Follow Me @arhana.handiana

@arhana.handiana

Rabu, 11 Desember 2019

Flipped: Penataan Cahaya yang Tepat

Desember 11, 2019 4 Comments

Identitas Buku

Judul : Flipped
Penulis : Wendelin van Draanen
Penerjemah : Sylvia L'Namira
Penerbit : Orange Books
Tahun Terbit : 2011
Cetakan ke- : 2
Tebal Buku : xi + 256
ISBN : 678-602-8851-80-0

Ulasan

Buku ketigaku selama mengikuti tantangan RCO. Sudah tahu kan RCO itu apa? Kalau lupa, boleh baca artikelku sebelumnya ya. Yang judulnya Super Writer: Menulis Buku Semudah Bernafas dan satu lagi berjudul Membentuk Karakter Lewat Cerita.

Tantangan di tingkat ketiga ini adalah membaca buku terjemahan. Bebas genre yang penting terjemahan. Ketika membaca aturan tantangan, jujur aku tidak pernah berspekulasi tentang tantangan apa yang akan diberikan panitia di setiap tahapnya. Aku hanya yakin bahwa di setiap tantangan itu, aku memiliki buku sesuai kriteria.

Termasuk pada tingkat ini. Beberapa judul buku melintas seperti slide iklan. Jalan pelan tapi lancar dan kontinyu sampai selesai. Kemudian diulang lagi dari bagian pertama. Judul buku yang melintas itu rerata adalah buku non-fiksi. 

Sebenarnya sih, aku lebih nyaman membaca non-fiksi ya. Tapi mengingat tantangan di RCO bukan hanya sekedar membaca, tetapi selalu ada tantangan pendamping yang tak kalah penting. Karena kalau tidak mengerjakan, konsekuensinya adalah tidak lulus tingkat. Maka, aku memilih buku yang menurutku ringan dan mudah dipahami.

Buku-buku terjemahan bagiku memang berat. Tak terkecuali. Bukan hanya dari bahasa tetapi juga plot. Akan lebih sering aku membaca ulang dari kalimat pertama untuk memahami maksud dari satu scane. Atau kalau misalnya non-fiksi, sering berhenti terlalu lama untuk memahami maksud satu kalimat. Nah, jadi dulu bagaimana dong saat harus membaca diktat dan referensi. Yang hampir semuanya adalah buku terjemahan. Itu lah uniknya, justru aku nenikmati mereka.

Bedanya apa dong?

Tentu saja berbeda. Buku terjemahan, sudah pasti merupakan peralihan bahasa. Yang kalau misalnya pengartian atau pengalihan bahasa itu tidak pas, akan sulit untuk bisa dipahami. Tapi, ya ada saja lho orang yang bisa sangat menikmati jamuan karya terjemahan ini.

Nah, untuk menumbuhkan rasa percaya diri bahwa aku mampu menaklukkan bacaan model ini. Maka, kuputuskan untuk memilih satu yang menurutku ringan. Semoga aku tidak salah pilih. Tentu saja, akan sulit menyelesaikan jika aku sudah salah memilih bacaan. Apalagi momennya juga tidak tepat. Akan makin kacau kesan pada buku tersebut.

Ok, setelah memilih bacaan. Kemudian aku harus menentukan momen. Supaya acara membacaku tidak terdistrak oleh sesuatu yang tidak perlu. Menikmati sampai tuntas tetapi juga memiliki kesan. Setidaknya pesan moralnya sampai.

Karena tugas kali ini adalah bercerita tentang kekhasan karya terjemahan. Maka, aku juga mengamati hal ini. Kemudian, aku pun menemukan sesuatu yang menakjubkan.

Flipped
Novel yang sangat membantuku untuk memulai menyukai karya terjemah. Bahasanya sangat familiar untukku terutama. Artinya, enggak kaku. Indonesia banget. Tapi, tetap seperti karya terjemah fiksi yang pernah kutemui sebelumnya. Bahwa mungkin ini adalah ciri khas yang menonjol dari sebuah karya.

Gaya penceritaan yang terpisah antarPOV. Masing-masing bab adalah milik POV-nya. Membuatku sedikit bingung dan kembali harus mengamati ini siapa yang berbicara. Tapi terlepas dari itu, aku seolah sedang mendengarkan Julianna dan Bryce bercerita.

Wendelin mengangkat persoalan dalam kehidupan remaja di Amerika dalam novel ini. Yang kemudian diterjemahkan dengan bahasa yang luar biasa enak dibaca oleh Sylvia L'Namira. Menjadikan novel ini sangat unik dan yang penting aku menikmatinya. Bukan hanya itu, bahasanya mungkin terlalu majas. Tapi, aku malah suka. Karena dari bahasa-bahasa kias itu kita bisa mencari analogi serupa dan memaknainya kembali dengan lebih luas.

Eum, iya. Gaya penceritaan Flipped itu menurutku seperti catatan harian. Dan gaya ini seringkali menghantuiku untuk segera melahirkan karya solo. Karena memang lebih dekat dengan style menulisku. Dan dengan banyak membaca ini, menjadikanku berpikir bahwa, tenyata bisa ko gaya seperti itu kita jadikan model menulis buku. Tinggal nanti bagaimana memoles naskahnya supaya enggak terkesan membagikan diary ke pembaca.

Aku pikir itu sih, ciri khas karya terjemahan. Mungkin kalian yang juga gandrung karya serupa, bisa ikut sharing di kolom komentar.

Terimakasih sudah membaca ulasan sederhana kelewat biasa ini. Semoga secuil penuturan ini bisa memberikan manfaat untuk kita semua.

Kdr, 11122019

Selasa, 10 Desember 2019

Secuil Kenangan

Desember 10, 2019 6 Comments
Ketika tulisan masih bau pensil, bermimpi menjadi seorang penulis produktif adalah sesuatu yang istimewa. Di antara jajaran kata-kata yang menurutku saat itu, hanya boleh dinikmati seorang diri. Tapi, bisa jadi itu adalah masa-masa pembuktian, masa-masa pencarian jati diri pun pengakuan. Kata seniorku sih begitu. Dan sekarang bukan lagi, tapi lebih ke aktualisasi diri. Begitu tambahnya. Sahabat PeKat bisa banget silaturahmi ke rumah virtualnya, untuk menambah bahan bacaan, pun belajar sastra dengannya. Di alamat https://kesatriakata.blogspot.com

Yaps, ini hanya lah sepenggal kisah yang ingin kuingat dan bagi. Bahwa, apa yang saat ini kupijaki, merupakan apa yang pernah kuimpikan. Dan ternyata benar, mimpi yang kita tulis, bisa jadi kenyataan. Entah bagaimana skenario Allah bekerja. Juga kapan waktu terwujudnya, meski semua itu tetap menjadi rahasia-Nya. Tugas kita hanya yakin, berdoa dan usaha. Percaya juga bahwa ketetapan-Nya adalah terbaik untuk kita.

Jadi, saat itu anganku hanya berkata bahwa nanti aku akan duduk di depan meja dan sebuah laptop di atasnya. Di samping ada jendela yang memberiku akses untuk menikmati indahnya gemerlap malam. Kecantikan malam yang bertabur bintang, dan aroma tanah yang berbaur dengan dedaunan menambah syahdu. Rasanya, aku percaya bahwa akan banyak ide mengalir dan jangkauan berbagiku lebih luas. (Baca: produktif menulis).

Saat itu aku belum mengenal blog. Media berbagi masih ada friendster dan facebook. Selain itu aku belum banyak mengenal, sekali pun sudah bisa dikatakan lancar berselancar di dunia maya. Eh, di belakang pada bisik-bisik ya? Generasi kapan ko ada friendster. Atau malah nanya, friendster itu sejenis apa. 😅 Sedikit saja nyuplik ya. Friendster itu dulu adalah juga sebuah situsweb serupa Facebook. Merupakan platform jejaring sosial.

Nah, sebelum kenal banget dengan blog. Dulu aku sempat aktif di sebuah halaman. Mungkin kalau sekarang Facebook group begitu ya. Namanya Kata -kata Indah Para Pujangga, kalau aku enggak salah ingat juga. Waktu itu memang lagi menikmati rangkaian kata-kata puitis, prosais dan sejenisnya. Apapun bisa dibagikan. Hanya saja, karena satu sebab dan pertimbangan mendalam. Akhirnya diputuskan bahwa aku harus berhenti.

Namanya mungkin juga ego masih tinggi sekali. Jadi, belum bisa betul-betul save energy atau bisa dikatakan terlalu sembrono. Saat itu, terjadi sedikit perselisihan yang bisa bikin aku benar-benar melek aturan. Benar-benar paham bahwa tulisan yang kita bikin, tetapi sudah kita bagikan ke publik. Maka, hukumnya akan berubah, jadi milik publik. Bisa dibayangkan, terlebih jika tulisan itu tidak berinisial. Dikasih inisal pun kadang masih diduplikat. Nah, apalagi kosongan. Bisa saja, sembarang pihak mengaku itu dari mana dan dari mana.

Akhirnya, sejak saat itu aku lebih save dengan tulisan-tulisan yang sudah selesai. Jarang mempublikasikan dan bisa dikatakan juga tidak pernah. Hm, ini masih perkara kecil sih. Kalau sekarang aku bisa saja mengatakan demikian. Mengingat, sekarang sudah marak buku bajakan. Maka dari itu, segala perjalanan ini membawaku jauh lebih bisa menghargai karya. Baik karya orang lain pun diri sendiri. Enggak mudah lho. 

Memulai untuk menghasilkan karya hingga finish, membutuhkan effort yang luar biasa. Sekalipun di mata kita hasilnya belum seberapa. Tapi itu bagian dari prestasi. Tanpa proses tersebut, tidak ada ceritanya Penenun Kata bisa ada di sini bersama kalian. Bener, enggak?

Perjalanan mimpi itu sangat panjang. Aku akui melelahkan. Tapi Allah selalu punya cara untuk mengembalikan energi yang hilang, entah karena lelah atau karena memang kita butuh recharge. Begitu juga diriku dengan dunia literasi. Mungkin hari ini aku masih sampai di sini. Ikut nebeng tulisan. Terus cetak bareng. Namanya antologi. Punya angan-angan nulis buku solo, meski jalannya masih setapak demi setapak. Belum bisa los kaya di tol.

Betul-betul tidak apa-apa. Kita punya target, tapi juga jangan sampai ninggalin kewajiban. Seperti apa misalnya? Pekerjaan, keluarga, dan prioritas yang memang berada di skala tertinggi. Hal-hal semacam ini, kadang bisa nulis sebentar saja sudah bisa mengembalikan mood. Menulis jadi semacam terapi akhirnya. Biar belum produktif untuk berbagi, setidaknya produktif bagi diri sendiri.

Dan, ya. Akhirnya aku berdiri di sini. Di antara kalian yang hebat dan luar biasa. Aku bisa menyerap energi positif. Berbagi sejumput ilmu yang Allah titipkan padaku. Dan belajar banyak-banyak dari ilmu yang ada pada diri kalian. Ini luar biasa tentu saja. Masyaallah ... Alhamdulillah ... Dan kemudian, salah satu kesyukuran itu wujudnya adalah ruang berbagi ini.

Semoga dengan begini, aku tidak terpenjara dalam badai tsunami informasi. Sebab apa yang sudah kita pelajari, sesungguhnya membutuhkan ruang untuk menjadi berdaya dan bermanfaat. Sehingga bukan dipelajari untuk diri sendiri, melainkan juga bermanfaat bagi lingkungan di sekitar.

Alhamdulillah, tsumma Alhamdulillah ....
Terimakasih kepada seluruh Sahabat PeKat yang diam-diam support aku dengan doa terbaik kalian. Semoga doa-doa itu juga kembali kepada yang mendoakan. Aamiin

Wallahu a'lam

Kediri, 10 Desember 2019

Senin, 09 Desember 2019

Menulislah, Setiap Hari

Desember 09, 2019 1 Comments
Sepertinya sudah sering kita membahas tentang writer's block. Tapi, kali ini aku lagi terpancing satu kalimat dari catatan lamaku. Bahwa menulis itu perlu setiap hari. Apapun kondisinya menulis tidak boleh tidak. Kenapa? 

Karena ketika buntu dan kita mengikuti kebuntuan itu, yang jadi adalah ketumpulan. Apa yang sudah kita asah sebelumnya, bisa jadi enggak tajam lagi. Ini kita bicara lain dari besi ya. Aku tidak ada pengetahuan tentang itu. Barangkali kalian akan menyangkal, bahwa besi-besi itu setelah diasah sekali pun disimpan lama, tetap awet tajam. Big no. Kita tidak membahas itu ya Gaes. Kalau mau menganalogikan, cari yang lain. hehehe

Jadi, meskipun sedang blocking, kita enggak bisa semena-mena mengikuti ketidakjelasan dari kebuntuan itu. Hehehe, ko semena-mena ya. Menurutku sih iya. Karena kita itu semacam menyia-nyiakan waktu yang bisa tetap produktif. Jadi, kalau lagi enggak jelas gitu tetap menulis saja deh. Tapi, nulisnya jangan di blog ya. Biar kegalauannya enggak terbaca publik. Tulis saja di diary, atau media digital lain yang tidak ter-publish. Supaya aura negatif itu cukup berhenti di tulisan yang kamu tuang itu tadi.

Kalau misalnya tetap buntu bagaimana? Yuk cari solusi bersama dengan membaca artikelku yang ini:
Di antara tulisan-tulisan itu aku menumpahkan segala gundah saat harus menghadapi kejerian akibat tidak mampu mengembangkan ide. Sekali pun aku juga sadar bahwa, tidak semua ide bisa berkembang selayaknya artikel atau opini yang bisa disampaikan. Tapi setidaknya aku tetap menulis dalam kesulitan-kesulitan itu. Dan tentu saja termasuk hari ini.

Sudah ya...
intinya hanya satu, apapun yang terjadi saat terhenti dari segala ide yang berkeliaran. Menulislah! Jika tetap tidak tahu apa yang ingin disampaikan, buat semacam mind mapping kalau itu tidak memberati. Kemudian jika tetap belum membantu, membaca, membaca, membaca, membaca, membaca, membaca, dan membacalah!

Selamat bereeksplorasi!

Kdr, 9122019

Dua Sisi Mata Uang

Desember 09, 2019 1 Comments
Sedih dan senang, dua hal berbeda yang saling bersanding. Seperti mata uang dengan dua sisinya.

Dua hal ini kata sahabat saya, tidak bisa dipisahkan. Artinya, kita tidak bisa memilih untuk sedih saja atau pun senang saja. Sebab semua sudah ada timbangannya, ada takarannya, ada ukurannya. Maka, mereka berdua adalah penyeimbang satu sama lain.

Keberadaan kedua emosi ini, seringkali menimbulkan gejolak. Di mana emosi sedih membawa gejolak dan badai negatif. Sedangkan emosi senang membawa energi positif. Jika kemudian kita menyadari akan adanya sistem keseimbangan ini. Maka yang perlu diperhatikan adalah bersedih dan senang lah sesuai ukurannya. Sebab keduanya akan hilang bersama dengan waktu.

Semua hal yang kita hadapi hari ini, tanpa kita sadari memiliki dua sisi yang tak terpisahkan. Yaitu kebahagiaan dan kesedihan. Entah sebabnya apa, namun memang keduanya ini saling bersisian. Dan, satu lagi karena tidak ada kesempurnaan atas diri makhluk. Itulah mengapa, kedua hal itu hadir saling mengisi dan menyeimbangkan.

Bisa jadi kebahagiaan kita hari ini adalah ujian yang tidak kita sadari, maka sudah sebesar apa kita mengingat-Nya sebagai manifestasi dari rasa syukur atas kebahagiaan tersebut. Sebaliknya, bisa jadi juga hal yang membuat kita sedih adalah pelajaran yang memang harus kita petik hikmahnya, supaya tak lekang ingatan kita oleh hal-hal yang membahagiakan.

Terlepas dari itu semua, sejatinya Allah sedang mengajarkan makna-makna kehidupan kepada kita. Mengirimkan sinyal-sinyal kasih sayang dan kuasa-Nya. Lalu, apakah kita sudah menyadari kehadirannya?

Seringkali saya sendiri lupa, dan memilih untuk lebih peduli pada rasa sedih yang tiba-tiba menyapa. Mestinya, saya paham bahwa ia hanya sekedar ingin menyapa saya. Yang artinya, tak lama ia akan berhadapan dengan saya. Tetapi, lelah justru lebih sering menggandrungi si sedih, sehingga pertemuan itu bukan hanya sekedar sapa melainkan cengkerama yang waktunya pun tak bisa dikatakan sebentar. Jika sudah demikian, langkah apa yang akan saya ambil. Apakah berdiam diri merupakan pilihan terbaik? Atau tetap bergerak dan sedikit demi sedikit menanggalkan pedih yang kian kentara.

Laa haula wa laa kuwwata illabillahil'aliyyil'adziimi

Kdr, 9 Desember 2019

Terbang, Menghilang

Desember 09, 2019 0 Comments

Aku sedang tak enak hati
Tulisanku berhamburan tidak tentu arah 
Mencurahkan seluruh isi hati 
Tapi ia tak mampu menyentuh palungnya

Aku risau
Mencoba berulangkali menjentikkan kata-kata
Yang keluar hanya hambar tanpa makna
Kurang jatuh dan mendalam

Aku ini harus bagaimana?
Aku membaca, tapi hatiku tak jenak
Makna bertaburan selayak dendelion yang kau tiup kencang 
Dan aku tak dapat menangkap apapun

Rasanya, aku ini seperti pecundang
Merasa besar tapi sebenarnya tidak ada apa-apanya
Merasa berisi tapi sebenarnya kosong tak bercelah Dan bisa jadi, aku masih saja berdiri di tempat yang sama

Dari aku yang sedang mengais benang-benang arogansi
Untuk menyulam selembut makna dari imajinasi
Supaya seimbang tak hanya suka menyalak negasi

Kdr, 9122019

Lihatlah Semuanya

Desember 09, 2019 5 Comments
Lukisan itu nggak hanya sekedar kumpulan gambar. -Flipped, hlm. 40-

Kutipan sederhana ini membawaku berkelana jauh ke masa enam tahun yang lalu. Di mana aku masih dikelilingi oleh orang-orang yang konsen pada kasus-kasus anak istimewa. Semua yakin bahwa kita harus bisa melihat secara keseluruhan. Bukan hanya bagian per bagiannya saja. Sebab itu sama seperti kita memahami sesuatu dari permukaannya saja.

Saat itu, aku mendengar tentang bagaimana mereka menerjemahkan siapa aku. Entah, untuk apa waktu itu, yang kuingat hanya samudera dan menara. Kita itu kalau mau memahami dan menerima lingkungan (baca: adaptable) maka jadilah samudera, bukan menara. Menjadi samudera itu berarti luas. Bukan hanya wawasan tapi juga hati. Ketika hati lapang, orang itu akan seperti padi. Padi, semakin berisi semakin merunduk.

Sebaliknya, menara itu menjulang. Tapi dia sendiri. Dan sulit menerima atau menggapai, apa yang ada di sekitarnya. Karena dia meninggi. Berbeda dengan samudera yang dianalogikan untuk orang-orang yang merakyat. Mereka memiliki wawasan luas, tetapi bisa merangkul semua kalangan. Maka, aku sering mendengar luaskan samudera, luaskan samudera, dan jangan tinggikan menara.

Tapi, menjadi diriku tantangannya berbeda. Aku lebih mudah melihat keseluruhan kondisi ketika berada di luar lingkaran. Dan masih sering terjebak arus, ketika berada di lingkaran itu sendiri. Maka, butuh waktu lebih untuk mengakhiri drama persoalan yang dihadapi.

Lalu, bagaimana dengan cuplikan novel di atas?

Ya, ketika tokoh utama menikmati keberadaannya di atas pohon. Dia merasa seperti di atas awan. Kalau aku bilang sih, seperti di menara mercusuar. Yang kemudian mengamati pergerakan kapal-kapal yang sedang berlayar. Dan dia sedang mengamati wilayah sekitar. Apa yang bisa dia rasakan, lihat, dan dengar. Maka, kesatuan dari penangkapan indera itu mewujud sebuah keajaiban.

Analoginya kalau dalam kehidupan sehari-hari adalah membiasakan diri untuk mengaktifkan seluruh indera. Aku pernah beberapa kali membaca kisah, bagaimana produktifnya seseorang ketika seluruh inderanya diaktifkan. Masyaallah, aku yang memang belum sampai pada titik ini, takjub dengan cara-cara mereka melewatkan waktunya dengan hal-hal yang memang produktif. Maka, ketika kita memerhatikan apa-apa yang kita lihat, dengar, dan rasakan. Hasilnya adalah kesatuan yang luar biasa. Dan di situlah kita seringkali menyebut bahwa itulah kuasa Allah. Yang kadang tak sampai nalar manusia. Masyaallah ...

So, yuk mulai belajar mengaktifkan seluruh indera yang telah Allah anugerahkan kepada kita. Syukur-syukur dapat membantu kita mengenali tanda-tanda kasih sayang dan kebesaran Allah.

Wallahu a'lam

Kdr, 9 Desember 2019

Kamis, 05 Desember 2019

Bulan Hujan

Desember 05, 2019 2 Comments
Bersama hujan, aku merenda kisah ini lagi...

Tadi sore, samar-samar aroma tanah basah memenuhi ruang indera. Bisa dipastikan hujan tengah dalam perjalanan menyambangi kotaku. Meski ribuan suara memintaku untuk segera pulang, aku masih bergeming. Meminta untuk menangguhkannya, sebentar saja. Bukan. Tapi ini rencana di luar duga. Aku masih duduk di sini sembari sesekali menghirup aroma basah yang terbungkus beragam aroma lainnya.

Aku masih di sini, menikmati bulan hujan bersama nyala dimar dan sesekali hembusan napas sang bayu menerpa wajah kuyu. Kupikir tidak mengapa, suasana ini sejenak saja mengusir penat yang sejak tadi sudah menggelayut manja di bahuku. Mungkin malam ini akan menjadi malam pertamaku bercengkerama dengan dingin dan suasana haru.

Di sini tidak ada cokelat hangat, meski pun sejak tadi aroma-aroma itu menggodaku. Mungkin saja hanya delusi. Sebab hujan selalu membawa cerita baru. Cerita tentang rinduku yang melimpah dan seringkali tumpah. Kali ini ia kuyup dan terserak seperti terhempas dan pecah menjadi kepingan, bersama hamparan debu yang kadang menempel sebentar lalu menghilang.

Kepingan basah itu perlahan merambati hati yang kian ngilu. Entah akan berapa lama aku membutuhkan waktu untuk memungut puing teka-teki-Mu.

Bersama hujan di malam yang baru, aku menitipkan sebait rindu. Mungkin setelah reda nanti, kau sempat singgah untuk memungut titipanku. Bisa jadi ia akan menemuimu di antara pinta dan sela rindu.


Dan,
aku masih di sini. Menikmati bulan hujan, bersama rindu yang mengasap bersama aroma cokelat hangat hasil seduhanmu.

Kediri, 5 Desember 2019