Follow Me @arhana.handiana

@arhana.handiana

Senin, 10 Februari 2020

Menulis Santai

Februari 10, 2020 1 Comments
Menulis santai menurutku ya menulisnya santai. Mengalir seperti air. Definisi santai yang kupahami adalah luwes dalam pemilihan diksi dan rangkaian kalimatnya lentur. Jadi ketika dibaca bisa mengalir. Tanpa disadari pembaca sudah sampai di ujung bacaan. Dan semoga definisi yang kukemukakan ini sejalan dengan definisi yang dimiliki oleh Sahabat PeKat, temansenja.com. Kalaupun tidak, semoga nanti kami punya kesempatan untuk diskusi terkait tema yang sama. Sehingga clear sharing kita hari ini.

Jadi, menjawab request tentang cara menulis yang rangkaian katanya santai terutama kalimatnya. Maka, Penenun Kata mencoba meramunya dalam post tulisan ini. Sekaligus mengerjakan ngODOP periode 3.

Eum, kalau kita membicarakan sesuatu untuk dipaparkan kepada publik, itu seolah kita adalah yang paling tahu tentang sesuatu tersebut. Dan untuk menebus kata seolah, supaya menjadi bagian yang enak dipahami. Maka, aku lebih nyaman kalau media ini menjadi sarana kita berbagi dan diskusi. Bukan karena siapa lebih jago dari siapa, atau lebih ahli dari siapa. Bukan. Melainkan, aku di sini sedang berbagi pengalaman. Syukur-syukur kalau pengalaman sederhana ini kemudian dapat menyebarluaskan manfaat.

So, langsung saja ya kita simak ulasan di bawah ini, AWAS! Tulisan ini mengandung dongeng.


Mungkin ini sudah pernah kusampaikan di tulisan-tulisan sebelumnya. Hanya saja mungkin tidak spesifik tentang bagaimana membuat tulisan kita itu santai. Tulisan santai tapi tak merasa sesantai itu. πŸ˜ŠπŸ˜„

Menulis adalah skill yang dilatih, bukan bawaan apalagi bakat. Kalau pun toh iya, mungkin hanya sebagian kecil prosentase saja. Selebihnya adalah latihan, latihan, dan latihan. Di luar sana sudah banyak sekali informasi yang menguraikan tentang bagaimana menulis indah  dan menulis kreatif. Maka sebetulnya, kita bisa menyerap satu per satu ilmunya kemudian dipraktekkan.

πŸ€”
Rasa-rasanya aku tidak memiliki ritual khusus untuk meramu sebuah tulisan. Semua hadir begitu saja. Dan kalau Sahabat masih ingat, bahwa untuk menghindari gagap menulis maka kita harus banyak baca. Karena membaca dan menulis itu saling terhubung.

Ya, kalau selama ini merasa masih sulit menuangkan apa yang ingin disampaikan, membaca. Apa yang dibaca? Apapun. Aktifkan kembali otot baca. Isi teko kita dengan beragam kosakata. Supaya ketika dibutuhkan, ibarat air dalam teko, ya tinggal tuang. Kalau kita lagi kurang baca, ya bisa jadi seperti teko kosong. Apa yang mau dituang? Benar, tidak?

Kemudian selain membaca, perbanyak lagi praktek. Pada proses ini seringkali menemui kerancuan. Mana yang boleh dan tidak boleh dibagikan. Sebagai insan literasi yang baik, maka kita harus bijak dalam mengambil keputusan. Jangan semuanya kita bagikan kepada media. Sebab, sekali tulisan tetap tulisan. Meskipun ia merupakan manifestasi sebuah pemikiran. Meskipun ia adalah bentuk lain dari bahasa lisan. Tetap menjadi sebuah tulisan yang tak bernada. Sehingga, bisa menimbulkan beragam asumsi dari pembaca.

Buat sesuatu yang bermanfaat tanpa meninggalkan jejak ambiguitas. Jadi, pisahkan hal-hal yang beraroma tak menyenangkan dengan sesuatu yang kita anggap berguna. Biasanya di sini, aku menyiapkan ruang khusus untuk meretas pikiran-pikiran negatif, rasa tersakiti, dan semua hal yang tidak menyenangkan. Di sana, kita bebas berekspresi tanpa harus melukai pihak manapun. Setelah tuntas dan tandas, barulah diri ini siap melahirkan anak-anak pemikiran yang sehat dan bermanfaat. Insyaallah.

Maka Sahabat, perbanyak membaca dan latihan sebetulnya adalah kunci yang tak boleh sampai hilang. Meskipun membaca apapun bisa, tetap ingat bahwa teko akan mengeluarkan sesuatu yang kita tuang ke dalamnya. Tulisan ibarat isi teko. Maka, ia akan mengikuti apa-apa yang telah kita baca.

Aku pikir, seperti itu saja. Semoga yang sedikit dan sederhana ini bermanfaat untuk Sahabat PeKat. Sampai jumpa di postingan berikutnya.

10.1.2020
-arhana-


Jumat, 31 Januari 2020

Tentang Siapa Aku Berada

Januari 31, 2020 9 Comments
Menyambangi rumah virtual menjadi sebuah rutinitas yang tidak lagi kulakukan beberapa hari ini. Terakhir setelah aku selesai membaca sebuah buku yang merupakan salah satu challenge-ku di tahun 2020. Berbicara tentang challenge, ternyata ada banyak sekali tantangan yang sengaja kuhadirkan sampai yang tidak kuharapkan sama sekali.

Namun, terlepas dari tantangan itu. Kali ini aku hendak bicara tentang siapa aku di sini. Sebuah rumah yang identitasnya pun haruslah jelas. Supaya pengunjung tak salah alamat. Selain itu pemberian identitas ini bermaksud juga untuk menjadikan sesuatu itu unik. Biasanya identitas digunakan untuk mengenali sebuah atau sesuatu yang bisa saja disebut aku, kamu, pun dia. Maka, perkenankan sekali lagi aku memberi label yang tak membatasi, tetapi justru bisa memberi kemanfaatan yang jauh lebih luas, insyaallah. Harapannya seperti itu.

Jadi, pada awal pendirian rumah virtual ini. Aku membangun dengan konsep literasi. Entah kecintaan atau memang minat besarku ya di dunia buku. Maka, aku ingin mendedikasikan sebagian waktu untuk hal-hal yang berkenaan dengan literasi. Meski sadar bahwa literasi itu sebetulnya masih sangat luas. Tapi, ketika kemudian akan menjalankan segala aktivitas di dalamnya, terasa ada batas tak kasat mata yang mengekang. Sehingga ketemulah titik bingung atau yang biasanya temen-temen penulis itu nyebut sebagai blocking atau writer's block.

Nah, setelah ketemu buntu. Akhirnya aku sedikit longgar dan menganggap bahwa yang penting aktif dulu mengisi. Soal tema bisa dipikirkan nanti. Ternyata eh ternyata, tanpa sadar apa yang kutulis muter-muter seputar itu saja. Menulis, membaca, buku, edit, dan hal-hal yang berkaitan dengan literasi membaca. Kalau pun ada beberapa post yang tidak nyambung, bisa jadi itu tantangan atau ya aku pengennya ngbahas itu. Pokoknya serba enggak jelas gitu. Dan aku sendiri mulai berpikir, ko yang kutulis itu ya cuma itu-itu saja, begitu-begitu saja, enggak ada perkembangan, enggak apa ya? Ada yang kuranglah pokoknya.

Sampai suatu ketika, di kelas nonfiksi yang sengaja kupilih karena memang ingin mengasah kapak yang tajam, meninggikan gunung bukan meratakan lembah. Ada satu materi tentang perblogingan. Biasanya kalau ada kelas aku cenderung pasif. Antara bingung mau nanya apa dan belum baca materi secara keseluruhan. Jadi, kaya yang pelan banget gitu belajarnya. Banyak faktorlah kalau ini ya. Di situ, sama narsum diminta share link blog. Gunanya untuk dikunjungi dan dicek oleh narsum. Tentu saja bukan hanya itu ya sahabat. Dari kunjungan tersebut, akan ada semacam kritik dan saran dari sebuah blog. Nah, kata PJ BSO tahun ini, itu semacam dalil yang menyebutkan tentang siapa sih blog ini. Atau apa sih alamat yang cocok untuk rumah virtualku ini.

Jadi, pada saat itu Beliau mengatakan bahwa blogku cenderung bicara tentang literasi.
Kak Arhana saya sudah tengok blognya. Dari yang saya lihat, benang merah semua postingan di blog Kakak adalah tentang literasi. Itu bisa bnget dijadikan niche dan dikulik lebih dala pd setiap postingan 😊
Cuplikan jawaban dari narasumber saat itu. Dan benar, aku bangun rumah ini maunya masih suka-suka. Masih yang blog itu seperti diary digital. Meskipun aku masih selektif untuk membagikan apa, sekalipun aku menganggapnya sebagai diary, bukan lantas everything dibagikan pada khalayak ramai. Tentu saja tidak. Nah, tapi ternyata sistem kerja di kepalaku sudah membuat filter otomatis. Bahwa yang akan aku tulis di sini adalah tentang literasi. Seperti kata Mbak Rindang, narasumber.

Hanya saja, sesuatu yang tadi kupikir kurang dan hanya itu-itu saja adalah pembahasanku yang masih sangat dangkal. Ibarat makan, mungkin aku hanya mencicipi saja. Ambil permukaannya saja, enggak sampai menyelam ke dasar. Atau mungkin setengahnya saja, itu pun sepertinya juga tidak. Tapi, berangkat dari situ, aku jadi semakin yakin bahwa it's me. Rumah virtualku adalah dunia literasi, khususnya menulis dan membaca.

Dan terimakasih kepada PJ BSO yang sudah memberi kesempatan untuk menyelesaikan tantangan ini.

Kdr, 31.1.2020
-arhana-

Mekanisme Antologi dalam Menulis Buku

Januari 31, 2020 3 Comments
Hari ini, begitu banyak cara untuk bisa memiliki sebuah karya. Katakan sebuah buku, maka ada banyak cara untuk membuat sebuah buku. Dari beragam cara itu salah satunya adalah antologi. Mungkin, dalam artikel kali ini akan banyak sekali kisah pengantar. Sebagai media yang membantu Sahabat untuk memahami apa itu antologi.

Jadi, awal mula saya memiliki buku juga dengan cara seperti ini. Bersama puluhan penulis lain, kami mengumpulkan naskah yang memiliki tema sama. Karena hendak dikumpulkan atau biasanya kami menyebut proses itu dengan kompilasi. Maka, tentu saja naskah yang dibuat harus memenuhi beberapa syarat. Salah satunya adalah kesamaan tema.

Pada saat itu, yang kami kumpulkan adalah naskah kisah inspiratif. Baik berupa kisah pribadi maupun kisah orang lain yang kita ambil pelajarannya. Maka, setelah semua naskah itu terkumpul dan disusun secara teratur serta melalui proses edit oleh editor. Selanjutnya akan masuk meja kerja layoter. Sampai sini proses pembuatan buku tengah berlangsung dan hampir mencapai garis finish sebelum kemudian dicetak.

Jadi, mekanisme antologi kalau menurut saya pribadi adalah proses pengumpulan karya. Bisa berupa cerpen yang biasanya disebut dengan antologi cerpen atau kumpulan cerpen. Ada juga puisi, artikel dan macam-macam karya lainnya.


Iya, jadi kalau menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, antologi adalah kumpulan karya tulis pilihan dari seseorang atau beberapa orang pengarang. Nah, kalau berdasarkan definisi ini, tentu saja yang saya lakukan itu adalah menulis bersama dengan beberapa orang penulis lainnya. Lantas, apakah bisa jika saya seorang diri kemudian ingin membuat sebuah antologi karya? Jawabannya, tentu saja bisa. Mengapa tidak?

Sahabat silakan baca ulasan buku Super Writer yang sudah saya highlight di atas ya. Di situ sedikit saya beri gambaran tentang beberapa teknik yang dapat dilakukan seseorang untuk menulis buku. Salah satunya adalah kompilasi karya pilihan mereka untuk dijadikan satu buku yang tentu saja juga kaya manfaat. Lebih-lebih sahabat bisa membaca buku tersebut ya. Jadi, di masing-masing teknik, Kak Rifa'i sebagai penulis memberi penjelasan teknis sekaligus contoh praktek yang pernah Beliau lakukan.

Untuk teknik antologi ini, Beliau melakukannya seorang diri. Dengan cara mengumpulkan beberapa artikel yang pernah Beliau tulis dan dibagikan melalui blog pribadi. Kemudian setelah terkumpul, beberapa judul setema atau terkait akan dijadikan satu. Pada proses ini sebetulnya penulis sedang membangun konstruksi sebuah buku. Mau dijadikan berapa bab, membahas apa saja, masing-masing bab terdiri dari berapa judul, dan seterusnya. Hingga jadilah sebuah buku yang siap dicetak dan diterbitkan.

Sekian ulasan mengenai mekanisme antologi dari penenun kata. Semoga yang sederhana ini bisa memberi manfaat dan membantu sahabat yang membutuhkan.

Kdr, 31.1.2020
-arhana-

Rabu, 22 Januari 2020

Berlabuh di Lind∅ya : Sketsa Kehidupan yang Baru

Januari 22, 2020 0 Comments
Source : Dok. Pribadi

Identitas Buku

Judul : Berlabuh di Lind∅ya
Penulis : K. Fischer
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2015
Tebal : 280 hal; 20 cm
ISBN : 978-602-03-1866-0

FYI : untuk tahu banyak tentang penulisnya, atau baca buku lain dari penulis yang sama, silakan klik nama penulis.

Kisah di Balik Kisah

Ketika memilih sebuah bacaan, mungkin ada satu pertanyaan wajib yang sering kuhadirkan. Yaitu tentang mengapa aku harus membaca buku ini. Jawabannya tentu saja akan beragam. Mulai dari hanya untuk refreshing, sampai menemukan sesuatu. Seringnya sih referensi, tapi tak sekaku saat harus mencari bahan skripsi. Ya, buku kan selalu membawa ceritanya sendiri-sendiri. Apakah dia jatuh ke tanganmu sebab memang kau butuh referensi tulisan? Atau kau yang sedang butuh teman.

Kali ini, aku marathon baca dalam rangka menghabiskan koleksi yang masih terbungkus rapi. Dan kalian tentu akan mengomentari sebab angka tahun terbitnya sudah lama. Tidak masalah. Dan mengapa dalam setiap ulasan, aku selalu menampilkan kisah di balik kisah? Kenapa tidak langsung saja bahas apa sih isi buku ini?

Ok, pertama karena memang aku baru sekali dalam hal review. Sejujurnya adalah hal tersulit bagiku untuk menentukan kritik dan nilai pada sebuah karya. Well, katakan itu memang bukan kapasitasku. Oleh karenanya, aku lebih fix untuk menulis pengalamanku saat membaca sebuah buku.

Kedua, sebetulnya ini hanya kebutuhanku untuk merekam jejak bacaan. Jadi, supaya enggak lupa jenis buku apa sih yang sudah kubaca. Atau apa sih isi buku yang kubaca, dst.

Ketiga, sebagai rekam jejak tentang pelajaran apa yang bisa kuambil dari sebuah buku. Banyak orang mengatakan bahwa baca novel itu buang-buang waktu. Lebih baik baca jenis ini atau itu. Well, itu tidak akan pernah mudah bagi mereka yang baru menyukai dunia baca ketika usia dewasa. Seseorang perlu bacaan yang dia sukai terlebih dahulu. Baru bisa memanage jenis bacaan apa yang bisa ia nikmati dan sekaligus dibutuhkan.

Balik lagi ya Sahabat, semua kembali pada tujuan mengapa kamu membaca sebuah buku. Semisal ternyata kamu enggak ada butuh untuk membacanya, ya stop it. Cari buku lain, yang memang kamu butuhkan. Karena membaca itu butuh energi, dan kamu enggak akan dapat apa-apa kalau hanya membaca karena lapar mata. Yes, semua tergantung niatnya.

Jadi, kali ini Berlabuh di Lind∅ya menemani waktuku untuk istirahat sejenak dari rutinitas. Salah satu karenanya adalah refreshing, salah lainnya mungkin bisa jadi referensi kalau-kalau aku mau nulis fiksi dengan latar luar negeri. Sekalipun itu saat ini rasanya jauh. Ok, nggak perlu banyak-banyak lagi ya, langsung saja kita berpindah ke halaman sebelah.

Lind∅ya atau Norwegia yang Baru

FYI, aku paling sulit baca novel atau buku terjemahan.

Dan kali ini meskipun latar tempatnya adalah Norwegia, Oslo, Lind∅ya tapi bukan berarti buku yang purna kubaca merupakan terjemahan. Sama sekali bukan. Biasanya sebuah buku bertengger di jajaran koleksiku sebab ada sejarahnya. Dan lagi-lagi bisa saja dia akan menjadi sebuah referensiku menulis, kelak. Tidak ada yang tidak mungkin, kan?

Maka, buku ini dulu juga direkomendasikan untuk bisa dijadikan bahan bacaan kalau-kalau Sahabat butuh contoh karya dengan latar luar negeri. Selain itu, buku seperti ini juga bisa membuka wawasan kita tentang bumi Allah di belahan lain dari tempat kita berpijak. Makanya buku itu disebut sebagai jendela dunia, bukan?

Mengapa Norwegia yang baru? Dia baru bagiku. Sekalipun aku tidak pernah pilih-pilih latar mana yang ingin kubacai. Semua yang berbau seberang jendela tentu saja menarik. Buku ini tidak hanya menyajikan pesan moral dari penulis tentang tokoh utama. Melainkan juga banyak sekali informasi terkait setting tempatnya. Dan ya, hal itu memang diperlukan dalam sebuah karya fiksi, untuk menambah nilai karya itu sendiri.

Bisa saja dengan setting yang digambarkan secara detail, akan membawa pembaca pada visualisasi yang nyata. Pembaca akan merasakan bagaimana tinggal di Lind∅ya meski hanya sebuah gambaran atau bayangan. Merasakan dinginnya suhu minus atau ketika hujan es tiba. Mungkin juga menambah wawasan bagaimana penduduk asli akan mengadakan sebuah perayaan saat siang atau malam harinya lebih panjang. Semua itu tentu akan menambah bobot sebuah karya. Meski dengan catatan tetap harus logis dan sesuai dengan kondisi yang sesungguhnya.

Kemudian, hal menarik lainnya dari novel ini adalah gambaran tokoh utama atau sebut saja Sam. Bagaimana Sam menghadapi masa lalunya? Bagaimana kemudian dia mengatasi serangan traumanya. Sehingga ialah yang muncul sebagai pemenang, sebagai seorang perempuan yang tak menolak menyerah dalam menghadapi persoalan hidup.

Bahasa yang mudah dipahami, membuatku sukses tak mengulang kalimat yang tuntas dibaca. Melaju dengan kecepatan rata-rata dan menghabiskan waktu tiga hari atau mungkin lebih tepatnya hanya 4 - 5 jam, jika diakumulasi nonstop.

Dan di sini, karena aku tak mengomentari soal penokohan dan lain sebagainya terkait dengan unsur intrinsik sebuah novel. Maka, aku lebih menggarisbawahi pada feel ketika Sam harus bergulat dengan masa lalu yang seperti teror. Sekalipun ini bukan novel dengan spesifikasi psikologi, aku tetap apresiasi tentang informasi yang minim itu.

Mungkin, aku punya sedikit harapan kalau-kalau unsur ini bisa diangkat lebih dalam lagi. Hanya saja, karena showingnya sudah dapat. Sehingga, pembaca sepertiku bisa membayangkan dan mungkin merasakan bagaimana Sam bergetar sekaligus merasa kosong saat stimulus hadir tanpa aba-aba. Dan proses yang bisa dikatakan singkat serta sederhana itu, memulihkan keadaan. Ah, meski pada kenyataannya tak pernah sesingkat dan sesederhana itu.

Tapi, akhirnya aku mengerti. Bahwa semua kemungkinan itu akan hadir sesuai dengan apa yang kita pikirkan.

Allah sesuai dengan prasangka hamba-Nya.

Sam melalui babak barunya setelah ia memiliki self esteem yang lebih kuat. Merasa bahagia dengan dirinya. Menerima masa lalunya sebagai bagian dari sejarah hidup. Yang karenanya ia bisa belajar untuk tak kembali terpuruk.

Penerimaan yang diawali dengan kesadaran atas siapa dirinya. Akan mengantarkan si empunya jiwa lebih mudah menguasai situasi. Sehingga ia dapat melangkah lebih leluasa menghadapi teror traumatiknya. Maka, trauma itu sebetulnya dapat diatasi, bergantung dari seberapa besar seseorang memiliki keinginan untuk menghadapinya.

22.1.2020/arhana/



Minggu, 19 Januari 2020

Sebelum Pagi: Renungan Hariku

Januari 19, 2020 0 Comments
Source : dok. pribadi

Judul : Sebelum Pagi
Penulis : Harun Tsaqif
Penerbit : NunBooks
Tahun Terbit : 2019
Tebal : xi + 181 hlm
ISBN : 978-623-7688-00-6

Secuplik Kisah

Seperti dongengku sebelumnya. Bahwa buku adalah jawaban daripada tanya kita yang tak terucapkan. Buku bisa menjadi sebuah hadiah dari seseorang, tetapi tahu kah? Bahwa bisa jadi itu adalah jawaban Allah atas rasa gelisahmu. Apakah kita juga sadar bahwa ada tangan Allah yang bekerja di antaranya? Kita sungguh tidak pernah tahu pasti, bagaimana Allah akan memberi jawaban atas segala pinta. Dan kejutan-kejutan itu seringkali tak disadari untuk kemudian disyukuri.

Ya, buku ini salah satunya. Beberapa kali aku harus menutup mata untuk melakukan diet belanja buku. Sebab masih banyak saja antrian dari tahun ke tahun yang belum terjamah. Haaa, bukan karena banyaknya jam untuk melahap semua bahan bacaan. Tapi, mungkin aku terlalu malas dan lupa telah memaksanya hadir di bangku tunggu itu. πŸ™ƒ Oleh karenanya, aku perlu skip agenda belanja. Tapi, siapa sangka jika memang rejeki tetaplah akan hadir sebagaimana mestinya.

Sang pemberi berpesan untuk bisa menyelipkan referensi ini pada salah satu sift jadwalku. Yang aslinya juga tidak sepadat itu. Aku hanya perlu mengaturnya saja. 😬 Sehingga, mau tidak mau bacaan ini menjadi pembuka di tahun 2020. Semoga setelahnya makin rajin baca, enggak cuma belanja. Karena tentu saja itu tak baik. Akan bagaimana aku mempertanggungjawabkan mereka semua, bukan?

Alasan kenapa sang pemberi meminta segera menyelipkannya di antara waktuku adalah supaya aku segera bisa memberi kabar. Tentang apa sih buku yang aku baca ini? Jadi, tak usah berpanjang-panjang lagi dongengnya. Mari kita simak tulisan berikut ini πŸ₯³
Btw, makasih buat yang ngasih. Besok lagi ya... πŸ˜†πŸ€­

Sepenggal Makna

Sebelum Pagi adalah kumpulan motivasi, inspirasi, juga sebagai referensi kontemplasi. Kemasan buku karya Harun Tsaqif ini terbilang biasa, tapi ada sesuatu yang berbeda di dalamnya. Aku pikir secara khusus Harun menyapa pembacanya dan mengenalkan diri sebagai sahabat.

Pendekatan yang belum pernah kujumpai sebelumnya. Tentu saja, hal itu semakin menambah interest buku yang sudah ada di tangan pembaca. Dari surat tersebut, Harun bicara laiknya sahabat. Mengingati dan mengajak kita untuk merenungkan hal sederhana saja, tetapi berdampak. Surat yang ia selipkan membawa makna sendiri tentu saja. Dan buku itu hadir untuk dialog antara penulis dengan pembacanya.

Soal apakah nanti kalian setuju atau tidak, yang jelas buku ini adalah hasil renungan. Dari sepotong kisah dalam kehidupan sehari-hari. Bahasanya yang sederhana, kalem, dan tentu saja renyah, mampu membawa arti dari sesuatu yang terlihat sepele. Kalian tentu paham, bahwa hal yang sepele seringkali diabaikan. Maka, di sini kita diajak untuk memunguti kembali. Puing-puing yang tertinggal. Atau makna usang yang pernah kita temukan lalu hanya tersimpan rapi di kotak masa lalu.

Buku Sebelum Pagi dibagi menjadi tiga bagian. Yang pertama adalah malam, kemudian sepertiga akhir lalu pijar mentari. Penamaan bagian ini tentu saja memiliki arti. Kalau aku sendiri melihatnya, ini seperti bagian dari pada sebelum pagi itu sendiri. Dan kalian akan menjawab, ya iya pasti. Tapi, perhatikan lagi lebih detail. Apa yang biasanya terjadi ketika matahari mulai tenggelam, sampai kemudian sepertiga perjalanan sunyi yang terakhir dan lalu matahari kembali menyinari bumi yang kita pijaki. Apa?

Ya, kontemplasi. Perenungan pada apa yang sudah kita lalui satu hari ini. Kemudian, kita akan belajar menata hati lagi. Dengan cara apa? Menerima setiap apa yang Allah beri, hari ini. Lalu, memaafkan pada setiap inci yang kita sebut dengan luka, kecewa, marah, dan semua hal yang pahit. Dan kita menutupnya dengan syukur atas segala sesuatu dan harapan baru untuk hari esok.

Kemudian di sepertiga terakhir, kita bersiap diri. Memulai hari dengan satu ritual lagi. Yaitu, melangitkan harapan dengan riyadhoh qiyamullail. Sampai sini mungkin kalian lebih paham daripadaku. Dan ngerti kenapa aku mengaitkannya dengan sebelum pagi. Makanya, subjudul buku ini adalah menata hati melangitkan mimpi.

Jadi, kurang lebih begitu isi buku yang telah kutuntaskan ini. Aku bacanya tiga hari ya sahabat, karena memang enggak bisa full booked, harus berbagi waktu dengan agenda lainnya. Buat kalian yang butuh buku motivasi, buku ini bisa jadi pilihan. Meskipun sebenarnya aku menunggu sesuatu yang deeply. Tapi, bisa jadi ini karakter dari buku Sebelum Pagi itu sendiri. Bahasan yang ringan, sederhana tapi bermakna.

19.1.2020/arhana/

Kamis, 02 Januari 2020

BTS of Cerita Kemarin

Januari 02, 2020 0 Comments

Setelah hibernasi tanpa postingan, ternyata aku cukup menyesal karena membiarkan waktu berlalu begitu saja. Mestinya sedikit coretan dapat melengkapi harapanku di penghujung tahun 2019. Tapi, apalah daya, memang aku juga harus tetap memilih prioritas. Bukan, bukan memilih tetapi menentukan. Dan, hasil dari memaksa itu sebetulnya tidak menyenangkan, jika akhirnya tak dapat sepenuh hati hadir di dalamnya. Seperti coretan kemarin lusa.

Menjawab semua komentar yang masuk, maka di sini aku coba untuk membuka diskusi. Eum, bukan sih ya. Lebih tepatnya aku mau membuka cerita di balik layar. Kenapa kemudian aku seolah seperti berkampanye untuk menulis yang baik. Meski mungkin tulisanku sendiri masih dalam proses perbaikan. Sebetulnya, bukan permintaan, tapi memang itu yang seharusnya diperhatikan oleh insan literasi.

Ok, jadi ada cerita apa di balik Cerita dari Sudut Kota?

Bang Dutinov, atau yang biasa kusebut Kak Ibra, atau juga kalian bisa mengenalnya sebagai Ninja Penulis tiba-tiba mampir karena aku juga mendadak mencantumkan link ke list di grup setor link. (Ini sih perkiraanku saja. Soalnya udah lama banget Beliau enggak mampir ke sini). Kenapa aku bilang mendadak? Karena memang sudah lama juga aku enggak mempublikasikan link post. Biasanya ya membagikan tulisan mah bagi aja, setelah kelas artikel usai beberapa pekan lalu. Maka, aktivitasku dengan perblogingan juga sedikit longgar. Mestinya sih enggak begitu ya. Dengan alasan apapun, seharusnya tetap dikasih makan tiap hari. Ya, minimal satu kali lah gapapa. Nah, kali ini entah kenapa aku mampir ke grup itu dan ikut mendemokan link postingan.

Oiya, setelah kelas artikel selesai. Aku paling masih mampir ke sini untuk melempar umpan hasil review buku yang sudah purna kubaca. Itu pun masih asal bikin review aja. Penggugur kewajiban gitu agaknya. Meskipun, percaya atau enggak itu terserah pembaca ya, sebetulnya program itu memberi efek yang luar biasa. Jadi, kalau sehari enggak baca tu rasanya kaya ada yang kurang aja.

Ya, kadang aku ingat pertanyaan rekan. Kapan aku sempat membaca buku, sedangkan pekerjaanku terlihat sudah sangat menyita waktu, tapi lihatlah, tumpukan buku di ruanganku bisa sebanyak itu. Aku sendiri juga tidak tahu, kapan. Yang jelas, ketika aku seharusnya bisa pergi ke tempat lain untuk berlibur, tapi kenyataannya masih harus tetap berkutat dengan pekerjaan. Buku bisa membawaku berlibur dengan tidak kalah membahagiakannya. Kalau kata teman lain, literasi itu surga bagi para pecintanya. Aku bilang, itu kalimat untuk menghiburku saja dah. Hehe ... Meski kenyataannya memang iya.

Ah iya, balik lagi. Kak Ibra bilang ini ko postingan mendadak kembali ke masa lalu gitu ya?

Heum, kalau boleh aku tertawa gitu ya. Aslinya aku sih bengong, Beliau koment itu habis berselancar ke mana? Hehehehe

Iya, jadi cerpen Cerita dari Sudut Kota itu adalah tugas akhir dari RCO. Pada tahu RCO itu apaan? Eum, RCO itu Reading Challenge-nya ODOP. Di musim keenam ini aku adalah salah satu dari peserta yang bertahan hingga pekan keempat atau pekan terakhir. Namanya saja tantangan baca ya, jadi setiap pekan kami diberi tantangan untuk membaca buku dengan genre tertentu. Yang bikin degdegan itu ketika akhir pekan dan pembukaan pekan berikutnya. Kenapa? Karena belum tentu kita punya buku yang dibuat tantangan. Atau kalau enggak, kita belum tentu familiar dengan jenis buku tersebut. Ah, yang benar saja. Setelah tiga pekan lewat dengan genre yang mengharu biru, ternyata tantangan ini memilih dirinya ditutup dengan hisfic aku menyebutnya. Apa itu? Fiksi Sejarah. Eh, apa iya ya.

Sepertinya tidak harus fiksi. Bebas mau fiksi atau non fiksi. Hanya saja harus tentang sejarah. Kemudian, tantangan akhirnya adalah membuat cerpen dengan latar belakang masa di mana buku kita bercerita. Maksudnya, buku yang kita baca tadi itu sedang menceritakan masa apa? Kalau aku misalnya, membicarakan tentang masa penjajahan kolonial Belanda. Setting tempatnya di Surabaya. Lupa ya, tahun berapa. Kalau kalian sudah pernah membaca mungkin tahu, Bumi Manusia-nya Eyang Pramoedya Ananta Toer. Atau malah ada yang sudah nonton filmnya.

Eum, panjang cerita kenapa akhirnya aku memilih buku ini untuk kubaca. Selain memang sudah lama masuk daftar baca yang tak kunjung terealisasi, aku juga penasaran tentang sastranya. Meski pada kenyataannya, buku semacam ini perlu effort yang luar biasa untuk bisa menuntaskan. Bersyukur di tengah halaman (kurang lebih halaman 85 - 100) jalan cerita mulai membuatku nyaman dan bahkan larut. Sehingga tak butuh waktu lama untuk bisa sampai ke halaman terakhir. Hanya saja yang kusayangkan adalah aku membaca versi ebooknya. hehehe ....

Kemudian, menjawab komentar dari pembaca pertama (mungkin)
πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ tapi... kok aku merasa random ya bacanya. Jadi kaya meloncat-loncat gitu loh. Mau ngikutin peristiwa mana ga bisa.
Okay, fine. Aku jawab begini, "Namanya juga mimpi."

Setelah itu aku banyak merenung, kalau mimpi itu kan memang begitu. Ceritanya enggak urut. Bisa banyak hal masuk jadi bagian cerita. Tapi sebenarnya, justru ini memang random. (Heum, aku ingin terbahak sekali lagi.) Random karena apa yang terlintas di benakku tak sepenuhnya matang. Kebiasaanku kalau mau menulis dan membagikan tanpa mengendapkannya terlebih dahulu. Jadi, pure pikiran pertama. Hanya saja, lebih tepat kalau aku menyebut cerpenku itu hasil dari perjuangan pejuang DL. πŸ˜‹

Next, komentar selanjutnya dari Anak Muda (entah, siapa dia ini πŸ˜…).
Katanya cerita ini membuatnya bingung tentang siapa yang  dibicarakan, dan ternyata dia mendapat kejutan di ujung cerita. Kubilang, untung saja sadar kalau itu cuma mimpi. Namanya juga mimpi, kan? Tak perlu logis tentang siapa yang diceritakan.

Ok, Sekian jawaban dariku yang mungkin malah bisa jadi cerita baru ya Sahabat. Yang ingin kukatakan sebetulnya singkat, tulisan kemarin itu adalah hasil dari upayaku merobohkan benteng. Tulisan fiksi itu bagiku tantangan yang luar biasa, belum pernah aku dapat feel-nya sebagaimana aku menulis seperti ini.

Maka, ketika mendapat tantangan semacam ini. Yang pertama kali kupikirkan bukan buku apa yang akan kubaca. Tetapi, cerpen apa yang akan kutulis. Jadi, ternyata bergerak dari garis finish itu tidak hanya berlaku untuk pencapaian kita dalam hidup saja. tetapi, juga bisa kita aplikasikan saat akan mengerjakan suatu tugas seperti ini misalnya. Oleh karena itu, tentukan dulu apa yang ingin kita raih. Barulah kemudian breakdown menjadi tahapan lebih detail untuk mencapai tujuan tersebut.

Selamat bereksplorasi dan berbagi ya Sahabat! Dunia ini memang fana, tetapi bergerak untuk keabadian tidak pernah akan sia-sia.


Kdr, 2/1/2020

Rabu, 01 Januari 2020

Cerita dari Sudut Kota

Januari 01, 2020 10 Comments
"Lagi ngapain Mbak?"
"Bebersih nih, banyak sarlab?" Jawabku sekenanya.
"Apa tuh sarlab?"
"Sarang laba-laba Dek."

Dek Amah dan Dek Chocho beroh ria. Mereka ini kalau lagi dekat, sudah seperti regu koor yang dipentaskan. Bisa kompakan gitu responnya. Aku sering geli kalau lagi ngobrol bareng mereka. Ada saja yang bikin ketawa. Dan anehnya, kita bisa membahas apapun, bahkan dari yang recehan sampai ke emas karatan. Eh bukan, emas 24 karat.

"Ini emang kamar siapa Kak?" Suara Dek Cho akhirnya terdengar tunggal.
"Eum kamar itu tuh."
"Siapa?" Dek Amah ikut melongok.
"Masa ga kelihatan sih Dek?" Jawabku sambil sesekali mencuri pandang, barangkali mereka berespon lain.
"Oh, kamarnya si Minke?" Jawab Dek Chocho dengan nada tertahan.

Mendadak aku terdiam, menimbang mana kalimat yang akan tepat untuk aku lontarkan saat ini. Mengingat sebenarnya aku sedang kalut dengan bacaanku sendiri.

"Ngomong-ngomong, kita ngapain tiba-tiba berada di Boerderijc Buitenzorg, Mbak?" Suara Dek Amah terlihat kesulitan mengeja istilah Belanda. Dan aku sendiri belum tentu juga lancar.
"Jadi, begini ceritanya." Sambil menahan tawa, aku langsung saja pada inti. Yang sebenarnya juga aku sendiri tidak tahu, kenapa kami bertiga tiba-tiba berada di sebuah bangunan tua dengan ornamen khas Belanda. "Sebenarnya kan, kita itu tadi lagi ngobrol apa sih? Tentang Bumi Manusia." Aku berhenti lagi, untuk memilih kalimat.
"Oiya, bener. Sssssttt, ...." Dek Chocho menginterupsi. "Ada yang lewat barusan, tergopoh-gopoh, tapi terlihat letih sekali." Lanjutnya.

Ya, dia tiba-tiba menemukan sosok Nyai Ontosoroh, pemilik rumah ini. Dan berusaha menukar keberaniannya dengan cerita seperti apa dia melihat.

Tadi siang kami sedang duduk bertiga di bale-bale sambil menikmati cemilan yang disediakan Bunda untuk kami. Aku, Dek Amah, dan Dek Chocho adalah sahabat sejak orok. Kemana-mana kami selalu bersama. Sekolah pun, Alhamdulillah, bisa sama. Entah lah, skenario Allah memang tiada duanya. Kedua sahabatku ini adalah pelangi yang Allah hadiahkan untukku.

Hari ini kami libur, jadi menyempatkan diri untuk bisa bertemu, meski mungkin hanya sebentar saja. Dan seperti biasa, kami akan membahas apapun yang perlu dibicarakan. Namanya juga sahabat yang juga sahabatnya buku. Kami terbiasa membahas apapun, mulai dari hal receh sampai sesuatu yang sangat penting atau istimewa. Sekalipun kami sama-sama pecinta buku, tapi kami memiliki art yang berbeda.

Ya iya dong, masa harus sama terus. Enggak jadi pelangi nanti kalau sewarna. Seperti halnya sekarang, ternyata ide cerita Dek Chocho jadi pilihan waktu. Sehingga kami tertarik kembali ke masa kolonial ini. Euh, rasanya kalau boleh milih, ndak usahlah masuk ke buku genre begini.

"Iya, ini tuh kisah mereka pasca Noni Annelies dipulangkan ke negerinya sesuai dengan keputusan sidang beberapa hari lalu." Aku melanjutkan cerita. "Seperti yang telah diucapkan Minke, bahwa ia akan menyusul Anna, setelah keberangkatannya. Maka, hari ini Minke berusaha mencari cara untuk bisa segera berangkat."

Minke adalah pribumi terpelajar yang berwawasan Netherland. Dia memiliki banyak jaringan, meski pun belum seluas jarangin laba-laba yang hari ini harus kusibak sepanjang langkah kami bergerak. Untuk menunjukkan kesungguhannya, dan mematahkan persepsi bahwa Minke merelakan cintanya begitu saja. Ia pun bersegera mengirim telegram kepada Mantan Asisten Residen B. Kepada Tuan Asisten Residen itu ia akan menuju terlebih dahulu.

Tujuh hari lamanya, sejak telegram dikirim. Akhirnya pesan itu terjawab. Tuan Asisten menyatakan kesediaannya untuk menerima Minke. Meski apa peraturan negeri Belanda pada saat itu. Maka siasat tak boleh kurang dan kesopanan tetap harus dijunjung tinggi. Minke datang membawa nama pribumi, sebagai tamu dari Tuan eks-Asisten Residen.

Segala keperluan menuju negara pulau itu dipersiapakan. Perjalanan laut yang sangat panjang seolah memperpanjang jarak antara ia dengan Anna. Meski kenyataannya, perjalanan itu justru memperbesar harapannya untuk mendapatkan istrinya kembali.

Aku tak habis pikir, bagaimana secarik kertas bisa lebih berharga daripada kesaksian seorang Ibu kandung dan suami sahnya. Ah, betapa aturan itu terasa sangat wajar untuk berlaku dan diberlakukan. Dan memang benar, tak ada peradilan itu yang seadil-adilnya di dunia ini. Sebab tak ada yang betul-betul bisa paham, mana yang baik dan tidak. Manusia itu hanya meraba dan memilih kepada apa yang sudah menjadi keputusan mereka. Seperti halnya menjadikan selembar kertas lebih berharga daripada suara.

350 tahun bukan waktu yang singkat. Sendi-sendi pribumi telah digerogoti dan diganti dengan engsel-engsel pemikiran baru. Sehingga terpatri sebuah esensi diri pribumi yang kebelandaan. Meski sebenarnya pribumi memiliki pribadinya sendiri. Sebuah kebiasaan itu terjadi dan mewujud jika terus menerus dibiasakan. Sedangkan kemauan yang tinggi akan keilmuanlah yang akan mengekang segala gerak engsel itu kepada kecenderungan yang tak semestinya.

"Alhamdulillah, akhirnya tiket keberangkatan sudah berhasil aku dapatkan, Ma." Kata Minke beberapa saat lalu.
"Berangkatlah Nyo, Nak, Minke. Mama menunggumu di sini. Biarlah segala yang di sini, Mama urus. Sementara Mama akan pulang ke Sidoarjo."

Di sudut lain, kami duduk menyaksikan. Seolah di hadapan kami sedang ada syuting lanjutan kisah Minke. Dan saking khusuknya, kami tidak sadar bahwa Bunda sudah sejak tadi menggoyang bahuku.
"Mbak, sudah waktunya Sholat Shubuh." Kata Bunda seraya menepuk lembut pipiku yang tak juga tembam ini.

Perlahan aku membuka mata, menyadarkan diri di mana aku kini berada. Bukankah tadi aku masih duduk di ruang berdebu itu. Aku bersama dua sahabatku sedang menukar nyali untuk menyaksikan kelanjutan kisah mereka. "Astaghfirullah, ...." Buru-buru aku sadar, ternyata itu tadi hanya mimpi.


-arhana-
Kdr, 1/1/2020