang tadinya hanya satu detik terlewati dan berganti menjadi sebuah bilangan tahun, sudah semestinya juga menjadi titik balik evaluasi pencapaian diri.

Pencapaian ini bukan hanya berkaitan dengan prestasi apa yang sudah kita cetak di setiap timeline kehidupan. Melainkan, lebih pada berapa banyak bekal kita untuk perjalanan pulang. Pulang ke mana? Tentu saja kampung akhirat yang kekal. Wallahu a'lam.

Dan kali ini, aku akan mencoba mengurai di sini. Tentang evaluasi diri yang terkemas dalam poin resolusi dan kaleidoskop. Sebetulnya asing bagiku kedua istilah tersebut. Tetapi seorang teman memberikan hadiah kosakata ini untuk kita jadikan pembahasan pada post pekan depan. Sedangkan sekarang aku akan fokus pada evaluasi pencapaian dan cita-cita di dunia literasi.

Sebelum melangkah membahas tentang poin-poin tersebut, perkenankan aku untuk mengajak kalian menyamakan persepsi. Tentang apa itu resolusi dan kaleidoskop. Supaya tak buta makna sepertiku, dan bisa jadi itu hanya aku ya Sahabat. Yuk... Simak.

Resolusi

Resolusi menurut KBBI adalah putusan atau kebulatan pendapat berupa permintaan atau tuntutan yang ditetapkan oleh rapat (musyawarah, sidang); pernyataan tertulis, biasanya berisi tuntutan tentang suatu hal.
Kalau merujuk dari makna mentah di KBBI, resolusi itu bermakna tuntutan. Maka, resolusi menulis tahunan adalah tuntutan kita kepada diri sendiri untuk mencapai sebuah tujuan dalam bidang menulis setiap tahunnya. Dalam hal ini, target kepenulisanku di tahun 2020 itu apa. Biasanya resolusi dibuat sudah berdasar pada taksiran kemampuan. Sehingga, bisa jadi target-target tersebut bukan sebuah beban. Sehingga, dalam mencapainya tentu sudah ada semacam map timeline, atau kalau di Ibu Profesional kita biasa sebut dengan milestone. Akan tetapi perkara tercapai atau tidak itu menjadi persoalan lain. Dan masing-masing orang tentu saja beragam.

Setelah kita sepakat bahwa resolusi di sini adalah target capaian kita di tahun yang akan datang. Maka saatnya kita memahami bersama tentang kaleidoskop yang akan kita bahas di sini.

Kaleidoskop

Menurut KBBI, kaleidoskop adalah aneka peristiwa yang telah terjadi yang disajikan secara singkat.
Ada yang mau beri kesimpulan pada pengertian di atas? Kalau aku, kesimpulannya adalah kaleidoskop itu ya seperti yang sudah kusampaikan tadi. Apa yang sudah kita capai selama tahun sebelumnya. Sehingga kaleidoskop tahun 2019-ku di bidang literasi, apa saja ya? Itu yang akan aku bagikan di sini. Semoga bisa jadi pengingat, terutama untuk diriku sendiri. Dan juga untuk kalian tentunya.

Pencapaian dan Harapan

Tiba saatnya mencoret, centang dan kemudian revisi. Seperti saat kita sedang menyelesaikan proyek naskah-naskah kita. Tidak akan selesai hanya pada tulisan pertama. Ia harus masuk dapur editor sebelum dibagikan kepada pembaca. Baik itu editor oleh diri sendiri, pun editor dari penerbit.

So, langsung saja ya Sahabat. Untuk tahun 2020, aku berharap bisa lebih produktif lagi. Alhamdulillah, tahun 2019 telah terlewati dengan beberapa karya meski masih dalam bentuk antologi. Beberapa teman sudah bertanya, mana karya solonya. Dan ini cukup memberi tambahan energi untuk lekas menuntaskan proyek solo.

Tahun 2019, bukan hanya tahun menulis. Tapi, jejakku di dunia pereditoran juga mulai bergerak. Bergeser dari angka nol menuju kilometer pertama. Dari yang awalnya psimis, tentang siapa yang akan membersamaiku belajar di dunia editor. Sampai kemudian, dipercaya untuk menangani beberapa naskah. Meski pada akhirnya, manajemen waktuku harus betul-betul dibenahi. Sebab aku juga masih terikat kontrak kerja dengan sebuah lembaga. Jadi, istilahnya editor itu enggak ngantor offline.

Bersama tim, aku bergerak menelurkan beberapa buah karya. Diantaranya ada Aku, Sebuah Janji dan Buku (Pejuang Literasi, 2019); Rahasia Seorang Guru (Nulisyuk, 2019); Lamat-lamat Taat (Raditeens, 2019); Berkah Cinta Ramadan (TMH Publishing, 2019); Bincang Buah Hati Hingga Tips Investasi (Pejuang Literasi, 2019); Saat Luka Jadi Cahaya (Pejuang Literasi, 2019); Meredam Lebam (Raditeens, 2019); Aku Memang Tak Sama (Raditeens, 2019); Kala Langit Berair Mata (Raditeens, 2019); Opera Sudut Tawa (Raditeens, 2019). Kesemuanya itu, tentu saja bukan hanya sekedar. Salah satu ikhtiar menelurkan karya adalah dengan menulisnya bersama-sama penulis lain. Masih ingat dengan Super Writer, kan? Kalau lupa, tinggal klik aja dan baca reviewanku ya.

Itu tadi, capaian dalam hal literasi menulis. Aku belum punya record untuk capaian literasi membaca. Tapi sependek yang kuingat, tahun ini lebih banyak buku yang kutuntaskan untuk dibaca. Terutama hal ini terbantu ketika aku mengikuti challenge dari ODOP yang bertajuk Reading Challenge ODOP, disingkat RCO. Yaitu salah satu agenda ODOP dalam menumbuhkan minat baca serta meningkatkan daya baca bagi para anggotanya.

Eum, jadi 2020 aku mau ngapain? 🤔

Bismillah,
  • Setiap bulan menangani 1 - 3 naskah untuk diedit/diproofread, jadi setahun ada 12 - 36 naskah.
  • Aktif berbagi di kanal www.penenunkata.com
  • Target baca 2020 : 12 buku fiksi, 12 buku non-fiksi.
  • Aktif membuat review buku yang selesai dibaca. Dalam rangka membangun Teras Kata online
  • Daaannn, semoga buku solo ikut lahir ... 😍😍😍

Yups, ini resolusiku. Lalu, apa resolusimu Sahabat? Sharing yuk ... Dan saling menyemangati satu sama lain. Bismillahi tawakkaltu 'alallah

Sampai jumpa lagi ... 

Kdr, 15122019

Rabu, 11 Desember 2019

Flipped: Penataan Cahaya yang Tepat

Desember 11, 2019 8 Comments

Identitas Buku

Judul : Flipped
Penulis : Wendelin van Draanen
Penerjemah : Sylvia L'Namira
Penerbit : Orange Books
Tahun Terbit : 2011
Cetakan ke- : 2
Tebal Buku : xi + 256
ISBN : 678-602-8851-80-0

Ulasan

Buku ketigaku selama mengikuti tantangan RCO. Sudah tahu kan RCO itu apa? Kalau lupa, boleh baca artikelku sebelumnya ya. Yang judulnya Super Writer: Menulis Buku Semudah Bernafas dan satu lagi berjudul Membentuk Karakter Lewat Cerita.

Tantangan di tingkat ketiga ini adalah membaca buku terjemahan. Bebas genre yang penting terjemahan. Ketika membaca aturan tantangan, jujur aku tidak pernah berspekulasi tentang tantangan apa yang akan diberikan panitia di setiap tahapnya. Aku hanya yakin bahwa di setiap tantangan itu, aku memiliki buku sesuai kriteria.

Termasuk pada tingkat ini. Beberapa judul buku melintas seperti slide iklan. Jalan pelan tapi lancar dan kontinyu sampai selesai. Kemudian diulang lagi dari bagian pertama. Judul buku yang melintas itu rerata adalah buku non-fiksi. 

Sebenarnya sih, aku lebih nyaman membaca non-fiksi ya. Tapi mengingat tantangan di RCO bukan hanya sekedar membaca, tetapi selalu ada tantangan pendamping yang tak kalah penting. Karena kalau tidak mengerjakan, konsekuensinya adalah tidak lulus tingkat. Maka, aku memilih buku yang menurutku ringan dan mudah dipahami.

Buku-buku terjemahan bagiku memang berat. Tak terkecuali. Bukan hanya dari bahasa tetapi juga plot. Akan lebih sering aku membaca ulang dari kalimat pertama untuk memahami maksud dari satu scane. Atau kalau misalnya non-fiksi, sering berhenti terlalu lama untuk memahami maksud satu kalimat. Nah, jadi dulu bagaimana dong saat harus membaca diktat dan referensi. Yang hampir semuanya adalah buku terjemahan. Itu lah uniknya, justru aku nenikmati mereka.

Bedanya apa dong?

Tentu saja berbeda. Buku terjemahan, sudah pasti merupakan peralihan bahasa. Yang kalau misalnya pengartian atau pengalihan bahasa itu tidak pas, akan sulit untuk bisa dipahami. Tapi, ya ada saja lho orang yang bisa sangat menikmati jamuan karya terjemahan ini.

Nah, untuk menumbuhkan rasa percaya diri bahwa aku mampu menaklukkan bacaan model ini. Maka, kuputuskan untuk memilih satu yang menurutku ringan. Semoga aku tidak salah pilih. Tentu saja, akan sulit menyelesaikan jika aku sudah salah memilih bacaan. Apalagi momennya juga tidak tepat. Akan makin kacau kesan pada buku tersebut.

Ok, setelah memilih bacaan. Kemudian aku harus menentukan momen. Supaya acara membacaku tidak terdistrak oleh sesuatu yang tidak perlu. Menikmati sampai tuntas tetapi juga memiliki kesan. Setidaknya pesan moralnya sampai.

Karena tugas kali ini adalah bercerita tentang kekhasan karya terjemahan. Maka, aku juga mengamati hal ini. Kemudian, aku pun menemukan sesuatu yang menakjubkan.

Flipped
Novel yang sangat membantuku untuk memulai menyukai karya terjemah. Bahasanya sangat familiar untukku terutama. Artinya, enggak kaku. Indonesia banget. Tapi, tetap seperti karya terjemah fiksi yang pernah kutemui sebelumnya. Bahwa mungkin ini adalah ciri khas yang menonjol dari sebuah karya.

Gaya penceritaan yang terpisah antarPOV. Masing-masing bab adalah milik POV-nya. Membuatku sedikit bingung dan kembali harus mengamati ini siapa yang berbicara. Tapi terlepas dari itu, aku seolah sedang mendengarkan Julianna dan Bryce bercerita.

Wendelin mengangkat persoalan dalam kehidupan remaja di Amerika dalam novel ini. Yang kemudian diterjemahkan dengan bahasa yang luar biasa enak dibaca oleh Sylvia L'Namira. Menjadikan novel ini sangat unik dan yang penting aku menikmatinya. Bukan hanya itu, bahasanya mungkin terlalu majas. Tapi, aku malah suka. Karena dari bahasa-bahasa kias itu kita bisa mencari analogi serupa dan memaknainya kembali dengan lebih luas.

Eum, iya. Gaya penceritaan Flipped itu menurutku seperti catatan harian. Dan gaya ini seringkali menghantuiku untuk segera melahirkan karya solo. Karena memang lebih dekat dengan style menulisku. Dan dengan banyak membaca ini, menjadikanku berpikir bahwa, tenyata bisa ko gaya seperti itu kita jadikan model menulis buku. Tinggal nanti bagaimana memoles naskahnya supaya enggak terkesan membagikan diary ke pembaca.

Aku pikir itu sih, ciri khas karya terjemahan. Mungkin kalian yang juga gandrung karya serupa, bisa ikut sharing di kolom komentar.

Terimakasih sudah membaca ulasan sederhana kelewat biasa ini. Semoga secuil penuturan ini bisa memberikan manfaat untuk kita semua.

Kdr, 11122019

Selasa, 10 Desember 2019

Secuil Kenangan

Desember 10, 2019 10 Comments
Ketika tulisan masih bau pensil, bermimpi menjadi seorang penulis produktif adalah sesuatu yang istimewa. Di antara jajaran kata-kata yang menurutku saat itu, hanya boleh dinikmati seorang diri. Tapi, bisa jadi itu adalah masa-masa pembuktian, masa-masa pencarian jati diri pun pengakuan. Kata seniorku sih begitu. Dan sekarang bukan lagi, tapi lebih ke aktualisasi diri. Begitu tambahnya. Sahabat PeKat bisa banget silaturahmi ke rumah virtualnya, untuk menambah bahan bacaan, pun belajar sastra dengannya. Di alamat https://kesatriakata.blogspot.com

Yaps, ini hanya lah sepenggal kisah yang ingin kuingat dan bagi. Bahwa, apa yang saat ini kupijaki, merupakan apa yang pernah kuimpikan. Dan ternyata benar, mimpi yang kita tulis, bisa jadi kenyataan. Entah bagaimana skenario Allah bekerja. Juga kapan waktu terwujudnya, meski semua itu tetap menjadi rahasia-Nya. Tugas kita hanya yakin, berdoa dan usaha. Percaya juga bahwa ketetapan-Nya adalah terbaik untuk kita.

Jadi, saat itu anganku hanya berkata bahwa nanti aku akan duduk di depan meja dan sebuah laptop di atasnya. Di samping ada jendela yang memberiku akses untuk menikmati indahnya gemerlap malam. Kecantikan malam yang bertabur bintang, dan aroma tanah yang berbaur dengan dedaunan menambah syahdu. Rasanya, aku percaya bahwa akan banyak ide mengalir dan jangkauan berbagiku lebih luas. (Baca: produktif menulis).

Saat itu aku belum mengenal blog. Media berbagi masih ada friendster dan facebook. Selain itu aku belum banyak mengenal, sekali pun sudah bisa dikatakan lancar berselancar di dunia maya. Eh, di belakang pada bisik-bisik ya? Generasi kapan ko ada friendster. Atau malah nanya, friendster itu sejenis apa. 😅 Sedikit saja nyuplik ya. Friendster itu dulu adalah juga sebuah situsweb serupa Facebook. Merupakan platform jejaring sosial.

Nah, sebelum kenal banget dengan blog. Dulu aku sempat aktif di sebuah halaman. Mungkin kalau sekarang Facebook group begitu ya. Namanya Kata -kata Indah Para Pujangga, kalau aku enggak salah ingat juga. Waktu itu memang lagi menikmati rangkaian kata-kata puitis, prosais dan sejenisnya. Apapun bisa dibagikan. Hanya saja, karena satu sebab dan pertimbangan mendalam. Akhirnya diputuskan bahwa aku harus berhenti.

Namanya mungkin juga ego masih tinggi sekali. Jadi, belum bisa betul-betul save energy atau bisa dikatakan terlalu sembrono. Saat itu, terjadi sedikit perselisihan yang bisa bikin aku benar-benar melek aturan. Benar-benar paham bahwa tulisan yang kita bikin, tetapi sudah kita bagikan ke publik. Maka, hukumnya akan berubah, jadi milik publik. Bisa dibayangkan, terlebih jika tulisan itu tidak berinisial. Dikasih inisal pun kadang masih diduplikat. Nah, apalagi kosongan. Bisa saja, sembarang pihak mengaku itu dari mana dan dari mana.

Akhirnya, sejak saat itu aku lebih save dengan tulisan-tulisan yang sudah selesai. Jarang mempublikasikan dan bisa dikatakan juga tidak pernah. Hm, ini masih perkara kecil sih. Kalau sekarang aku bisa saja mengatakan demikian. Mengingat, sekarang sudah marak buku bajakan. Maka dari itu, segala perjalanan ini membawaku jauh lebih bisa menghargai karya. Baik karya orang lain pun diri sendiri. Enggak mudah lho. 

Memulai untuk menghasilkan karya hingga finish, membutuhkan effort yang luar biasa. Sekalipun di mata kita hasilnya belum seberapa. Tapi itu bagian dari prestasi. Tanpa proses tersebut, tidak ada ceritanya Penenun Kata bisa ada di sini bersama kalian. Bener, enggak?

Perjalanan mimpi itu sangat panjang. Aku akui melelahkan. Tapi Allah selalu punya cara untuk mengembalikan energi yang hilang, entah karena lelah atau karena memang kita butuh recharge. Begitu juga diriku dengan dunia literasi. Mungkin hari ini aku masih sampai di sini. Ikut nebeng tulisan. Terus cetak bareng. Namanya antologi. Punya angan-angan nulis buku solo, meski jalannya masih setapak demi setapak. Belum bisa los kaya di tol.

Betul-betul tidak apa-apa. Kita punya target, tapi juga jangan sampai ninggalin kewajiban. Seperti apa misalnya? Pekerjaan, keluarga, dan prioritas yang memang berada di skala tertinggi. Hal-hal semacam ini, kadang bisa nulis sebentar saja sudah bisa mengembalikan mood. Menulis jadi semacam terapi akhirnya. Biar belum produktif untuk berbagi, setidaknya produktif bagi diri sendiri.

Dan, ya. Akhirnya aku berdiri di sini. Di antara kalian yang hebat dan luar biasa. Aku bisa menyerap energi positif. Berbagi sejumput ilmu yang Allah titipkan padaku. Dan belajar banyak-banyak dari ilmu yang ada pada diri kalian. Ini luar biasa tentu saja. Masyaallah ... Alhamdulillah ... Dan kemudian, salah satu kesyukuran itu wujudnya adalah ruang berbagi ini.

Semoga dengan begini, aku tidak terpenjara dalam badai tsunami informasi. Sebab apa yang sudah kita pelajari, sesungguhnya membutuhkan ruang untuk menjadi berdaya dan bermanfaat. Sehingga bukan dipelajari untuk diri sendiri, melainkan juga bermanfaat bagi lingkungan di sekitar.

Alhamdulillah, tsumma Alhamdulillah ....
Terimakasih kepada seluruh Sahabat PeKat yang diam-diam support aku dengan doa terbaik kalian. Semoga doa-doa itu juga kembali kepada yang mendoakan. Aamiin

Wallahu a'lam

Kediri, 10 Desember 2019

Senin, 09 Desember 2019

Menulislah, Setiap Hari

Desember 09, 2019 1 Comments
Sepertinya sudah sering kita membahas tentang writer's block. Tapi, kali ini aku lagi terpancing satu kalimat dari catatan lamaku. Bahwa menulis itu perlu setiap hari. Apapun kondisinya menulis tidak boleh tidak. Kenapa? 

Karena ketika buntu dan kita mengikuti kebuntuan itu, yang jadi adalah ketumpulan. Apa yang sudah kita asah sebelumnya, bisa jadi enggak tajam lagi. Ini kita bicara lain dari besi ya. Aku tidak ada pengetahuan tentang itu. Barangkali kalian akan menyangkal, bahwa besi-besi itu setelah diasah sekali pun disimpan lama, tetap awet tajam. Big no. Kita tidak membahas itu ya Gaes. Kalau mau menganalogikan, cari yang lain. hehehe

Jadi, meskipun sedang blocking, kita enggak bisa semena-mena mengikuti ketidakjelasan dari kebuntuan itu. Hehehe, ko semena-mena ya. Menurutku sih iya. Karena kita itu semacam menyia-nyiakan waktu yang bisa tetap produktif. Jadi, kalau lagi enggak jelas gitu tetap menulis saja deh. Tapi, nulisnya jangan di blog ya. Biar kegalauannya enggak terbaca publik. Tulis saja di diary, atau media digital lain yang tidak ter-publish. Supaya aura negatif itu cukup berhenti di tulisan yang kamu tuang itu tadi.

Kalau misalnya tetap buntu bagaimana? Yuk cari solusi bersama dengan membaca artikelku yang ini:
Di antara tulisan-tulisan itu aku menumpahkan segala gundah saat harus menghadapi kejerian akibat tidak mampu mengembangkan ide. Sekali pun aku juga sadar bahwa, tidak semua ide bisa berkembang selayaknya artikel atau opini yang bisa disampaikan. Tapi setidaknya aku tetap menulis dalam kesulitan-kesulitan itu. Dan tentu saja termasuk hari ini.

Sudah ya...
intinya hanya satu, apapun yang terjadi saat terhenti dari segala ide yang berkeliaran. Menulislah! Jika tetap tidak tahu apa yang ingin disampaikan, buat semacam mind mapping kalau itu tidak memberati. Kemudian jika tetap belum membantu, membaca, membaca, membaca, membaca, membaca, membaca, dan membacalah!

Selamat bereeksplorasi!

Kdr, 9122019

Dua Sisi Mata Uang

Desember 09, 2019 1 Comments
Sedih dan senang, dua hal berbeda yang saling bersanding. Seperti mata uang dengan dua sisinya.

Dua hal ini kata sahabat saya, tidak bisa dipisahkan. Artinya, kita tidak bisa memilih untuk sedih saja atau pun senang saja. Sebab semua sudah ada timbangannya, ada takarannya, ada ukurannya. Maka, mereka berdua adalah penyeimbang satu sama lain.

Keberadaan kedua emosi ini, seringkali menimbulkan gejolak. Di mana emosi sedih membawa gejolak dan badai negatif. Sedangkan emosi senang membawa energi positif. Jika kemudian kita menyadari akan adanya sistem keseimbangan ini. Maka yang perlu diperhatikan adalah bersedih dan senang lah sesuai ukurannya. Sebab keduanya akan hilang bersama dengan waktu.

Semua hal yang kita hadapi hari ini, tanpa kita sadari memiliki dua sisi yang tak terpisahkan. Yaitu kebahagiaan dan kesedihan. Entah sebabnya apa, namun memang keduanya ini saling bersisian. Dan, satu lagi karena tidak ada kesempurnaan atas diri makhluk. Itulah mengapa, kedua hal itu hadir saling mengisi dan menyeimbangkan.

Bisa jadi kebahagiaan kita hari ini adalah ujian yang tidak kita sadari, maka sudah sebesar apa kita mengingat-Nya sebagai manifestasi dari rasa syukur atas kebahagiaan tersebut. Sebaliknya, bisa jadi juga hal yang membuat kita sedih adalah pelajaran yang memang harus kita petik hikmahnya, supaya tak lekang ingatan kita oleh hal-hal yang membahagiakan.

Terlepas dari itu semua, sejatinya Allah sedang mengajarkan makna-makna kehidupan kepada kita. Mengirimkan sinyal-sinyal kasih sayang dan kuasa-Nya. Lalu, apakah kita sudah menyadari kehadirannya?

Seringkali saya sendiri lupa, dan memilih untuk lebih peduli pada rasa sedih yang tiba-tiba menyapa. Mestinya, saya paham bahwa ia hanya sekedar ingin menyapa saya. Yang artinya, tak lama ia akan berhadapan dengan saya. Tetapi, lelah justru lebih sering menggandrungi si sedih, sehingga pertemuan itu bukan hanya sekedar sapa melainkan cengkerama yang waktunya pun tak bisa dikatakan sebentar. Jika sudah demikian, langkah apa yang akan saya ambil. Apakah berdiam diri merupakan pilihan terbaik? Atau tetap bergerak dan sedikit demi sedikit menanggalkan pedih yang kian kentara.

Laa haula wa laa kuwwata illabillahil'aliyyil'adziimi

Kdr, 9 Desember 2019

Terbang, Menghilang

Desember 09, 2019 0 Comments

Aku sedang tak enak hati
Tulisanku berhamburan tidak tentu arah 
Mencurahkan seluruh isi hati 
Tapi ia tak mampu menyentuh palungnya

Aku risau
Mencoba berulangkali menjentikkan kata-kata
Yang keluar hanya hambar tanpa makna
Kurang jatuh dan mendalam

Aku ini harus bagaimana?
Aku membaca, tapi hatiku tak jenak
Makna bertaburan selayak dendelion yang kau tiup kencang 
Dan aku tak dapat menangkap apapun

Rasanya, aku ini seperti pecundang
Merasa besar tapi sebenarnya tidak ada apa-apanya
Merasa berisi tapi sebenarnya kosong tak bercelah Dan bisa jadi, aku masih saja berdiri di tempat yang sama

Dari aku yang sedang mengais benang-benang arogansi
Untuk menyulam selembut makna dari imajinasi
Supaya seimbang tak hanya suka menyalak negasi

Kdr, 9122019

Lihatlah Semuanya

Desember 09, 2019 5 Comments
Lukisan itu nggak hanya sekedar kumpulan gambar. -Flipped, hlm. 40-

Kutipan sederhana ini membawaku berkelana jauh ke masa enam tahun yang lalu. Di mana aku masih dikelilingi oleh orang-orang yang konsen pada kasus-kasus anak istimewa. Semua yakin bahwa kita harus bisa melihat secara keseluruhan. Bukan hanya bagian per bagiannya saja. Sebab itu sama seperti kita memahami sesuatu dari permukaannya saja.

Saat itu, aku mendengar tentang bagaimana mereka menerjemahkan siapa aku. Entah, untuk apa waktu itu, yang kuingat hanya samudera dan menara. Kita itu kalau mau memahami dan menerima lingkungan (baca: adaptable) maka jadilah samudera, bukan menara. Menjadi samudera itu berarti luas. Bukan hanya wawasan tapi juga hati. Ketika hati lapang, orang itu akan seperti padi. Padi, semakin berisi semakin merunduk.

Sebaliknya, menara itu menjulang. Tapi dia sendiri. Dan sulit menerima atau menggapai, apa yang ada di sekitarnya. Karena dia meninggi. Berbeda dengan samudera yang dianalogikan untuk orang-orang yang merakyat. Mereka memiliki wawasan luas, tetapi bisa merangkul semua kalangan. Maka, aku sering mendengar luaskan samudera, luaskan samudera, dan jangan tinggikan menara.

Tapi, menjadi diriku tantangannya berbeda. Aku lebih mudah melihat keseluruhan kondisi ketika berada di luar lingkaran. Dan masih sering terjebak arus, ketika berada di lingkaran itu sendiri. Maka, butuh waktu lebih untuk mengakhiri drama persoalan yang dihadapi.

Lalu, bagaimana dengan cuplikan novel di atas?

Ya, ketika tokoh utama menikmati keberadaannya di atas pohon. Dia merasa seperti di atas awan. Kalau aku bilang sih, seperti di menara mercusuar. Yang kemudian mengamati pergerakan kapal-kapal yang sedang berlayar. Dan dia sedang mengamati wilayah sekitar. Apa yang bisa dia rasakan, lihat, dan dengar. Maka, kesatuan dari penangkapan indera itu mewujud sebuah keajaiban.

Analoginya kalau dalam kehidupan sehari-hari adalah membiasakan diri untuk mengaktifkan seluruh indera. Aku pernah beberapa kali membaca kisah, bagaimana produktifnya seseorang ketika seluruh inderanya diaktifkan. Masyaallah, aku yang memang belum sampai pada titik ini, takjub dengan cara-cara mereka melewatkan waktunya dengan hal-hal yang memang produktif. Maka, ketika kita memerhatikan apa-apa yang kita lihat, dengar, dan rasakan. Hasilnya adalah kesatuan yang luar biasa. Dan di situlah kita seringkali menyebut bahwa itulah kuasa Allah. Yang kadang tak sampai nalar manusia. Masyaallah ...

So, yuk mulai belajar mengaktifkan seluruh indera yang telah Allah anugerahkan kepada kita. Syukur-syukur dapat membantu kita mengenali tanda-tanda kasih sayang dan kebesaran Allah.

Wallahu a'lam

Kdr, 9 Desember 2019

Kamis, 05 Desember 2019

Bulan Hujan

Desember 05, 2019 2 Comments
Bersama hujan, aku merenda kisah ini lagi...

Tadi sore, samar-samar aroma tanah basah memenuhi ruang indera. Bisa dipastikan hujan tengah dalam perjalanan menyambangi kotaku. Meski ribuan suara memintaku untuk segera pulang, aku masih bergeming. Meminta untuk menangguhkannya, sebentar saja. Bukan. Tapi ini rencana di luar duga. Aku masih duduk di sini sembari sesekali menghirup aroma basah yang terbungkus beragam aroma lainnya.

Aku masih di sini, menikmati bulan hujan bersama nyala dimar dan sesekali hembusan napas sang bayu menerpa wajah kuyu. Kupikir tidak mengapa, suasana ini sejenak saja mengusir penat yang sejak tadi sudah menggelayut manja di bahuku. Mungkin malam ini akan menjadi malam pertamaku bercengkerama dengan dingin dan suasana haru.

Di sini tidak ada cokelat hangat, meski pun sejak tadi aroma-aroma itu menggodaku. Mungkin saja hanya delusi. Sebab hujan selalu membawa cerita baru. Cerita tentang rinduku yang melimpah dan seringkali tumpah. Kali ini ia kuyup dan terserak seperti terhempas dan pecah menjadi kepingan, bersama hamparan debu yang kadang menempel sebentar lalu menghilang.

Kepingan basah itu perlahan merambati hati yang kian ngilu. Entah akan berapa lama aku membutuhkan waktu untuk memungut puing teka-teki-Mu.

Bersama hujan di malam yang baru, aku menitipkan sebait rindu. Mungkin setelah reda nanti, kau sempat singgah untuk memungut titipanku. Bisa jadi ia akan menemuimu di antara pinta dan sela rindu.


Dan,
aku masih di sini. Menikmati bulan hujan, bersama rindu yang mengasap bersama aroma cokelat hangat hasil seduhanmu.

Kediri, 5 Desember 2019

Membentuk Karakter Lewat Cerita

Desember 05, 2019 3 Comments
Dewasa ini kita tahu bahwa pemerintah sedang gencar menggalakkan literasi di dunia pendidikan. Tak tanggung, mereka mewajibkan satu agenda rutin di setiap lembaga pendidikan. Di mana aktivitas ini dilaksanakan setiap pagi sebelum pelajaran di mulai.

Kegiatan bertajuk literasi ini kemudian dikemas dengan cara membaca buku bersama-sama. Kalau tingkat SD, guru membacakan salah satu kisah di dalam buku. Dan untuk tingkat SMP, siswa diminta membaca mandiri kemudian membuat rangkuman dari bacaannya.

Dan baru-baru ini aku tahu, bahwa salah satu tujuan kegiatan selain meningkatkan minat baca pada anak, adalah untuk membangun karakter anak melalui media bacaan. Maka, pendidik dan orang tua perlu memerhatikan bahan bacaan yang akan dikonsumsi anak-anak setiap harinya. Karena tentu saja, kita mengharapkan dampak positif dari kegiatan literasi ini. Oleh karena itu untuk mendapat asupan nutrisi otak yang baik, media baca pun perlu diperhatikan.

Ayahku (Bukan) Pembohong

Novel karya Tere Liye yang memiliki tebal 299 halaman ini bercerita tentang seorang anak bernama Dam. Dibesarkan oleh seorang Ayah dan Ibu dengan kehidupan yang sangat sederhana. Dam kecil selalu dihujani beragam cerita oleh sang Ayah. Lebih tepatnya kisah. Setiap mendapati Dam dalam situasi tidak menyenangkan, ayahnya selalu menghujani dengan beragam kisah yang alhamdulillah selalu berhasil membuatnya kembali tegak berdiri.

Tokoh utama dari novel ini tentu saja seorang anak. Konsep penceritaan yang awalnya membuatku bingung apakah harus melanjutkan cerita atau tidak. Alur maju mundur yang kadang cocok denganku, membuat otak analisisku bekerja jauh lebih lambat lagi. Aku selalu penasaran dengan bagaimana akhir dari cerita ini. Akan tetapi, khusus novel ini, prediksiku benar. Ide ceritanya sesuai dengan hasilku berproses. Meski di awal rasanya menemukan bacaan yang salah dan berat, tapi ternyata aku menikmati setiap bab yang tersaji. Ada banyak kejutan yang Tere Liye sajikan di sini.

Bahwa karakter tokoh utama dibentuk dalam cover kehidupan sederhana yang membahagiakan. Setiap kegagalan bukanlah sesuatu yang perlu ditangisi pun disesali. Justru kegagalan itu yang semestinya menjadi cambuk bagi hadirnya kesuksesan. Dan tidak ada keberhasilan yang diraih hanya dengan berpangku tangan, apalagi diliputi usaha menjatuhkan lawan.

Dam, berproses pada setiap persoalan-persoalan yang dihadapinya. Memahami setiap mili peristiwa yang menghampirinya, bahkan menyelesaikan persoalan dengan kawan dengan cara elegan dan jauh lebih dewasa.

Kadang kita sulit mentolerir tentang bagaimana seorang anak memiliki pikiran yang jauh lebih dewasa dari usianya. dan sejenak kita lupa, bahwa memang ada pembentukan karakter yang mematangkan ia. Sehingga, karakter seperti Dam bukan lagi hal yang aneh untuk diterima akal.

Bukan hanya tentang kisah apa yang disampaikan, melainkan lebih kepada pesan apa yang ingin disampaikan. Ayah Dam terlihat sekali tidak ingin membuka kebenaran kisah-kisahnya, kendati memang kisah yang diceritakan itu adalah nyata. Di sini aku sungguh tidak sabar, menanti kejutan apa yang Tere Liye kemas dalam bungkus permennya. Aku gusar mengingat bahwa, ada maksud tersembunyi dari sikap ayah Dam ketika Dam mulai bertanya tentang bagaimana bisa menghubungi sang kapten.

Ya, bukan soal seberapa banyak kisah itu didengar, juga bukan seberapa banyak kita mendengar nasihat. Tetapi hikmah apa yang dapat kita petik dari sebuah kisah. Sehingga kita belajar daripadanya. Dam tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan berhati lapang. Meski mungkin sepanjang sisa usia remaja hingga dewasa mulanya, ia membenci sang ayah sebab merasa dibohongi. Merasa bahwa tidak layak memberikan kisah-kisah khayalan sementara tokoh utama cerita masih ada. Ada banyak hal yang terangkum dan terkandung dalam satu bab sederhana buku ini.

Dan suatu saat kelak, Dam mengetahui bahwa Ayahnya bukan pembohong. Selamat membaca dan mereduksi segala kekacauan hati. Seringkali kita tidak mengerti mengapa kisah hidup kita sendiri berliku seperti tiada arti, tapi percayalah, bahwa selalu ada pelangi seusai badai berduri.

Identitas Buku

Judul : Ayahku (Bukan) Pembohong
Penulis : Tere Liye
Tebal : 304 hlm, 20 cm
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2013
Cetakan ke- : 8
ISBN : 978 - 979 - 22 - 6905 - 5

Cover Buku




Kdr, 5 Desember 2019

Rabu, 04 Desember 2019

Self Editing untuk Penulis Pemula

Desember 04, 2019 3 Comments

Jumpa lagi dengan Rabu, saatnya ngobrol seru tentang tema baru. Kali ini kita akan membahas tentang self editing untuk penulis pemula. Kalau sebutnya penulis pemula, berarti kita ngobrol ringan saja tentang tema ini ya. Jangan bayangin hal-hal berat yang jatuhnya malah bikin malas untuk melanjutkan, bahkan bisa jadi malah malas menulis.

Ketika mendengar kata Self Editing, apa sih yang pertama kali terlintas di benak Sahabat?

SELF EDITING

Self Editing atau juga disebut dengan swasunting. Kalau diartikan sembarang sesuai kata atau menggunakan google translate, maka artinya adalah pengeditan diri. Namun jika dipahami secara menyeluruh mengenai kegiatan yang berkenaan dengan swasunting, kita dapat memaknainya sebagai proses sunting yang dilakukan oleh seorang penulis itu sendiri ketika naskah telah diselesaikannya.

Self editing harus dilakukan setelah naskah benar-benar sudah selesai diketik. Hal ini bertujuan agar ide penulisan tertuang secara menyeluruh dan utuh. Bukan hanya itu, tetapi juga supaya proses penulisan naskah tidak berhenti pada satu kalimat saja. Seringkali, penulis pemula mengalami kerancuan posisi ini, yang justru akan menghambat prosesnya dalam menuangkan ide.

Saya ingat ketika mengikuti sebuah seminar kepenulisan, di sana disampaikan sebuah tips dan kiat untuk melakukan self editing supaya tidak rancu dan justru menghambat proses kreatif. Yaitu, ketika menulis maka gunakan jubah penulis. Jangan berganti jubah sampai naskah yang ditulis tadi selesai. Dan ketika naskah telah selesai, beri jeda pada diri kita supaya bisa melihat naskah lebih objektif. Baru kemudian kenakan jubah editor untuk memulai proses self editing dengan menyenangkan.

Baca juga :

MENGAPA SELF EDITING PERLU DILAKUKAN?

Ketika penulis menuangkan ide-idenya, tentu semua yang tertuang masih dalam keadaan mentah. Bisa jadi, masih asal ketik dan tidak sesuai dengan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia atau yang sering disebut dengan PUEBI. Hal ini disebabkan karena proses berpikir manusia seringkali lebih cepat daripada gerakan jemari pada PC atau media tulis lainnya.

Oleh karena itu, jangan sekali-kali mengikutsertakan naskah mentah pada lomba atau event menulis bersama yang sedang diikuti. Lebih parah lagi jika kalian nekad mengirim naskah mentah itu ke penerbit untuk tujuan diterbitkan. Wah, sudah pasti naskah kalian enggak bakal dilirik. Sekali pun draf yang kalian kirim tadi idenya orisinil dan berbeda dengan yang beredar di pasaran. Hal ini berarti bahwa, kualitas tulisan tidak hanya dilihat dari isi dari sebuah naskah semata, melainkan juga bentuk atau format dari tulisan itu sendiri.

Draf artikel atau pun naskah lainnya yang sudah beredar ke tangan pembaca, selanjutnya adalah milik pembaca kalian. Bisa dibayangkan jika tulisan kalian masih dalam kondisi acak-acakan. Kosakata berulang, tanda baca acak-acakan semau gue meletakkan, kemudian kesalahan ketik bertebaran di mana-mana. Kira-kira, pesan yang ingin kalian sampaikan kepada pembaca akan sampai dengan baik atau tidak. Dan apakah pesan-pesan itu enak dibaca atau tidak? Kalau sudah acak-acakan, tidak mudah dipahami, berputar-putar, kira-kira pembaca akan tetap bertahan melanjutkan atau justru berhenti sebelum pesan tersampaikan?

Nah, itu jawabannya. Mengapa self editing itu perlu dilakukan? Karena penulis adalah penanggung jawab utama dari tulisan yang dibagikan. Ia merupakan penyampai pesan dari naskah yang ada di tangan pembaca. Maka, penulis sudah semestinya menjaga kualitas tulisannya dengan cara memastikan tidak ada kesalahan, baik itu pengetikan mau pun struktur kalimatnya. Sekali pun dalam dunia perbukuan, ada editor yang akan membantu menjadikan naskah itu lebih baik lagi.

Jadi, editing atau sunting tidak melulu tugas seorang editor melainkan juga tanggung jawab seorang penulis dalam menyampaikan pesan kepada pembaca. So, jadilah penulis yang baik.

penulis yang baik adalah pembaca yang baik

TIPS SELF EDITING ALA ARHANA

Sebagaimana penulis pemula, saya mengawali perjalanan dengan membiasakan diri dengan jeli pada hasil karya sendiri. Memastikan bahwa apa yang hendak kita bagikan tersebut sudah minim kesalahan. Meski memang kita sadari dan akui bahwa manusia tidak lah ada yang sempurna. Akan tetapi, dalam hal ini kita dapat mengupayakan untuk bisa produktif dengan cara yang baik. Yaitu, memastikan kualitas hasil yang minimal sesuai standar. Kalau produknya tulisan, maka kita dapat merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI dan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia atau PUEBI sebagai standar kualitasnya.

Oke, langsung saja kita bahas satu per satu tips editing sederhana ala Arhana.

Memastikan Format Penulisan

Tahap awal sebelum kita masuk pada editing content atau isi naskah, biasanya saya akan cek terlebih dahulu, apakah format penulisan sudah sesuai dengan syarat dan ketentuan penulisan? Seperti margin kanan, kiri, atas, dan bawah. Kemudian jenis dan ukuran huruf atau yang biasa disebut dengan font style dan font size. Selain itu juga ada format paragraf, apakah sudah rata kiri kanan (justify)? dst.

Membaca Ulang Naskah

Pada tahap ini, kita baca cepat naskah untuk memastikan ada atau tidaknya kesalahan ketik, penempatan tanda baca, dan kalimat tidak efektif. Ketika proses ini berlangsung, siapkan terlebih dahulu senjata untuk quality control yang akan kita lakukan. Diantaranya ada KBBI dan PUEBI. Untuk KBBI, saya biasa menggunakan versi aplikasi yang disediakan oleh pihak play store karena saya menggunakan android. Atau Sahabat bisa membuka secara online di https://kbbi.web.id. Sedangkan untuk PUEBI, saya ada file sendiri dengan ekstensi pdf. Atau versi bukunya saya menggunakan Kitab PUEBI karya Eko Sugiarto yang bisa kalian dapatkan di Togamas atau toko buku lain yang menyediakan.

Ketika membacaa ulang naskah, biasanya kita akan menemukan kalimat-kalimat tidak efektif sehingga perlu ditambah atau dikurangi. Maka, pada tahap ini juga kita perlu memastikan bahwa karakter atau kata yang dibutuhkan sudah sesuai dengan ketentuan. Biasanya pada event menulis, mensyaratkan untuk membuat tulisan sepanjang 750 - 1.000 kata, atau 3 - 5 halaman.

Editing Kata Baku dan Kesalahan Ketik

Pada tahap editing ini, seringkali kita sudah mulai low energy, sehingga untuk memulianya menjadi sebuah tantangan sendiri. So, cukup pastikan kembali naskah kita sudah "perfect" dengan cara membaca cepat. Dan gunakan tools yang sudah disediakan oleh pihak Microsoft. Saya biasa menggunakan find and replace untuk mengubah kosakata yang belum baku.


Sekali lagi, karena tulisan itu merupakan tanggung jawab penulis. Jadi, mari mulai saat ini perhatikan kembali ide-ide sudah kita tuangkan dalam tulisan. Apakah sudah layak dibagikan atau perlu ada yang diperbaiki. Jika kalian tidak yakin dengan hasil polesan sendiri, sangat disarankan untuk membagikannya terlebih dahulu kepada orang terdekat. Hal pertama yang harus kalian tanyakan adalah apakah tulisan kalian cukup dapat dipahami maksud dan tujuannya? Jika, jawabannya iya, maka bisa dipastikan bahwa tulisanmu sudah layak bagi atau kirim.

Oke, sekian sedikit ilmu yang bisa saya bagikan siang hari ini. Semoga bermanfaat dan membantu Sahabat PeKat.

Salam Literasi!

Kdr, 4 desember 2019

Senin, 02 Desember 2019

Jika Harus Diakhiri

Desember 02, 2019 7 Comments
Mungkin ini adalah salam perpisahan. Tapi aku bukan ingin meninggalkan. Apakah kau pernah, merasa tersesat atau terdampar di padang ide, saat semua berada di ujung deadline?

Para pejuang deadline tentu saja merasakan hal demikian. Tetapi, apa yang terjadi pada mereka yang tidak sengaja melakukan hal tersebut?

Hehehe, tentu saja ini memberikan sensasi yang luar biasa. Semacam sport jantung yang tak terencana. Dan jika harus gugur di sini, tentu saja itu bukan rencana, tetapi sebuah jalan yang memang harus dilalui.

Kalian pernah tidak berpikir bahwa, untuk mencapai satu tujuan harus melewati satu atau dua jalur berbeda. Bisa jadi, jalur-jalur tersebut sesuai dengan rencana kita. Tapi, tidak menutup kemungkinan bahwa jalur yang kita lewati merupakan jalur lain di luar skenario kita.

Well, kita pahami ini adalah takdir Tuhan yang memang harus dilalui. Sebab segala sesuatu itu ada yang mengatur, maka bukan hal yang wajar jika kita meratapi ketidaksesuaian. Yang berserah bukan berarti tidak berusaha sama sekali. Sebab yang terjadi itu seringkali sesuai dengan seberapa besar kita membayarnya. Bayaran apa? Tentu saja usaha.

Jadi, tidak ada hasil yang mengkhianati usaha. Jika kau bersungguh-sungguh, maka hasil itu akan mengikuti kesungguhan usaha yang dilakukan.

Keep it up!

Kdr, 2 Desember 2019

Bukan Hanya

Desember 02, 2019 1 Comments
Manusia itu tercipta tak hanya ditakdirkan sebagai makhluk individual. Sudah kodratnya mereka menjadi makhluk sosial. Di mana dalam kehidupan sehari-hari mereka pasti butuh keberadaan orang lain. Entah itu untuk membantu mengerjakan satu hal atau mendengar apa yang kita sampaikan.

Karena setiap manusia itu memiliki kebutuhan yang berbeda satu sama lain. Dan setiap kebutuhan harus memiliki ruang berbeda untuk mengaktualisasikannya. Supaya tetap terjaga kestabilan diri, emosi dan raganya.

Maka, hal yang perlu kita perhatikan adalah tutur dan sikap kepada sesama. Meskipun kita tidak memiliki konformitas tinggi, tetapi paham hak masing-masing. Hal itu, sudah cukup membantu kita stabil dalam tatanan sosial. Sebab mereka yang sudah selesai dengan dirinya lah yang akan bisa tuntas membantu orang lain. So, bukan hanya tentang dirimu tetapi juga tentang kehidupan di sekitarmu.

Perwujudan diri dalam dunia sosial memang seringkali dipengaruhi oleh trait. Pembawaan ini yang kemudian menciptakan beragam jenis interaksi. Jika tidak bisa memahami posisi dan situasi, gesekan akan menimbulkan konflik pada sebuah organisasi kehidupan.

Kata mereka, kalau semua paham, maka tak kan ada pertikaian. Malah bisa jadi, kita tidak akan pernah belajar. Jadi, keberagaman itu merupakan sebuah tantangan yang menghidupkan. Jika kita mau memahami secara lebih luas makna konflik yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

So, mari belajar memahami diri sendiri. Pahami diri dulu sebelum dengan mudah menjentikkan telunjuk. Dan jika kita mau melihat lebih detail, mari perhatikan. Jika telunjuk kita menuju orang lain, tiga jari lainnya menunjuk ke mana?

Wallahu a'lam

Kdr, 2 Desember 2019

Kelola Rasa

Desember 02, 2019 0 Comments
Manusia itu, menjadi tua adalah sebuah keniscayaan, tetapi untuk menjadi dewasa adalah sebuah pilihan. Jadi, apa yang terlintas di benak kalian tentang ini?

Mungkin kita sering menjumpai orang yang secara usia telah mencapai tahap usia dewasa, akan tetapi secara psikologis mereka masih bisa dikatakan anak-anak. Orang biasa sebut cildish. Tentu saja, banyak faktor yang memengaruhi hal tersebut. Akan tetapi, bukan kah pengalaman juga mengajarkan banyak hal untuk kita?

Sekali pun banyak hal yang dapat kita pelajari dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi, tak banyak yang mampu menangkap sinyal kepekaan. Olah pikir apalagi olah rasa. Kita, tentu saja, tidak serta merta menjadi mahir memahami lingkungan. Akan ada banyak hal terjadi, sehingga kita sampai pada titik mampu dan paham. Hanya saja, hal tersebut juga tidak terjadi jika kita tak menghendaki proses ke sana.

So, apa menurut kalian yang perlu orang lakukan sehingga mereka sampai pada titik mampu mengelola rasa? Mengapa ini perlu? Yuk diskusi ...

Kdr, 2 Desember 2019

ODOP: Menempa Diri Bersama Komunitas

Desember 02, 2019 4 Comments
Pernah tidak merasa butuh support saat melakukan aktivitas? Katakan sebuah komunitas atau kelompok untuk bisa mendukung langkah menjaga istiqomah. Jadi, kamu enggak bisa do something alone. Mesti ada support system yang menguatkan, gitu. Meskipun tidak semua orang support system-nya adalah kelompok.

Seperti halnya keahlian yang lain, maka menulis juga butuh dukungan yang sama. Kita bisa itu karena terbiasa. Dan untuk menjadi terbiasa, orang perlu memaksa. Perlu dipahami bahwa memaksa tentu bukan sesuatu yang menyenangkan. Tapi untuk sesuatu yang dianggap perlu dimiliki, tentu saja perlu usaha untuk membayarnya. Memaksa diri menjadi expert sama halnya mengasah kapak di sisi tajamnya.


MENGENAL ODOP

Aku termasuk orang yang membutuhkan support system semacam kelompok seperti ini. Meski memang dalam beberapa hal kau lebih nyaman mengerjakan sesuatu secara individu. Jadi, yang kubutuhkan itu seperti aturan. Orang dengan tingkat kedisiplinan kurang, akan memiliki tantangan sendiri. Seperti misalnya untuk membuat tulisan sehari sekali. Kalau mereka tidak punya komitmen kuat, mungkin hal ini hanya akan berjalan selama satu pekan.

Dulu aku rutin merangkai setiap kalimat dengan media tulis. Satu buku, bisa sampai satu atau dua bulan. Tergantung banyaknya tulisan di setiap harinya. Bukan hanya satu, seringkali lebih dari itu. Karena nulisnya by insiden atau seperlunya aku mau menuangkan imajinasi.

Nah, baru-baru ini aku mulai berani menantang diri lagi, untuk masuk sebuah komunitas dengan melewati beberapa tahap seleksi. Di antaranya kemarin ada tahap menulis sehari sekali selama tujuh hari seleksi. Panjang naskah masih seputar 250 kata. Dan aku bisa berekspresi sesuai passionku.

Alhamdulillah, di tahap awal ini aku dinyatakan lolos. Meski pada perjalanannya sempat jatuh bangun tak terelakkan. Tulisan-tulisan bolong, dan harus ditambal sampai deadline yang sudah ditentukan. Jumlah artikel yang di-post juga ditentukan. Maka, support seperti ini sangat membantuku untuk tetap bisa menghasilkan minimal satu post sehari. Dan tentu saja, pembiasaan ini kemudian seringkali memunculkan insight baru bagiku.

Selain menulis bebas, setiap pekan tentu ada satu tantangan yang harus diselesaikan. Sebagai moda untuk lulus dan lanjut ke pekan berikutnya. Bukan hanya itu tentu saja. Di sana juga ada banyak sekali materi yang sudah tersusun rapi dalam sebuah struktur semacam kurikulum belajar. Meski sederhana itu, tapi buatku sangat membantu untuk memperbanyak pengetahuan dan tentu saja pengalaman.

Yang dulunya susah nulis dongeng, bisa jadi di salah satunya aku harus bisa menghasilkan karya kreatif tersebut. Meskipun berupa naskah yabg diimprovisasi. Sekalipun bukan murni, tapi tantangan improvisasi ini membuat sensasi tersendiri.

Dan setelah lolos tahap awal, seperti hari ini. Aku sedang mengikuti kelas non-fiksi. Semoga bisa lolos juga di tahap ini. Aamiin.

Sebetulnya, lolos dan menjadi bagian bukan lah satu-satunya tujuan atau mungkin sebuah tujuan utama. Tetapi, menjadi semakin rajin dan terbiasa menulis lah tujuan jangka panjang dari kegiatan ini. Maka, apa yang terjadi jika sudah lolos?

Selain itu, tantangan setiap hari dan setiap pekan akan memberi manfaat tambahan bagi kita untuk stay commit, one day one post.

Happy writing!

Kdr, 2 Desember 2019

Kamis, 28 November 2019

Bicara Baik atau Diam

November 28, 2019 15 Comments
Meski tidak semua, tapi ada jenis manusia yang lebih mudah menjustifikasi dari pada dengan lemah lembut klarifikasi. Apakah dalam kehidupan sehari-hari, kalian pernah mengalami hal ini? Atau baru-baru ini sedang mengalami hal tersebut? Mungkin juga malah sudah menjadi konsumsi setiap hari, ya?

Apapun itu Sahabat, menurut kalian lebih baik yang mana? Atau mungkin kalian punya pandangan lain terkait isu ini? Secara umum kalau aku pribadi, sebelum kita mengadili, tentu saja ada proses membuktikan. Seperti halnya saat Pihak Kepolisian yang akan membuat keputusan apakah seseorang akan diberi predikat tersangka atau bukan. Semua itu perlu perjalanan panjang. Nah, apalagi yang hanya sekedar bicara.

Jika komunikasi itu bukan hanya sekedar bicara dan memiliki tata aturannya, maka begitu juga dengan cara kita menilai dan menyampaikan hasil dari pengamatan. Orang yang mengamati mestilah lingkungan luar yang secara tidak sadar berebut masuk untuk menjadi "tahu" kondisi di dalam. Lantas, apakah yang demikian itu kemudian membuat seseorang ini menjadi "yang lebih tahu"? Tentu saja tidak.
Dok. Pribadi (Story WhatsApp)
Ketika seseorang di samping kita ada masalah, tentu saja kita boleh membantunya. Dengan catatan yang bersangkutan berkenan untuk dibantu, yang pertama. Kedua, pastikan bahwa niat baik kita untuk membantu tidak mencurangi hak mereka sebagai makhluk individu. Yang mana mereka punya privasi yang mesti dijaga oleh dirinya sendiri misalnya.

Jadi, sebenarnya semakin kita merasa tahu, justru kita tidak tahu apa pun. Orang boleh saja mengamati, boleh saja menyimak, tapi dia tidak berhak ikut campur urusan orang lain. Mestinya seperti itu, tapi kadang mereka lupa batasan. Sehingga tidak sadar bahwa ucapan atau lakunya menimbulkan konflik batin pada diri yang lain.

Oleh karena itu, sudah semestinya kita belajar dan melatih diri untuk bijak menghadapi situasi. Termasuk bijak dalam menyikapi informasi. Apakah kemudian berita yang kita terima layak dibagikan? Apakah informasi yang kita baca sudah valid? Dan meskipun demikian, timbang lagi dengan apakah ada manfaat jika wacana itu kita sampaikan kepada khalayak?

Maka, aku mencoba menawarkan solusi pada diriku sendiri. Sebuah kalimat yang bagiku sederhana, dan aku siap untuk berjaga.
Setiap orang memiliki ruang privasinya. Di saat aku merasa paham tentangnya, bisa jadi aku sebenarnya tidak mengetahui apa pun. Oleh karena itu, kekang diriku untuk tidak dengan mudah menghakiminya. Jika mungkin, aku akan bertanya terlebih dahulu. Tentu mereka memiliki alasan tertentu atau jawaban yang semestinya.
Ya, jika tidak bisa berkata baik, maka diam. Karena terkadang bukan orang lain yang kelewat sensitif, sehingga sedikit mendengar ucapan kita jadi tersinggung. Tetapi, mungkin justru kitanya lah yang terlewat tidak peka dan terlalu "sok paham" etika bersosial.

Maka, mari berlatih bersama. Menumbuhkan empati sosial dan peka lingkungan. Supaya gesekan antar individu bisa diminimalisir. Kesalahan dalam memberi respons juga dapat ditangguhkan. Meski tidak menutup kemungkinan, semua benturan itu memang kadang hadir untuk memberi warna dan sekerat makna pada manusia. Sebab memang, manusia adalah tempatnya salah dan lupa.

Wallahu a'lam bishshowab

Kediri, 28 November 2019

Rabu, 27 November 2019

Euforia Rasa: Rindu dan Hujan yang Basah

November 27, 2019 2 Comments
Alhamdulillah,
Segenggam ucapan itu bergemuruh memenuhi ruang bernama hati. Gerimis tidak hanya membasahi seluruh ruang di luar diriku. Tanah kering mengeringkan itu kini kuyup oleh gerimis ritmis yang Allah kirimkan, tepat hari ini.

Setelah sekian purnama terlewati tanpa aroma petrichor nyata, hari ini aku tak perlu lagi mengandaikannya hadir. Sebab ini nyata, gerimis itu nyata, desau angin yang tadinya hanya semilir, kemudian menjadi sangat ricuh saat hujan mulai menyapa, dan itu nyata. Apalagi lagu yang memenuhi ruang dengarku, meski hanya melalui dunia yang terlipat, ia tetap nyata.

Alhamdulillah,
Rindu itu menyapaku dengan lebih jelas lagi. Imaji berkelana menyusuri setiap jejak yang mesti dihampiri. Berhenti sesekali untuk sekedar menyimpan aroma kenangan. Memenuhi kantong bekal, untuk nanti kita buka saat mata hendak terpejam sebab lelah menggelayut tanpa rasa. Rindu yang memenuhi bekal ajaib itu yang akan menetralkan semua.

Aroma ini yang membuatku terbang, berputar dan mengitari pusaran. Rasanya basah yang membuat lega selega-leganya. Air hujan ini rembes, tanpa penghalang. Meninggalkan jejak kuyup pada diri yang sengaja menari di bawahnya.

Dan ini, lagi-lagi tentang rindu yang menguar bersama aroma hujan yang menghampiri tanpa kabar. Semoga alveoliku mampu mengembung tanpa meletus, menangkap kemudian menyimpan. Memasok oksigen ke segala penjuru, untuk kubawa beberapa waktu lagi. Sampai, rindu itu benar-benar terbayar.

Alhamdulillah,
Tak ada ungkapan yang lebih indah selain syukur yang tiada henti. Nafas ini tercemar petrichor yang mengagumkanku. Membuatku runtuh dan luruh bersama aroma lain yang tak mampu menghapus bau tanah basah. Sekali lagi, perlahan menyesapi dan menempati seluruh ruang yang dilewati, hingga sampai pada titik terdalam, bernama kalbu.

Sampai jumpa lagi....

Kediri, 27 November 2019

Selasa, 26 November 2019

Komunikasi : Tidak Hanya Berbicara

November 26, 2019 11 Comments
Pembicara yang baik adalah pendengar yang baik.
Kita sering mendengar ungkapan tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Dan akhir-akhir ini, kalimat sederhana sarat makna itu menjadi salah satu bahan perenunganku.

Mengapa kemudian seseorang yang dengan kemampuan mendengar baik, maka dia akan menjadi pembicara yang baik pula? Sekarang kita bicara ini dalam konteks perspektifku ya. Dan kupikir semua orang bebas memaknai kalimat ini.

Seseorang yang dengan kemampuan mendengar baik, akan menangkap informasi atau pesan dari lawannya secara menyeluruh. Tidak sepotong-potong yang kemudian menimbulkan respon tak utuh pula. Kadang dalam kehidupan, kita menemui beberapa kasus, di mana orang suka sekali memotong pembicaraan orang lain. Menengahi penjelasan yang diberikan orang lain. Sebab, yang bersangkutan merasa sudah paham. Padahal, boleh jadi informasi yang disampaikan itu berbeda dari apa yang dipahaminya atau yang sudah pernah didengar.

Oleh karena itu urgensi dari mendengar ini aku pikir sangat penting. Kita tidak bisa serta merta jadi pendengar yang baik jika tidak dilatih. Dan kebiasaan memotong pembicaraan pun termasuk dalam kategori ketidaksopanan. Merupakan perilaku yang menyalahi adab berkomunikasi.

Dan hal-hal seperti ini yang justru seringkali memicu terjadinya gesekan bahkan perdebatan yang tak berkesudahan. Oleh karena itu, perlu kita pahami bersama bahwa komunikasi itu tidak melulu soal apa yang disampaikan saja. Tapi, bagaimana kemudian kita bisa menerima informasi yang disampaikan dengan utuh. Sehingga, jalur komunikasi tersebut tidak timpang atau bahkan memicu hal yang tak diinginkan.

Namun demikian, kita tidak bisa selalu memaksa orang untuk bisa mendengar apa yang kita sampaikan. Tidak selamanya kita menjadi individu penyampai pesan. Ada kalanya kita lah yang menerima pesan. Dalam konteks ini, komunikasi yang dimaksud adalah komunikasi dua arah yang dilakukan oleh dua orang atau lebih. Berbeda dengan pesan yang disampaikan melalui media seperti ini, maka akan muncul aturan lain lagi.
Penulis yang baik adalah pembaca yang baik.

Oleh karena itu, untuk tetap menjaga jalin silaturahmi dengan orang lain tetap baik. Salah satunya adalah dengan mematuhi adab berkomunikasi. Jika tidak boleh menyela pembicaraan orang lain, maka bersabar untuk mendengarkannya hingga selesai. Bahkan, pelajaran ini dulu sudah disampaikan sejak pendidikan dasar.

Lalu, apakah kemudian hari ini krisis tata krama telah sangat pudar? Sehingga manusia hanya mengerti bahwa komunikasi itu sekedar berbicara. Aku yang tua maka harus didengarkan. Aku yang tua maka harus diikuti. Apakah demikian? Let's talk with our heart. 

Semoga kita termasuk ke dalam golongan mereka yang paham bahwa menghormati hak orang lain termasuk menghargai dirinya sendiri. Tidak menyela ucapan orang lain, termasuk ke dalam menghargai diri sendiri. Sehingga, bukan hanya menuntut orang lain harus menjadi tapi, kita lah dulu yang harus menjadi.

For things for change, I just change first.

Kediri, 26 November 2019 

Minggu, 24 November 2019

Komunikasi: Bahasa Bukan Sekedar Kode

November 24, 2019 0 Comments

Keteraturan dalam sebuah tatanan adalah sesuatu yang didambakan oleh sebagian orang. Karena keteraturan mungkin bisa bernilai sebuah kedamaian atau tempat terbaik. Hanya saja, kadang apa yang sudah kita rencanakan terjadi di luar kendali kita. Nah, bagaimana kemudian orang-orang yang pro keteraturan ini bisa toleran terhadap situasi uncontrol tersebut.

Dalam dunia sosial, keterkaitan satu dengan yang lain bisa terjadi karena adanya interaksi. Berbagai macam bentuk interaksi, salah satunya adalah dengan komunikasi. Dalam hal ini berarti ada pesan yang disampaikan dan diterima selama proses interaksi. Pola komunikasi ini melibatkan satu bentuk kode yang kemudian kita sebut sebagai bahasa.

Selama pesan yang disampaikan sesuai dengan diterima, berarti tidak ada masalah dalam proses komunikasi. Sekali pun mungkin, orang per orang kurang bisa memahami struktur kalimat yang benar. Tapi, pesannya sampai. Ya, ada banyak faktor yang bisa memengaruhi proses komunikasi atau pun interaksi ini.

Nah, bagaimana kemudian yang terjadi pada individu yang memiliki kecenderungan control freak? Semua hal harus sesuai dengan apa yang diinginkan. Sementara lingkungan tidak memadai untuk bisa setara dengan apa yang dia mau.

Si control freak ini pun beragam bentuknya. Ada yang hanya bisa bicara tanpa do something more, ada juga yang justru bukan hanya mengontrol, tapi dia juga terjun langsung pada medan. Sehingga, Si CF ini tidak asal menentukan dan memerintah. Sebab semua sudah pada standarnya. Lalu, apa jadinya jika si CF ini juga seorang dengan sikap konformitas tinggi?

Udah gila kontrol, dia juga memenuhi standar masyarakat banget. Kalau sifat dan sikap tersebut tidak mengganggu hak orang lain, tentu tidak akan jadi masalah. Tapi, bagaimana jika kemudian sikapnya ini dipaksakan kepada orang-orang yang menurutnya harus sesuai dengan keinginannya? Tentu, akan menimbulkan konflik. Jika tidak adu argumen, yang bisa jadi tak berujung, juga bisa adu yang lain.

Kondisi-kondisi demikian ini, merupakan kondisi internal bagi pelaku. Dan merupakan kondisi eksternal bagi orang lain. Beragam situasi, sifat dan sikap manusia semakin banyak bermunculan dewasa ini. Dan mirisnya nilai toleransi semakin meluntur. Kalau pun ada, itu hanya sebagian kecil orang saja.

Jadi, sebetulnya semua orang itu memiliki sisi unik masing-masing. Oleh karena itu, perlunya memahami adab bermuamalah, untuk meminimalisir terjadinya gesekan. Bukan berarti meniadakan sama sekali, karena manusia masih memiliki unsur salah dan dosa. Sehingga menjadikannya makhluk yang memang tak sempurna. Ada peluang untuknya membuat kesalahan sehingga gesekan terjadi. Hanya saja, bagaimana kemudian batas toleransi bisa membuat mereka saling sadar dan bisa memahami.

Kembali lagi, tidak semua hal bisa kita kontrol sesuai keinginan kita. Yang bisa kita upayakan adalah apa yang menjadi tanggung jawab kita. Selama apa yang kita lakukan tidak menyalahi hak orang lain, maka sah saja tindakan yang kita lakukan. Satu lagi, manusia memang makhluk koding, yang artinya kode berbentuk bahasa untuk dapat dipahami rasa dan pikirannya.

Oleh karena itu, membangun komunikasi yang baik dan produktif akan menjadikan sebuah interaksi antar manusia ini menjadi efektif. Apa yang diinginkan disampaikan, apa yang ditolak didiskusikan. Jadi semua melewati mediasi berupa kompromi. Bukan saling kode, menunggu satu sama lain menjadi peka. Dan pada akhirnya, semua itu akan menemukan pelengkap, untuk bisa tumbuh berdasarkan fitrah dan menjadi manfaat bagi lingkungan.

Kediri, 24 November 2019